Ta.

It's all about lifestyle in a city

PR KELOLA SAMPAH: PEMDA, BELAJARLAH DARI IDE ZERO WASTE CITIES

Kondisi Tumpukan Sampah TPA Benowo, Surabaya

Sumber foto: Andy Satria/Radar Surabaya


Bicara sampah, saya selalu ingat novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Bayangan akan gunungan sampah di TPA dengan berbagai macam bau menyengat hadir saat membaca novel itu. Pada satu bagian, saya bahkan ingin ikut muntah saat membayangkan bau menusuk dari kol busuk. Dan menarik napas lega saat Dee menuliskan bau manis sekaligus segar dari kulit mangga. Sampah hingga kini masih menjadi fokus utama dalam penataan kota, sehingga memerlukan kesungguhan dalam pengelolaannya.

Pengelolaan sampah, sebuah tantangan mengendalikan hasil produksi ‘barang’ yang tak diharapkan, namun sayangnya lekat dengan kehidupan. Produksi ‘barang’ ini bagi sebagian besar masyarakat dianggap tidak memiliki added value dan sebaliknya menimbulkan banyak macam persoalan seperti bau busuk, sarang berbagai penyakit, dan mencemari pandangan. ๐Ÿ˜ฅPada kondisi eksisting, praktik pengelolaan sampah menemui kendala yang tak sedikit, salah satunya kesadaran. Baik kesadaran masyarakat maupun kesadaran pemerintah.

Layaknya perdebatan ayam dan telur, pengelolaan sampah menimbulkan perdebatan panjang, siapakah yang akan memulai lebih dulu. Atau menyisakan tanya, siapa yang bertanggung jawab untuk mengelola? Pemerintah-kah? Atau masyarakat? Pada sisi masyarakat, ada yang bilang, “ya itu urusan pemerintah kan sudah bayar pajak!” Senada, pada sisi pemerintah hanya mengandalkan business as usual, “yang penting kita mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah setiap tahun.”

Padahal, tidak! Tidak demikian. Pengelolaan sampah harus dilakukan bersama-sama, bersinergi antar para stakeholder karena proses satu dan lainnya berkaitan. Namun tentu saja, sudah ada porsi masing-masing dalam partisipasinya mengelola sampah. Walau demikian, dalam hal ini pemerintah memiliki tanggung jawab paling krusial dari setiap proses pengelolaan sampah. Pemerintahlah yang memegang kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah pada suatu daerah.

kelola sampah tanggung jawab pemerintah
Sampah menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Saya ingat saat menjadi tenaga ahli pengesahan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR) sebuah kabupaten baru, pemerintah daerah kebingungan saat diminta menentukan letak TPS dan TPA yang sama sekali belum mereka miliki. Di lain waktu, saat menyusun dokumen teknis Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), pemerintah daerah tak bisa memberikan keputusan lahan mana yang akan digunakan sebagai TPA, padahal pemerintah provinsi melalui PERDA RTRW Provinsi telah mengamanatkan pembangunan TPA Regional di daerah tersebut. Percaya tidak, persoalan semacam ini menjadi PR hampir di seluruh kabupaten/kota di Indonesia?


Tak berhenti di soal TPS dan TPA, ada segudang masalah yang ditimbulkan dari sampah dan menjadi kewajiban pemerintah sebagai decision maker untuk mengatasinya. Apa saja?
  1. Timbunan sampah terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk
  2. Anggaran yang dibutuhkan untuk pengelolaan sampah cukup besar
  3. Banyak masalah turunan yang diprakarsai oleh sampah, seperti saluran tersumbat sampah dan dapat menyebabkan banjir, kebersihan sungai terancam, laut tercemar, masalah kesehatan, pencemaran air bersih, keseimbangan lingkungan terganggu, dll
  4. Kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk mengelola sampahnya sendiri
Kita sadar, masalah yang begitu kompleks dapat diciptakan dari ‘barang’ bernama sampah. Ada jutaan kubik sampah yang menjadi beban suatu daerah. Dari berbagai jenis sampah, sampah yang setiap hari pasti “diproduksi” adalah sampah domestik rumah tangga. Di Kota Surabaya misalnya, sampah rumah tangga menduduki peringkat atas dibandingkan sumber sampah lainnya dan lebih dari setengahnya adalah sampah organik.

IKPLHD Surabaya

Tak beda jauh dengan Surabaya, saya rasa mayoritas sampah di daerah lain juga sampah yang berasal dari rumah tangga, dengan komposisi tertinggi adalah sampah organik. Mari kita lihat Jakarta. Karena saya tidak punya sumber resmi IKPLHD Jakarta, coba tilik infografis yang dibuat oleh House Infographics berikut ini.

data timbunan sampah Kota Jakarta
Catatan: infografis ini disunting pada bagian data saja, selengkapnya silahkan akses di sini.

Kita bisa lihat bahwa Kota Jakarta dengan beragam kegiatan dan aktivitasnya, termasuk industri dan perdagangan pun demikian, sampah organik lebih banyak dibandingkan jenis lainnya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah penduduk berbanding lurus dengan jumlah timbunan sampah. Semakin banyak penduduk maka sampah yang dihasilkan juga semakin menggunung. Maka pemerintah perlu aktif menekan sampah yang bersumber dari rumah tangga, terutama sampah organik.

kelola sampah sendiri
Bagaimana caranya? Ada banyak cara.

Salah satunya dengan daur ulang, memanfaatkan barang yang bisa digunakan kembali. Tahu tak, sisa-sisa sayur yang biasa dimasak bisa didaur ulang lho! Saya sendiri telah membuktikannya. Yaitu dengan menanam akar daun bawang dan akar daun seledri. Memang, beberapa jenis sayuran bisa kita tanam kembali. Buka saja tutorialnya di YouTube. Berbekal ilmu dari YouTube, saya coba menanamnya dengan pot daur ulang pula.

Kadang, tetangga atau sanak famili mengirimkan nasi dengan bakul berbahan plastik. Bakul itu setelah dipakai empat/lima kali biasanya sudah rusak. Maka bakul itulah yang saya jadikan pot. Hasilnya? Baru beberapa hari tanam sudah subur.๐Ÿ˜๐Ÿ˜ In my honest opinion, pemerintah bisa menyosialisasikan hal-hal semacam ini. Agar sampah organik dari dapur lebih ‘sedikit’ bisa terkendali.

daur ulang tanaman sayur

Cara yang kedua adalah memilah sampah. Sebenarnya cara ini cukup banyak dilakukan oleh masyarakat. Sayang belum ada arahan dan mekanisme yang jelas. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan akhirnya mengendurkan semangat memilah sampah. Misal, masyarakat telah melakukan pemilahan sampah organik dan non organik. Namun sampah yang sudah dipilah itu, saat diambil oleh tukang sampah dituang pada satu bak angkut yang sama alias dicampur kembali.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah melihat dokumenter tentang sampah di salah satu stasiun TV swasta. Dalam dokumenter itu, seorang wanita mengatakan bahwa pengangkutan sampah menjadi kunci yang penting. Karena menurut pengalamannya, para ibu rumah tangga sudah memisahkan sampah, namun saat diambil oleh tukang angkut sampah, sampah yang sudah dipisahkan dimasukkan pada bak yang sama. Jadi usaha pilah sampah digagalkan saat itu juga. Kondisi itu membuat semangat pilah sampah memudar. Akhirnya para ibu males pilah sampah lagi, dong!

Nah disinilah pentingnya intervensi pemerintah. Perlu kesadaran bahwa petugas angkut sampah dari rumah ke rumah memiliki peran penting, sebagai garda terdepan dalam siklus kelola sampah. Untuk itu pemerintah bertanggung jawab membuat mekanisme teknis dan arahannya.

Apabila daur ulang dan pemilahan sampah berjalan di kawasan masing-masing (lingkup RT, RW, Kelurahan/Desa) bukan tidak mungkin sampah rumah tangga berkurang dan tak perlu menjadi beban TPA.

ide zero waste cities
Saya yakin, saat mendengar kata daur ulang dan pemilahan sampah, ada saja nada sumbang, “apa iya cara itu bisa dilakukan?” Tenang. Keraguan memang bisa saja muncul. Untuk menjawabnya, kita perlu bukti nyata. Tentang program pemilahan sampah, di Indonesia ada contoh gemilang yang sudah berjalan. Adalah Zero Waste City, sebuah program yang ide utamanya adalah mengelola sampah di lingkup kawasan dengan memilah sampah rumah tangga. Main goals ZWC, begitu sebutan khasnya, adalah mengurangi tumpukan sampah di TPA.

Program Zero Waste Cities dijalankan oleh teman-teman dari YPBB (Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan) yang didukung oleh USAID. Saat ini telah dilaksanakan pada 2 kota dan 3 kabupaten di Jawa Barat. Kota/kabupaten yang dimaksud meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta. Dari seluruh kawasan, kini telah ada 2 kelurahan model yang tidak hanya didukung teknisnya, namun juga di-support sebagian pendanaannya, yaitu Kelurahan Sukamiskin dan Kelurahan Cihaurgeulis.

Program ZWC sendiri tidak hanya didampingi oleh YPBB, melainkan juga telah berkolaborasi dengan stakeholder lain di luar Jawa Barat. Di Kota Denpasar yang didampingi oleh PPLH Bali dan Kabupaten Gresik yang didampingi oleh Ecoton. Baik YPBB, PPLH Bali juga Ecoton sama-sama mendampingi masyarakat dalam menjalankan kegiatan pengelolaan sampah dari kawasan. Penasaran bagaimana proses yang dilakukan tim YPBB? Silakan simak video dari tim ZWC berikut.


Jika kita perhatikan, prosesnya sangat sederhana bukan? Namun saya yakin, praktiknya tidak sesederhana itu. Ada berbagai macam kendala yang dihadapi saat terjun langsung ke masyarakat, seperti susahnya berkoordinasi dengan petugas pengangkut sampah. Beberapa petugas angkut sampah awalnya menilai bahwa mereka perlu bekerja extra dengan memisahkan bak sampahnya, plus gaji mereka dinilai tidak sesuai untuk protokol pilah sampah ZWC ini.

Menemui kendala-kendala di lapangan tidak menyurutkan tim YPBB untuk terus mendorong program pilah sampah dari kawasan ini. Beberapa model pendekatan dilakukan, misal melalui Pak RW, masyarakat yang vokal di lingkungannya juga dengan cara lainnya. Dan terbukti berhasil di beberapa kawasan.


Minggu lalu, dalam Talkshow Zero Waste Cities bertajuk "Cegah Tragedi Leuwigajah Terulang", perwakilan dari YPBB, Teh Anilawati Nurwakhidin menyampaikan pentingnya kerjasama dengan pemerintah dalam proses pilah sampah dari kawasan ini. Karena dengan adanya arahan dari pemerintah, proses menggerakkan masyarakat sebagai pelaku utama akan jauh lebih mudah. Pemerintah daerah harus terbuka dengan hal semacam ini.

"Kalau mau naik motor tentu pakai helm, bukan karena sadar takut kecelakaan, tapi takut ditangkap polisi," begitu Teh Anil mengibaratkan. Sama dengan program pilah sampah ini, kalau aturan sudah mengikat, maka mau tidak mau masyarakat melakukannya, bukan?

zero waste cities di Kota Bandung
Kalau beberapa kota/kabupaten sudah melakukannya, tentu ada kemungkinan program ZWC ini dapat dijalankan pula oleh kota/kabupaten lain di Indonesia. Pertanyaannya, mau atau tidak? Itu saja.

Baik, tak perlu dijawab dulu. Untuk memberi gambaran, video dari Kota Bandung berikut bisa menjadi referensi dalam mengelola sampah, terutama dari kawasan, sambil berfikir ulang apakah program pilah sampah ini worth it dilakukan.  


Sebagai urban planner, saya berpendapat bahwa bila dilakukan, pilah sampah dari kawasan ini akan berdampak positif pada daerah, seperti:
  1. Sampah yang dibawa ke TPA berkurang. Dan kalau boleh bermimpi, setelah sampah bisa berkurang, kebutuhan perluasan lahan TPA juga bisa ditekan. Sekarang, siapa sih yang mau di sekitar lokasi rumahnya ada TPA? Selain itu, pemerintah tentu tak ingin peristiwa meledaknya TPA Leuwigajah terjadi di daerahnya.
  2. Kebersihan kota meningkat. Saya akan menambahkan konteks begini, Kota Surabaya pernah melakukan inspeksi gorong-gorong untuk mengatasi banjir. Di beberapa sudut kota, drainase kota menjadi sarang sisa makanan seperti bakso, soto, rawon, dll. Oknum penjaja makanan ada yang membuang sisa-sisa makanan pelanggan di lubang drainase sekitar lapak mereka. Alhasil, lemak makanan itu lama mengendap dan menjadi kristal besar, sehingga menyumbat air dan menyebabkan genangan. Jika mengadaptasi konsep ZWC, setidaknya beberapa masalah kota sekaligus bisa dikendalikan.
  3. Kebijakan sistem persampahan, baik di RTRW, RDTR maupun rencana sektoral pengelolaan sampah bukan hanya sekedar blue print atau di atas kertas saja, namun benar dijalankan dan bermanfaat bagi kota/kabupaten secara umum.
  4. Menghemat anggaran pengelolaan sampah. Dari berbagai sumber, saya coba mencari berapa anggaran yang dikeluarkan Pemerintah DKI Jakarta untuk mengelola sampah. Dari katadata.com, anggaran pengelolaan sampah DKI Jakarta 2019 sebesar Rp 3,7 triliun. Ah itu kan Jakarta. Baik, mungkin Jakarta tidak bisa dibandingkan dengan kota/kabupaten lain. Bagaimana kalau tempat saya tinggal, Kota Surabaya? Dari kompas.com, anggaran yang dikeluarkan Kota Surabaya untuk mengelola sampah pada tahun yang sama adalah 160 Miliar. Bukan angka yang sedikit! Kalau mengelola sampah di tingkat kawasan bisa mampu mengurangi beban anggaran, why not

Untuk dapat mewujudkan poin-poin positif diatas, maka pemerintah perlu menumbuhkan partisipasi masyarakat, juga pihak-pihak yang terlibat seperti pejabat tingkat kawasan (RT, RW) bahkan tukang sampah, dengan aturan yang lebih mengikat. Secara rinci, beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah, mencakup:
๐Ÿ‘‰ Buat kajian teknisnya, baik itu mekanisme dan teknis pelaksanaannya, anggarannya, penyediaan sarana prasarananya, porsi tugas masing-masing pelakunya secara spesifik baik dari tingkat makro (daerah) hingga tingkat mikro (rumah tangga).
๐Ÿ‘‰ Buat kebijakannya. Seperti yang tadi sudah disinggung diatas, kebijakan ini penting untuk lebih dapat mengikat. Sebagai contoh, Kota Bandung dan Kota Cimahi sudah membuat aturan tentang Pengelolaan sampah yang telah disahkan melalui peraturan daerah (akses disini untuk Kota Bandung dan disini untuk Kota Cimahi).
๐Ÿ‘‰ Mengatur intensif dan disintensif. Misal memberikan intensif pada para tukang sampah.
๐Ÿ‘‰Lakukan monitoring evaluasi tahunan. Bisa dengan dikemas dalam lomba antar kawasan (misal kelurahan), seperti Surabaya yang beberapa tahun terakhir menerapkan program Lomba Green and Clean untuk mendorong kebersihan kota.


Kita sama-sama tahu, bahwa ini tidak mudah. Kita tahu bahwa kegiatan berbasis partisipasi masyarakat tidak dapat serta-merta copy-paste begitu saja. Karena sebagai decision maker, kita paham karakteristik kawasan satu dengan kawasan lain berbeda. Pun kota ini dan kota itu tidaklah sama. Namun pemerintah harus bersiap dengan segala kemungkinan dan bergerak pada solusi-solusi yang bisa ditawarkan. Bongkar pasang kegiatan dapat dilakukan, ambil-tiru-modifikasi (ATM) kegiatan juga bisa menjadi awalan. Asalkan tidak melanggar undang-undang. Karena, kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi?


Share:

Siasati Besar Pasak Daripada Tiang Bagi Freelancer

Siasati besar pasar daripada tiang bagi freelancer
Sumber foto: ntask manager

"If you buy things you don't need, soon you will have to sell things you need." - Warren Buffet.

Apa kamu pernah mengalami, hari ini gajian tapi nggak sampai seminggu sudah ludes? Sebagai freelancer, saya pernah mengalaminya, ya walau tidak dalam jangka waktu satu minggu sih. Tapi tetap saja, saya pernah menghabiskan uang padahal belum ada transfer fee dari project lain yang sudah berjalan. Kalau kamu juga pernah, saya bisa bilang, kita dalam keadaan gawat. Kenapa? Ya karena itu tandanya kita belum sepenuhnya bisa mengatur keuangan kita.

Kondisi ini bisa jadi bom waktu yang bisa meledak kapanpun dan membakar hidup kita.๐Ÿ˜ž Admit it, tanpa uang kita nggak akan bisa hidup dengan bebas. Karena hampir semua lini kehidupan butuh cuan. So, walaupun kita tidak punya pekerjaan tetap alias freelancer, wajib hukumnya bagi kita untuk mengatur keuangan. Agar tak merasakan perihnya kondisi "besar pasak daripada tiang".

To be honest, saya juga masih belajar sih tentang mengatur keuangan ini. Karena ilmu ini nggak pernah diajarkan secara khusus waktu sekolah dulu. Tapi justru jadi 'life hack' paling dibutuhkan untuk hidup pasca-sekolah. Dan untuk bidang satu ini, saya punya beberapa rumus yang coba saya terapkan beberapa tahun terakhir. 

Tips 1: Nabung, Nabung, Nabung!

Mari menabung sebelum buntung. Menabung, terdengar klise ya? Tapi nasehat orang tua ini sangat berguna dalam mengatur keuangan. Saving bisa menyelamatkan kita pada saat-saat tertentu. Kalau memang belum bisa nabung banyak, tak masalah nabung sedikit. Nanti lama-lama jadi bukit, kan?


Tips 2: Hindari Paylater

Paylater? Duh jauh-jauh deh! Fitur Paylater sekilas memang memudahkan. Tapi jangan terlena, fitur itu bisa jadi jebakan yang menggiring kita ke kondisi besar pasak daripada tiang.

Kenapa saya bilang begitu? Karena di kehidupan nyata, saya sudah ketemu contohnya.Ada seseorang yang saya kenal, dia biasa memakai Paylater di online market. Lalu saking banyaknya dia tidak bisa bayar dan jumlahnya lebih dari penghasilannya yang tidak pasti, akhirnya dia kelilit hutang.

Mungkin ada yang berfikir, sebenarnya menggunakan Paylater tidak jadi soal, asal menggunakannya dengan baik. Memang, tapi kalau kata saya mah, hindari selagi bisa! Hindari saat masih mungkin! Segera lepas kalau baru masuk.

Memang, dalam kasus ini, kontrol diri itu penting. So, tips nomor 3 adalah tahu batas diri.


Tips 3: Tahu Batas Diri

Beli ini dan itu, wajar kok! Serius! Kamu mau beli motor atau mobil? Kamu mau jalan-jalan ke Raja Ampat, Derawan atau Wakatobi sebulan sekali? Atau bahkan mau umroh dan haji? Namanya juga manusia, sangat manusiawi kalau "aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali". Eits tapi, harus tahu batas diri.

Batas diri yang dimaksud disini adalah jangan sampai pengeluranmu melampaui batas penghasilanmu. Banyak pakar keuangan yang memberikan ilmunya. Salah satunya, Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management melalui laman kompas.com. Kamu pernah dengar prinsip 10-20-30-40? Angka itu adalah angka persentase untuk membagi penghasilan agar penggunaannya terkontrol. Rinciannya adalah 10% untuk kebaikan, 20% untuk masa depan, 30% untuk cicilan dan 40% untuk kebutuhan.

Menurut saya, kebutuhan kebaikan bisa diartikan sebagai sedekah, memberi orang tua, keponakan, dll. Masa depan tentu saja untuk kebutuhan di masa mendatang. Untuk cicilan, kalau kita tidak punya cicilan bisa dimasukkan ke pos masa depan dan sebisa mungkin jangan dimasukkan pada kuota kebutuhan. Dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari yang perlu kita kelola secerdas mungkin. 

Kalau kamu punya versi penyisihan sendiri tak masalah kok. Asal sudah seimbang ya! Eh boleh juga kalau mau diceritakan di kolom komentar, biar kita sama-sama belajar. :)


Tips 4: Play Hard Smart, Work Hard Smart 

Play hard, work hard? Ah, sudah nggak jaman. Sekarang apapun harus mengaktifkan smart mode. Kita bukan romusa, sesekali kita boleh jalan-jalan, dan sesekali boleh makan-makan enak. Tapi tetap harus cerdas-cerdas merencanakannya. Jangan sampai kita main terus atau belanja terus tanpa memperhitungkan keuangan ya. :)


Well, itulah tips-tips menyiasati keuangan bagi freelancer seperti saya. Ada tips terakhir sih sebenernya, yaitu "you know yourself more than anyone else", jadi percaya sama diri sendiri aja kalau kamu bisa ngatur keuanganmu sendiri walau tidak ada uang masuk setiap bulan. Dengan begitu, kita tak akan merasakan yang namanya besar pasak daripada tiang. :)

Share:

Pengalaman Mandi Gratis di Bandara KLIA Malaysia

Pengalaman di KLIA

Tanggal 6 Februari 2020, Kilas Balik - Pengalaman Mandi Gratis di Bandara KLIA Malaysia. Malam itu aku melenggang dengan koper ditangan kananku menuju bus stop KL Sentral. Sebelumnya, kira-kira pukul 8 malam, aku bicara pada staf hotel di meja receptionist. Aku menanyakan, jika naik bus dari KL Sentral menuju KLIA, pemberhentian pertama apakah KLIA dulu atau KLIA 2 dulu. Karena aku menggunakan Saudia, maka aku perlu menuju KLIA Terminal 1. Ternyata bus akan mengantar penumpang ke terminal 1 terlebih dahulu. Oh, baik, berarti aku akan turun di pemberhentian kedua, begitu pikirku. "Loh kok? Bukannya sudah benar turun di KLIA 1, Ta?"

Iya benar. Karena aku mau mandi dulu, hehehe. Terakhir mandi pagi jam 9, biar segar dan tidur nyenyak di penerbangan, kuputuskan untuk mandi dulu. Sayangnya, di KLIA Terminal 1 belum ada fasilitas mandi gratis. Adanya di KLIA Terminal 2. Jadi aku turun di terminal 2.

Ini adalah pengalaman pertama mandi di bandara buatku. Di Indonesia, tepatnya di Soekarno Hatta Terminal 3 juga ada fasilitas mandi gratis ini. Namun bagiku, letaknya cukup mudah dijumpai. Berbeda dengan di KLIA Terminal 2 ini. Karena baru pertama kali, aku cukup meraba-raba sih. Awalnya, aku mencari informasi di forum jalan-jalan Backpacker International. Dan diinfokan untuk fasilitas mandi gratis di KLIA ada di dekat KK Mart dekat konter check-in.

Saat turun dari bus dan masuk ke area KLIA Terminal 2, aku melihat KK Mart disana. Tepat di lantai dasar itu. Lalu aku cari di sekitar itu, tapi ternyata tidak ada tulisan Tandas alias Toilet. Aku lupa kalau waktu baca info di forum itu, lokasi KK Martnya bukan di lantai 1 itu. Lalu aku sempat menanyakan ke petugas, dan dia menjawab, "tidak ada disini, adanya di hotel itu." Ya, di lantai itu ada beberapa hotel bandara yang kita bisa mandi juga beristirahat, namun berbayar alias tidak gratis tentu saja.

Setelah itu aku coba tanya teman yang sudah pernah, dia bilang dekat tempat check-in, tapi lupa lantai berapa. Yasudah akhirnya aku berjalan mencari tanda konter check-in. Bahkan sempat buka google maps. Setelah berjalan akhirnya aku lihat banyak konter check-in domestik di lantai 3. Cepat-cepat aku mencari KK Mart, and got it. Betul sekali, disamping KK Mart itu ada tulisan toilet. Lalu aku masuk dan alhamdulillah menemukan pintu-pintu kamar mandi, lengkap dengan gambar shower sebagai petunjuk kalau memang bisa mandi disana. Sorry saya tidak sempat mengambil gambar apapun, karena tidak ingin mengeluarkan HP atau kamera waktu itu. Plus lelah sekali buat sekedar ambil foto.

Pengalaman mandi di KLIA

Jadi patokannya kalau kita ingin mandi gratis di Bandara KLIA Malaysia adalah:

๐Ÿ‘‰menuju ke Terminal 2 KLIA

๐Ÿ‘‰naik ke Lantai 3, bagian check-in counter Domestic Flight

๐Ÿ‘‰cari KK Mart (warna kuning atau orange, saya lupa) di ujung belakang, yang disampingnya ada tanda toilet 

Oke. Sudah ketemu tempat mandinya. Lalu aku sedikit mengamati keadaaan. Ada 3 kamar mandi (atau 4 ya, aku lupa), dengan shower diatasnya. Tapi bagian paling kanan pintunya rusak. Waktu itu aku bawa koper dan tas, dan tentu saja sendiri. PR banget nih, tidak ada yang jagain koper. Yaudah bismillah aku pikirku, koper aku taruh di kamar mandi yang rusak itu, biar tidak menghalangi jalan. Lalu tas aku bawa masuk ke kamar mandi, ada 1 gantungan yang bisa dipakai untuk menggantung. Setelah mandi selesai, aku keluar, koperku utuh dan aman-aman saja. Alhamdulillah.

Oh, di dalam kamar mandi khusus wanita itu, ada 2 petugas waktu itu sedang bercakap-cakap dengan Bahasa Melayu. Setelah aku selesai dan pindah ke depan kaca buat benerin hijab, disapa sama beliau, ramah kok, "segar ya dek mandi malam-malam." Kalau dalam Bahasa Indonesia begitulah kira-kira kata beliau. Dan di kamar mandi paling kiri waktu aku datang juga sedang dipakai mandi, dan dia selesai lebih dulu.

Well, begitulah pengalamanku mandi gratis di KLIA. Selesai, lalu aku keluar dan kembali ke bus stop lagi, buat nunggu suttle bus antar terminal. Dan ternyata tidak sampai 5 menit, bus datang, lalu aku masuk deh menuju terminal 1.

Baca juga: Highlight Perjalanan 'Umroh Backpacker?'

-

Tanggal 6 Februari 2020, Kilas Balik - Kisah Bodoh dan Lucu di Stasiun. Kisah ini aku bagikan di postingan akun facebook sebelumnya. 

Apa yang aku alami setahun lalu bagaikan obat. Saat dalam keadaan limbung, saya mengingatnya. Saat sedang tidak tahu harus berbuat apa, aku mengenangnya. Dan salah satu hal terbaik yang pernah kulakukan, makanya diingat. Ada kisah lucu, menarik, unik, dan kisah lainnya.

Kali ini aku akan menuliskan kisah hari terakhirku di Kuala Lumpur. Hahaha setiap kali mengingatnya, aku tertawa. Menertawakan kebodohan yang tidak disadari. Memang benar kata orang dahulu, kebodohan (jahiliah) itu bahaya sekali.

Hari itu hari terakhir aku di KL sebelum bertolak ke Istanbul, di tanggal 7. Flight dini hari dari KLIA menuju IST Airport, kalau tidak salah ingat jam 3 pagi, tapi sejak jam 1 malam sudah sibuk di Gate check in.

Hari sebelumnya, aku keluar hotel pukul 10an. Aku hanya pesan kamar hingga siang itu, yang artinya aku punya lebih dari 12 jam untuk -tidak tahu untuk apa- explore kota. Aku meninggalkan koper di hotel, lalu aku keluar. Banyak tempat yang kudatangi sampai sore hari, hampir maghrib, aku berniat kembali ke hotel untuk ambil koper.

Sore itu, terakhir, aku berada di sekitar area KLCC Tower. Mengamati street art yang dipasang sepanjang jalan -kenangan- hehehe. Begitulah sampai aku memutuskan untuk kembali ke hotel dan berjalan ke stasiun LRT terdekat. Hotel yang kutinggali sebelumnya ada di KL Sentral.

Sampai di LRT, aah iya waktunya jam pulang kerja. Banyak orang, tapi tertib, rapi dan mau antri. Akhirnya aku masuk setelah 2 kereta dengan rute ke arah Putra Heights lewat dan penuh. Kereta yang kunaiki pun penuh. Aku berdiri sepanjang perjalanan, sambil mengamati info pemberhentian stasiun. Sampai tersadar aku kelebihan 2 stasiun. Seharusnya aku turun dan pindah kereta, hehehe. Sempat berfikir, aku lanjutin sampai ke Putra Heights aja deh. Eh tapi nanti makin lama, yasudah aku turun.

Selepas turun aku ikut keluar stasiun, dengan pikiran kalau LRT ke arah sebaliknya bisa diakses lewat pintu lain. Lalu aku keluar stasiun, mencari cara bagaimana menuju ke seberang. Tidak mungkin kan, aku loncat diatas rel hahaha. Lalu ketemu jalan kecil, yang literally adalah terowongan dibawah rel. Sewaktu berjalan, ada seorang perempuan yang dari fisiknya aku mengenali kalau beliau keturunan India. Beliau menyapa-ku dan menanyakan mau kemana. Lalu kujawab kalau aku mau ke KL Sentral jadi aku perlu menuju ke pintu stasiun arah sebaliknya. Eh ternyata salah dong. Ah alhamdulillah, makasih akak! 

Setelah diterangkan, aku ikuti sarannya dan sampai deh. Ketika aku sampai di line arah ke KLCC lagi, aku haus banget. Gara-gara tadi jalan cepet biar nggak ketinggalan kereta. Lalu aku ambil botol minum di tas meminumnya. Saat itu stasiun tak ada satu orang calon penumpang pun kecuali aku, hahaha. Setelah minum, belum juga kembali memasukkan botol ke tas, ada suara dari segala arah, melalui speaker. Dalam bahasa Indonesia, intinya suara lelaki yang aku dengar mengatakan "mohon tidak makan dan minum di area stasiun." hahahaha

Wuh maluu uuu. Karena tak ada seorangpun disitu dan aku masih pegang botol minum, sangat-sangat jelas pesan itu ditujukan buat aku seorang. Kocak, hahaha. Aku tahu sih makan/minum di dalam transportasi publik tidak boleh. Tapi kalau di area stasiun baru kali itu aku tahu hahahaa bodoh kali kau nak!

~

Btw, setelah semuanya mulus hingga aku sampai di bandara KLIA kurang lebih jam 10 malam, aku lantas mandi di bandara. Fyi, mandi di bandara (secara gratis) sekarang mudah dijumpai. Tapi informasinya tidak banyak. So aku putuskan untuk menulis info mandi gratis KLIA itu di blog aku. Monggo..


Share:

Apa yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Umroh?

apa yang perlu kamu tahu sebelum umroh

Sebagai muslim, mengunjungi Baitullah adalah impian. Pun bagi saya. Saya selalu bersyukur diberi kesempatan untuk mengunjungi Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tahun lalu. Dan kini, saya masih berharap dan terus berdoa pada Allah agar bisa mengunjunginya lagi, entah untuk berhaji maupun berumroh lagi.

Untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan diri mengunjungi tanah suci, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu sebelum berangkat umroh. Ini sudah dibahas dibanyak tempat, tapi bagi saya, pengalaman saya yang berkesan waktu itu, membuat saya ingin membagikan hal-hal penting untuk kita ketahui sebelum umroh. Biar nggak clueless aja. :)

Catatan: Artikel tentang apa yang perlu diketahui sebelum umroh ini cukup panjang. Kalau belum sempat baca semua, boleh di bookmark dulu kok

2 Kali Adzan Subuh di Masjid Nabawi

Betul, tidak seperti kebanyakan masjid di Indonesia atau di banyak negara lainnya. Masjid Nabawi mengumandangkan adzan subuh 2 kali, dengan jeda -kurang lebih satu jam. Untuk di Masjidil Haram saya lupa apakah 2 kali atau tidak. Namun ada yang mengatakan, adzan subuh di Masjidil Haram juga 2 kali. 

masjid madinah di malam hari

Ada kisah unik waktu saya di Madinah. Saat itu saya sekamar dengan teman saya. Selepas isya, saya langsung balik ke hotel, tidak seperti teman saya yang mengantri untuk masuk Raudhah hingga malam. Saya langsung tidur, mungkin karena jam malam saya yang tidak bisa dibohongi. Surabaya dengan Madinah beda waktu 4 jam lebih dulu Surabaya. Artinya bila disana isya jam 8 malam, di Surabaya sudah jam 12 malam. Otomatis, saya mengantuk luar biasa, hehe.. 

Tengah malam, sekitar jam 1 saya bangun, lalu mandi dan bersiap ke Raudah, dengan harapan Raudah masih dibuka dini hari itu. Saat saya keluar hotel, teman saya terbangun dan sayapun pamit padanya untuk ke masjid lebih dulu. Dia mengiyakan. Saya ke masjid dan kembali ke hotel sekitar pukul 9 pagi karena ingin berlama-lama di masjid.

Saat saya sampai hotel, temen saya tanya, "kamu tadi berangkat ke masjid jam berapa?" Usut punya usut, dia kira saya ke masjid karena sudah mau subuh. Jadi ia langsung mandi selepas saya keluar kamar. :D Tak lama teman saya itu juga berangkat ke masjid, lalu saat adzan pertama, dia kira itulah waktu subuh dan cepat-cepat mau salat subuh. Padahal, itu adzan subuh yang pertama. :D

Salat Gaib Setiap Waktu Salat

Salat gaib kalau di Indonesia umumnya hanya saat ada orang meninggal, atau pada waktu-waktu tertentu. Tapi di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, selepas salat wajib selalu ada salat gaib. Untuk kita yang baru pertama kali umroh atau berhaji tentu ini pengalaman yang unik sekaligus baru. Jadi setelah salat wajib selesai, jangan buru-buru beranjak ya. :)

Tempat Miqat (Miqat Makani)

Sebelum berumroh, kita wajib mengambil niat di tempat yang sudah ditentukan alias tempat miqat. Ada beberapa titik miqat yang ditetapkan. Di tempat itu, kita yang akan berumroh atau berhaji wajib berniat dan mengenakan pakaian yang akan digunakan (kain ihram bagi laki-laki). Termasuk juga salat sunah. Bila kita dari Indonesia menuju Madinah terlebih dahulu, maka umumnya kita mengambil niat di Bir Ali atau Masjid Zulhulayfah yang jaraknya sekitar 450 km dari Mekah. Namun bila dari Indonesia kita umroh dulu, maka kita mengambil miqat di dalam pesawat saat diatas Yalamlam. Crew Cabin pesawat akan mengumumkan waktunya.

Bir Ali Tempat Miqat Madinah

Jika kita sudah di Mekah dan ingin berumroh lagi, maka kita perlu keluar dahulu untuk mengambil miqat, yang umumnya di Masjid Aisyah di Tan'im. Waktu itu saya pakai taksi kisaran 50 Riyal untuk PP dari Masjid Aisyah ke Masjidil Haram. Selain itu, ada beberapa tempat miqat lain. Seperti teman saya yang saat itu city tour ke Thaif, waktu pulang mengambil miqat di Qarn Al-Manazil.

Tempat miqat ini sangat penting, so pelajari dulu dengan seksama sebelum berangkat umroh atau haji. Banyak kok yang sudah mengulas tentang tempat miqat, masing-masing jaraknya, cara menujunya, dll. 

Tanda Area Raudhah

Mengunjungi taman-taman surga, begitu sabda Rasulullah, adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu selama berada di Madinah. Bukan begitu? Tak hanya keutamaan salat di Masjid Nabawi yang memiliki banyak kebaikan, namun juga mengunjungi Raudhah. Untuk menuju Raudhah, kita perlu menunggu dan mengantri karena pintu hanya dibuka beberapa kali dalam sehari. Pada setiap area utama salat, ada layar yang menampilkan informasi kisaran waktu pembukaan pintu menuju Raudhah. 

Pada suatu subuh, saya baru tahu kalau jamaah di area 31 adalah jamaah yang masuk ke Raudhah paling awal alias pertama kali, dibanding area 30-23 yang dibuka bertahap setelahnya. Tapi saya tak paham apakah memang demikian "ritme"nya atau hanya waktu itu kebetulan saja. Sebagai gambaran, awalnya saya duduk diarea 25 kira-kira pukul 1.30 waktu Madinah. Kala itu subuh masih lama (subuh jam 5 lebih), jadi area-area khusus perempuan itu masih sepi. Lalu petugas mengatakan agar para jamaah di area 25 tersebut pindah ke area 31, karena area 25 tersebut akan dibersihkan.  

Saya tak menganggap ini tips, tapi silakan dicoba saja. Pada saat Subuh pertama kamu di Masjid Nabawi, pilihlah area 31 dan tunggulah hingga pintu menuju raudhah dibuka. Namun yang bisa saya share tentang raudhah adalah tanda-nya kita berada di taman surga tersebut. Saat melewati pintu pembatas area salat jamaah perempuan, kita akan berjalan (dan tentu saja berdesakan), sampai area karpet hijau. Dulu, karpet hijau kabarnya memang hanya area raudhah, tapi setelah saya coba cari info, area berkarpet hijau diperluas, bukan hanya area Raudhah. Jadi karpet hijau tidak bisa lagi menjadi patokan.

Jadi apa tandanya? Tandanya adalah tiang berbunga. Seperti yang saya sempat foto, berikut.

Tips Mengenali Area Raudhah

Nah jika sudah menemukan tiang berbunga, ada lagi tanda lainnya. Adalah petugas yang senantiasa mengingatkan kita untuk tidak berlama-lama di Raudhah karena banyak jamaah lain yang sedang menunggu untuk bisa bersimpuh disana. Petugasnya serupa dengan beliau-beliau yang memeriksa kita saat masuk pintu Masjid Nabawi, dengan pakaian hitam-hitam yang khas, jadi insyaallah mudah dikenali area-nya.

Bergabung Dengan Lokal Madinah dan Lokal Mekah di Masjid Nabawi & Masjidil Haram 

Saya pribadi suka berinteraksi dengan orang baru selama di Madinah. Bahkan saya masih ingat seorang nenek mengajak saya bicara Bahasa Arab :( meanwhile saya nggak bisa bahasa arab. Tapi saat itu saya sedang baca Al-Quran, jadi mungkin nenek tersebut menganggap saya bisa diajak bicara Bahasa Arab. Apa yang saya lakukan? Ambil HP lalu bicara di aplikasi translator, hehehe. Di Masjidil Haram juga sama, berlama-lama di dalam masjid jadi diberi kacang arab. Menarik banget interaksi dengan warga lokal ini, macam-macam ceritanya.

Jika ingin bergabung dengan penduduk asli, menurut saya ada tempat yang khas. Walaupun sebenarnya mereka bisa ditemui di banyak spot. Namun ada spot-spot khusus yang kalau saya perhatikan, banyak jamaah lokal di area tersebut pada saat salat magrib menuju salat isya.

Pertama, untuk di Masjid Nabawi, dari pintu 25 yang khusus wanita itu, kita pertama-tama masuk dulu ke area inti sholat, lalu berjalan ke arah kanan, lurus terus melewati beberapa pintu (yang bisa kita lihat di tembok kalau kita melihat kearah kanan) hingga mentok. Di area tersebut, selepas magrib menjelang isya, banyak anak-anak yang sedang belajar mengaji. Para keluarga saling silaturahmi. Indah sekali.

Multazam Baitullah

Kedua, untuk di Masjidil Haram, ada di lantai 2 area Multazam. Tandanya lampu hijau dengan tulisan berjalan "Tawaf Begining." Lalu ada area di sebelah kanannya. Untuk sebelah kiri, biasanya dipakai untuk jamaah laki-laki, jadi saya kurang paham. Ohya, lantai 2 bukan tepat diatas area Mataf ya. Urutannya, area Mataf dengan kabah disana, lalu diatasnya lantai 1, diatasnya lagi lantai 2 dan rooftop atau lantai 3. Ini anggapan saya saja ya, sesuai bangunan pada umumnya yang menerapkan lower ground atau ground sebelum lantai 1. Saya tidak tahu anggapan tentang per-lantai-an ini tepat atau tidak. Semoga benar.

Nah diarea Multazam lantai 2 ini, walau tidak saat masuk jam salat wajib, banyak penduduk lokal. Biasanya berbicara satu sama lain atau berlama-lama menunggu salat selanjutnya. Di tempat ini juga banyak jamaah yang berkebutuhan khusus. Jadi kalau kita salat di samping beliau yang duduk di kursi kecil atau kursi roda, wajar, sangat umum ditemui di area ini.

~
Sepertinya itu dulu yang saya share, lainnya belum kepikiran hehe. Semoga memudahkan ibadah kamu di tanah suci. Kalau kamu mau share pengalaman kamu, boleh tulis di kolom komentar. Biar kita sama-sama saling tahu. :)




*PS. artikel ini ditulis dari perspektif wanita, beberapa kondisi mungkin berbeda dengan jamaah pria, seperti pintu 25 HANYA khusus wanita, dll. Terima kasih.

Share:

Popular Posts

Labels

Blog Archive

Featured Post

1st Best Winner Blogging Competition by DSCP Indonesia