Ta.

It's all about lifestyle in a city

Jangan Beri Laut Kita Harapan Palsu

Bersihnya Pantai Cemara, Banyuwangi 2019 | Foto Pribadi

Apa kamu sudah rindu deburan ombak? Merasakan buih-buih pecahan ombak yang menerpa kaki? Atau justru rindu snorkeling? Menemukan berbagai jenis ikan warna-warni diantara terumbu karang? Aah, membayangkannya saja, saya makin rindu menikmati aktivitas di laut. Kamu  juga?

Ya, siapa tak suka pantai? Siapa tak suka laut? Laut punya daya magis yang begitu mengikat. Tak bisa dijelaskan dengan pasti, namun jelas mampu menjadi terapi. Ombak, karang, pasir, garis satunya dengan langit, awan yang seputih kapas menggantung diatasnya. Apapun tentang laut, menjadi efek domino yang menyenangkan bagi saya. Dan saya yakin kebanyakan orang lain juga menikmati suasana pantai, termasuk kamu juga kan? :)

Di tengah pandemi Covid-19, di rumah saja memang keputusan yang bijak. Dan saya berani bertaruh, walau bukan anak indie, kamu pasti rindu pantai, apalagi suasananya saat senja. Deburan ombaknya, pasir putih, ikan, bintang laut, terumbu karang. Sungguh paket lengkap yang bisa mengobati setiap hati yang lara. 

Sayangnya, selama 4 bulan ini kita belum bisa mengunjungi pantai. Bahkan, saat kini sudah menginjak masa New Normal atau Kebiasaan Baru, saya pribadi belum berani memutuskan pergi ke pantai lagi. Saya masih setia di rumah saja. Tetap bergembira jika harus berwisata lewat media. Namun siapa sangka, saat menjelajah sosial media Twitter 3 hari yang lalu, saya menemukan postingan yang isinya memilukan. Mungkin kamu juga sudah melihatnya, apa yang kamu rasakan? 


Speechless. Saya tak tahu harus berkata apa saat melihat postingan itu. Rasanya saya ingin mengutuk manusia-manusia tak bertanggung jawab, yang membuang masker bekas pakai sembarangan, agar menjadi penyu. Tapi apa daya, itu tidak mungkin terjadi.

Informasi yang telah dibagikan ribuan kali itu juga sempat disinggung dalam talkshow Ruang Publik KBR edisi Menjaga Laut di Tengah Pandemi, 26 Juni lalu. Masalah limbah pandemi ini ditanyakan oleh Bimo melalui live chat. Dan ditanggapi oleh Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Kelautan UNDIP juga Mbak Githa Anasthasia CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat sekaligus Pengelola Kampung Wisata Arborek. Beliau berdua menjadi narasumber pagi itu. Oh ya, kalau kamu belum mendengarnya, kamu bisa dengar lewat link ini.

Ikan Tak Butuh Masker!
masker mencemari laut
Foto tertanggal 13 Mei 2020 menunjukkan Gary Stokes pendiri LSM lingkungan hidup Oceans Asia, memegang sampah masker sekali pakai yang berserakan di Discovery Bay, Pulau Lantu yang terpencil di Hong Kong. (AFP/ANTHONY WALLACE/KOMPAS.COM)

Saat masa pandemi, lega rasanya mendengar kondisi ekosistem laut membaik. Ikan tuna juga ikan hiu tampak jelas di perairan Raja Ampat seperti yang disampaikan Mbak Githa. Aktivitas kapal juga berkurang membuat polusi di lautan bisa dikendalikan, tak seperti biasanya. Kondisi ini senada dengan apa yang disebutkan Akbar Reza, Ahli Biologi UGM, tingkat polusi suara dari kapal yang mengangkut wisatawan berkurang. Dan sampah yang biasanya dihasilkan oleh para wisatawan juga mengalami penurunan.

Namun, setelah masa pandemi berjalan beberapa waktu, justru laut kita tercemari limbah penanganan Corona. Masker, sarung tangan, juga botol-botol hand sanitizer. Kenyataan ini seakan memberikan laut harapan palsu. Laut yang sedikit bisa "bernapas lega", kembali "menelan pil pahit" sampah dari daratan.

Sungguh, ikan tak butuh masker. Penyu dan hiu tak perlu sarung tangan. Biota laut tak butuh alat-alat kesehatan yang sama dengan manusia. Tapi kenapa manusia "mengirimnya" kesana? 

Setelah melihat postingan di Twitter itu, saya lantas mencoba mencari tahu seberapa parah ocean debris dari limbah penanganan Corona tengah menginvasi laut.  

Sampah masker di pantai-pantai Hongkong. | Foto: Facebook OceansAsia

Dari berbagai sumber berita yang saya baca, limbah medis penanganan Covid-19 ini terjadi di berbagai tempat, seperti pantai-pantai di Hongkong, laut mediterania, bahkan juga di Jakarta. Seperti disampaikan di halaman Republika 18 Juni lalu, tim dari LIPI telah melakukan penelitian terhadap sampah pada muara sungai di Jakarta, yakni Cilincing dan Marunda, Jakarta Utara.

Hasilnya, mengutip apa yang disampaikan salah satu peneliti, Intan Suci Nurhati, bahwa terdapat sampah APD, masker (baik plastik maupun fabric/kain), hazmat, juga face shield yang ditemukan. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, ada sebanyak 16 persen dari jenis sampah yang ditemukan di kedua muara sungai itu.

Sedih rasanya mendengar berita ini. Dunia seakan mengalami masalah baru yang menjadi headline besar: sampah limbah Covid-19 menginvasi lautan

Apa Bahaya Sampah Di Laut?   

Sampah yang hanyut di laut memiliki bahaya yang terjadi di masa kini bahkan juga berimbas pada masa yang akan datang. Dan pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan iklim di bumi ini. Saya coba menghimpun bahaya sampah yang masuk ke perairan laut.

1. Mengancam hewan yang hidup di laut

sampah plastik mengancam hewan di laut
Hewan terancam oleh keberadaan sampah di lautan. | Foto: pgsp.big.go.id
Bukan rahasia lagi kalau ikan sering memakan sampah, termasuk sampah plastik. Banyak berita yang beredar ikan ditemukan mati dengan perut penuh sampah. Tak hanya itu penyu di laut juga terancam. Menurut wwf.panda.org, ada kurang lebih 267 penduduk laut di dunia yang terkena imbas bahaya sampah, terutama sampah plastik. Padahal, satu jenis hewan saja punah, akan berpengaruh pada rantai makanan dan ujungnya akan membuat ekosistem tak seimbang.

2. Merusak nutrien di alam Laut

Sampah secara masiv merusak nutrien di dalam laut. | Foto: Mongabay.co.id
Serpihan sampah terutama sampah plastik membuat nutrien dalam laut menjadi tak seimbang. Mikroplastik yang dihasilkan menjadi ancaman bagi ikan penyaring seperti ikan paus. Dan akhirnya menjadikan laut semakin tercemar dan tak seimbang.

3. Merusak terumbu karang

Sampah plastik merusak terumbu karang, rumah bagi banyak ikan. | Foto: respectfood.com
Terumbu karang menjadi rumah bagi para ikan. Terumbu karang layaknya taman di sebuah kota. Semakin rimbun taman itu, semakin subur taman itu, penduduk kota akan merasa senang dan hidup makmur. Begitu pula dengan penduduk laut, terumbu karang memegang peranan kunci yang penting. Dan mirisnya, kerusakan terumbu karang salah satunya dipicu oleh sampah. Lihatlah video singkat yang memperlihatkan bahaya plastik terhadap terumbu karang ini.


Selain ketiga bahaya itu, masih banyak dampak negatif alias bahaya dari sampah-sampah di lautan. Bagi saya pecinta kuliner berbahan ikan, hal yang paling saya takutkan dari bahaya sampah di laut adalah ikan-ikan segar akan tercemar dan saya tak bisa makan ikan segar. :( 

Dampak Laut Kotor Terhadap Perubahan Iklim

Laut berada di jajaran utama alias front line dari perubahan iklim. Saya mengamini, bahaya sampah di lautan sudah disampaikan berulang-ulang oleh berbagai pihak di berbagai media. Sayangnya entah sosialisasi bahaya sampah di laut ini tak menjangkau semua kalangan, atau manusianya yang bebal dan tak mengindahkan peraturan.

Padahal, dari iucn.org, dikatakan bahwa laut memiliki peran sentral dalam mengatur iklim di bumi. Hal senada juga dituliskan dalam web worldwildlife.orgLautan mengatur iklim global, laut memediasi suhu dan mengendalikan cuaca yang secara siklus berpengaruh terhadap curah hujan, kekeringan, dan banjir. Laut juga menjadi tempat penyimpan karbon terbesar di dunia. Dimana diperkirakan 83% dari siklus karbon global diedarkan melalui perairan laut. Sayangnya kini interaksi alami di dalam laut berubah, salah satunya karena faktor sampah, dan perubahan siklus alami laut semakin intensif. Dalam 200 tahun terakhir, lautan telah menyerap sepertiga CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan 90% dari panas yang terperangkap karena konsentrasi gas rumah kaca meningkat.

Terlebih dengan kondisi saat ini, sampah banyak kita temukan di laut, secara langsung sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim tersebut.

Apa yang Bisa Kita Lakukan? 

Kita tentu saja tak ingin dicap dengan status pemberi harapan palsu bukan? Saat awal pandemi, kita menyelamatkan kehidupan laut. Tapi setelah pandemi berjalan beberapa bulan, kita memberi laut beban sampah-sampah "hasil" pandemi.

Semakin saya pikirkan, saya jadi membayangkan, bagaimana jika penularan covid ke biota laut itu mungkin terjadi? Dan setelah tertular corona, ikan ditangkap nelayan, lalu dijual dan masuk dapur kita. Ingat awal mula Covid-19 dikenali? Dari sup kelelawar. Apa jadinya bila sup ikan, ikan goreng atau ikan bakar kita menularkan Covid karena lalai tak merawat limbah corona dan mencemari laut kita? Mengerikan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan?

Pemerintah dan Pengelola Rumah Sakit harus proaktif dalam mengelola limbah kesehatan Covid-19. IPAL Rumah Sakit harus dipastikan dapat mengolah limbah dengan baik. Lalu bagi masyarakat, membuang sampah masker harus pada tempat sampah, agar dibawa ke TPS dan berakhir di TPA dengan penanganan yang kita harapkan bersama mampu menangani limbah medis pandemi Corona. Kita juga harus mulai menggunakan masker yang aman secara kesehatan, dan juga dapat digunakan berkali-kali.

Pemerintah juga harus menyediakan kantong-kantong di muara-muara sungai untuk mencegah sampah terbawa ke laut dengan kantong-kantong sampah.

Jaring penyaring limbah di kawasan hijau Henley Reserve, Kota Kwinana, Australia Barat bisa menjadi contoh untuk dipasang di muara-muara sungai agar menjadi penyaring sampah. Foto: Facebook City of Kwinana | Liputan6.com

Saya tahu, solusi ini klise sekali. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus melakukannya, kita harus mencobanya. Terlebih jika kita masih ingin memakan ikan segar. Jika kita ingin laut kita aman. Dan bila kita ingin perubahan iklim bisa kita tekan sedikit demi sedikit, demi bumi kita, demi kehidupan kita. 

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.


Share:

Kini Tak Perlu Rebutan Wafer Khong Guan


Saya tak suka kue kering selain choco chips. Itupun hanya satu atau dua biji, mengobati rasa penasaran si lidah. Karena entah mengapa, setelah selesai kuliah saya tak suka rasa manis berlebih. Bahkan, kini seduhan teh hampir selalu saya minum tanpa gula.
Saat lebaran, di meja jarang sekali dihidangkan kue kering. Kalaupun ada yang berkunjung membawa kue kacang, nastar, putri salju, kastengel, dan beragam jenis kue kering lainnya, besar kemungkinan kue itu hanya akan berpindah empunya. Alias kembali dibagi-bagikan ke sanak famili.
Alih-alih kue kering, biasanya ada buah-buahan, keripik atau kacang rebus yang disajikan. Namun, ada satu yang hampir selalu ada saat lebaran: kaleng Khong Guan, calon 'rumah' bagi rengginang. Hehehe.
Alert: artikel ini tidak di-endors oleh perusahan roti terkenal itu. :D

Di dalam kaleng Khong Guan, ada berbagai macam biskuit. Bentuknya pun beragam: persegi ada, bulat ada. Nah kalau ditanya kue yang saya suka saat lebaran, tentu saja wafer lapis Khong Guan.
Wafer memang bukan termasuk jenis kue kering, tapi bisa diolah menjadi kue kering dengan lapisan krim. Untuk saya yang tak suka kue kering, menggilai wafer lapis saat kaleng pertama kali dibuka ini ternyata bukan perkara up normal. Buktinya? Banyak kok yang melakukan hal yang sama. Kamu juga kan? Ngaku! Coba, coba kita bikin poling saja. :)

Alasan Psikologis Pecinta 'Wafer Lapis Khong Guan'


Kali pertama kaleng dibuka, mata langsung tertuju pada plastik bening bergaris merah melingkar, khas. Menampakkan si wafer sebagai makanan ter-'wah' dalam "rumah" puluhan biskuit itu.
Dan saat berhasil mendapatkannya pasti ada rasa kepuasan tersendiri. Usut punya usut, ada alasan logis psikologi manusia atas perilaku ini lho!
Saya kutip dari brilio.net, Majalah SWA menyatakan perilaku ini terjadi karena LE non-moment term. Adalah teknik membuat suatu produk yang secara sengaja dibuat terbatas alias produk limited edition (LE). Secara otomatis, psikologi manusia semacam saya saat mengetahui di dalam kaleng itu ada produk LE, akan beranggapan wafer itu dibuat eksklusif, terbatas jumlah atau pemiliknya.
Anggapan eksklusivitas ini memberikan gambaran kualitas terbaik dari sekian banyak biskuit di kaleng yang bergambar tanpa ayah itu. Jadilah satu atau dua bungkus wafer coklat di kaleng Khong Guan ini sebagai si produk LE non-moment term. Produk limited edition ini sengaja dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan brand produknya. Walau sebenarnya, dalam teori pemasaran tak pernah ada konsep produk LE. Karena, pada prinsipnya setiap produsen justru ingin produknya diterima konsumen dan dipasarkan dalam skala besar dan dalam jangka lama, bukan membatasi jumlah produksi.
Kalau membatasi jumlah produksi seperti konsep LE itu, berarti mengurangi potensi untung dan mengurangi pangsa pasar. Namun ternyata, konsep LE mampu meningkatkan brand produk di mata konsumen. Mungkin, alasan inilah yang membuat perusahaan roti ini kini me-non-eksklusifkan si wafer lapis. Kamu sudah tahu belum?

Tak lagi Ekslusif, Tapi Memanjakan


Kini, bagi kita yang memberikan tag favorit pada wafer lapis KG itu, tak perlu bersusah payah membeli sekaleng roti Khong Guan yang isi wafernya hanya dua, atau terkadang hanya satu. Karena sekarang mereka meluncurkan satu bungkus penuh berisi wafer lapis.
Ya, produsen kenamaan ini akhirnya mengeluarkan wafer lapis sebagai produk tersendiri. Mungkin karena proses eksklusifitas yang diberikan pada si wafer akhirnya membuat biskuit lainnya terasa mubazir. Atau, ya namanya juga bisnis kan?
Di lebaran kali ini, kalau ditanya kue apa yang menjadi idaman saya saat lebaran, saya bisa menyodorkan gambar bungkus wafer ini, bukan kaleng tanpa gambar ayah. Kalau kamu?


Credit Foto.
Foto 1. pixabay dot com
Foto 2. style dot tribunnews dot com
Foto 3. awsimages dot detik dot net dot id
Foto 4. marketplace

Share:

Semangat Berkarya dari Rumah di Tengah Pandemi

Minggu lalu, saya menonton televisi. Sesuatu yang hampir tidak pernah saya lakukan selama 10 tahun ini. Tetapi di tengah pandemi, saya mulai menonton TV. Selain karena bosan dirumah, juga karena punya banyak waktu rebahan, hehe. Di jeda sebuah acara traveling yang saya tonton, ada satu iklan menarik bertajuk ramai sepi bersama dari salah satu provider di Indonesia, IM3 Ooredoo. Iklan singkat itu menyajikan bagaimana bahagia sekaligus haru bisa tetap silaturahmi setiap hari di tengah pandemi dan ramadan kali ini.
But the way, kalian ada yang sudah lihat video iklan IM3 Ooredoo ini?


Bagus ya!
Video ini mewakili kondisi kita semua yang lagi aktivitas dari rumah nggak sih? Kondisi dimana kita tidak bisa ketemu dengan teman, anak nggak bisa pulang kampung alias mudik ditengah pandemi walau lebaran sebentar lagi. It so sad indeed.
Sebagai blogger, saya sendiri juga merasakan bagaimana ramadan kali ini sangat-sangat berbeda dengan ramadan sebelumnya. Biasanya, diawal Ramadan, saya dan teman-teman kopdar di beberapa restoran hotel atau tempat makan yang menjadi tempat kerjasama. Tapi kali ini tidak. Kami hanya sering komunikasi lewat aplikasi chatting, sosial media juga terkadang video call. Imho, alur cerita video singkat itu benar-benar mewakili kondisi masa kini.
Anthem “Ramai Sepi Bersama” yang diinisiasi IM3 Ooredoo itu menghadirkan kolaborasi apik dari Baskara Putra (Hindia), Kunto Aji, Yura Yunita juga Sal Priadi. Liriknya yang mudah, sontak membuat saya ikut menyanyi kecil. Lagu “Ramai Sepi Bersama” yang dibawakan juga menjadi penyemangat, sekaligus pengingat bahwa tidak ada yang lebih penting dari silaturahmi meski ditengah pandemi.
Saya lantas mencari tahu sedikit seluk beluk iklan itu. Ternyata, iklan itu dibuat di rumah masing-masing. Yes, untuk kali pertama, seluruh proses pembuatan iklan IM3 Ooredoo ini dibuat dari rumah masing-masing. Remote ini dilakukan guna mematuhi aturan physicall distancing yang sudah dihimbau oleh pemerintah.

Blogger kini juga work from home

Para talent maupun kru produksi mengandalkan kuota dan koneksi untuk berkomunikasi lewat platform chat, video call, dan email selama proses produksi. Hal ini menunjukkan bahwa yang terjadi saat ini tidak menghalangi kita berkolaborasi. Kita tetap bisa menciptakan karya positif meskipun sama-sama tak bisa ke mana, di rumah saja. Saya jadi kepikiran, kalau mereka bisa, kita tentu juga bisa.
Video yang dihasilkan kualitasnya bagus, pun pesan yang disampaikan sangat kuat. Sebagai pengguna IM3 Ooredoo lebih dari 12 tahun, dengan hadirnya program Freedom Kuota Harian ini, saya merasa seperti pihak IM3 Ooredoo paham akan kebutuhan penggunanya. Selain karena harganya terjangkau, paket yang ditawarkan dapat digunakan untuk internetan 24 jam (di semua jaringan) dengan benefit kuota utama 1GB per hari. Tak hanya itu, program ini ditawarkan dengan kelengkapan fitur pulsa save. So, internetan nyaman dan pulsa pun tetap aman meski kuota utama telah habis digunakan.
Iklan IM3 Ooredoo di televisi

Saya pun lantas mencari tahu tentang paket yang ditawatkan IM3 Ooredoo. Produk Freedom Kuota Harian dilaunching khusus saat Ramadan ini. Dan menjadi pijakan untuk tetap #SilaturahmiSetiapHari meski terbatas aturan physical distancing. Ada beberapa pilihan paket 1 GB seperti 1GB untuk video call saat bukber online bareng teman, kirim pesan silaturahmi/e-card via chat/social media, ikut kajian atau meet up komunitas secara “online”, 1GB untuk dukung kolaborasi, work from home atau aktivitas internetan lainnya selama Ramadan, bahkan juga 1GB untuk video call orangtua karena tidak bisa mudik.
Freedom Kuota Harian dari IM3 Ooredoo

For your information, paket ini dapat diaktifkan melalui *123# atau melalui aplikasi myIM3. Perpanjangan paket otomatis berlaku selama pulsa mencukupi. Ohya, selain itu, IM3 Ooredoo akan mendonasikan Rp2000 untuk membantu menanggulangi Covid-19 dari setiap pembelian paket Freedom Kuota Harian. Jadi kita juga tetap beramal di bulan yang suci ini.
Dan dengan freedom kuota harian, IM3 Ooredoo mendukung kita menjaga #SilaturahmiSetiapHari dengan orang yang kita sayangi. Tak hanya itu, aktivitas internet harian juga jauh lebih mulus.

Share:

BUKU STANDAR BASIS PETA RTR

Buku Standar Basis Peta ATR

Horeeee... akhirnya setelah keluar masuk berkas revisi, revisi siang ini hanya berkaitan dengan definisi.

Ya walaupun sampai sekarang masih belum selesai, Rancangan Peraturan Daerah tentang RDTR sebuah kawasan perkotaan yang saya kerjakan sudah melewati banyak "pintu". Setelah masuk meja Lintas Sektor Kementerian dan Lembaga dalam keadaan prematur Desember 2019 lalu. Entah sudah berapa kali jumlahnya, saya menggeser jumlah pasal, angka, titik koma, dan apapun itu. Siang ini cukup lega dengan revisi minor, Pasal 1 saja. Walaupun saya tidak bisa menebak, badai apa lagi setelah ini. :D

Bagaimana tidak saya sebut badai, bila pekerjaan yang sudah sesuai dengan Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018 puluhan kali revisi. Pedoman penyusunan RDTR sebelumnya adalah Permen PU 20/ 2011 dan kemudian dicabut dan diganti Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018. Saya pernah menuliskannya di artikel Pedoman Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Baru 2018.

Namun baru seumur jagung peraturan itu berlaku, Dirjen Taru mengubah pedoman penyusunan RDTR. Memang induknya masih di peraturan yang sama. Tetapi aplikasinya sangat banyak yang berubah. Adalah Buku Standar Basis Peta. Buku ini kali pertama keluar pada Bulan September 2019. Dan hingga kini (kalau tidak salah sudah berganti 4 versi). Saya bahkan tidak tahu versi terakhir dikeluarkan pada tanggal berapa. Yang saya tahu, Buku Standar Basis Peta yang dikeluarkan oleh Kementerian Agraria ini terdapat versi 30 September 2019 dan 22 November 2019. Saya punya keduanya. Bulan Desember, kabarnya versi November sudah "ditimpa" kembali dengan versi terbaru, bahkan juga Bulan Januari 2020 ini. Untuk yang mau dokumennya bisa kontak saya via email, monggo... 

Sayangnya, buku ini hingga kini masih OFF THE RECORD. Artinya hanya dimiliki oleh Kementerian dan diberikan kepada yang berkepentingan saja. Seperti para PEMDA dan PEMKOT yang sudah mengajukan Persetujuan Substansi RDTR dan RTRW di tingkat pusat. Mungkin kita akan menemukannya di internet, tetapi kita tidak tahu mana yang harus diacu sebelum seluruh dokumen masuk ke meja ATR.

--
Okay, apa yang lantas membedakan antara Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018 dengan Buku Standar Basis Data?

To be honest, banyak sekali. Saya bahkan bingung harus memulai dari mana. Satu yang pasti adalah NOMENKLATUR dan PENGKODEAN. Ketika Rancangan Peraturan Daerah diajukan untuk mendapat tanda tangan dirjen, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui. Pertama masuk klinik. Klinik ini pengecekan secara keseluruhan. Sebentar, maksud saya adalah KESELURUHAN. Iya semua.

Mereka akan mengecek dari fakta dilapangan seperti apa. Analisis kita bagaimana. Sampai bagaimana korelasi rencana dengan eksisting. Terutama, ada 5 pokok yang dicek secara mendetail. Satu, Kawasan Hutan. Dua, LP2B. Tiga, Mitigasi Bencana, Empat, Proyek Strategis Nasional dan Lima adalah saya lupa, hehe Apa ya? Sebentar saya ingat-ingat dulu.

Sambil mengingat coba saya teruskan. Kelima aspek tersebut sangat dipastikan pada daerah perencanaan. Eh sebentar, tim klinik ATR juga akan mengecek deliniasi wilayah lho! Seberapa urgent wilayah tersebut untuk dijadikan bagian wilayah perencanaan (BWP). Ohya, aspek kelima adalah Ruang Terbuka Hijau alias RTH yang kalau saya bilang punya "dramanya" sendiri. Setelah semua clear. Mereka akan mengecek Pasal demi Pasal, Ayat demi Ayat, koma demi koma. Literally EVERYTHING. Semua.

Well, mungkin ini dulu artikelnya. Kapan-kapan saya sambung lagi, termasuk drama apa yang terjadi atas Ruang Terbuka Hijau. :)


Share:

Highlight Perjalanan 'Umroh Backpacker?'


Well, karena banyak yang nanya perjalanan umroh kemarin, sesambil "nyisir" pasal demi pasal Ranperda yang tak kunjung usai, coba aku tulis deh.

First at all, aku mau bilang dulu begini, hmm aku nggak tahu apa yang aku lakukan kemarin bisa disebut sebagai umroh backpacker, karena memang tidak semua proses aku lakukan mandiri. Ada yang aku urus sendiri, ada yang minta tolong diuruskan pihak travel. Nanti aku jelasin kenapa. :) Second, kalau nggak yakin kenapa judulnya gitu Ta? Suka-suka akulah! Aku yang nulis kok, hahaha Nggak-nggak, jahat banget Tata! HAhaha.. Biar kaya click bait aja, hahaha Nggak juga. Ya, karena kali ini mau bahas uang aja, biar semangat nyari uang lagi, biar tetep tutup telinga waktu dikatain sering banget lembur, nggak pernah libur, nggak pernah pacaran blablabla.. wait, like I care? Hahaha... /LOL

Dan karena aku malas, hahaha maka nanti aku rangkumin seluruh perjalanan aja. Mulai dari Malaysia, Turki dan Arab Saudi. Hmm dan bisa ngefek banget kalau diperinci per negara aja. Apalagi dengan highlight apa aja yang aku lakukan di negara itu. Somehow, I still thought, maybe I just dreaming. Saking bahagianya bisa ngelihat banyak hal yang belum aku pernah lihat sebelumnya, di perjalanan bulan lalu.

Oke. Aku mulai dari highlight budget dulu kali ya, karena ini yang paling berpengaruh, dikantong gue wkwk. Dan karena aku suka lupa, kaya perjalanan ke Penang dan Hatyai kemarin. Untung Indah sudah nulis disini

Baiklah.

Harga Tiket Pesawat

Dari segi budget, yang paling banget berpengaruh adalah harga tiket pesawat. Pesawat yang aku pesan adalah Malaysia Airlines (MH), Saudia Airlines, dan Turkish Airlines. MH untuk Surabaya - Kuala Lumpur PP, Saudia Airlines untuk KL - Jeddah (transit) - Istanbul - Jeddah (umroh) - KL, dan Turkish Airlines untuk Istanbul - Cappadocia Return.

Pertama Saudia. Ini sempet aku singgung kemarin di Kejadian di Pesawat, sedikit. Dan ini aku juga bakal nyinggung dikit doang, biar nggak dikira jualan, apalagi endorse. Saudia kapan aku di endors? Hiks. Siapa kau nak?/ Harga tiket Saudia adalah 8,5 juta. Kemarin aku bilang murah kan? Kalau kataku sih iya. Karena lewat 3 airport di 3 negara. Waktu aku coba cek, pesawat Jeddah ke Istanbul itu 3 juta lebih berapa gitu. So, kalau nggak dihitung ke Turkinya ya cuma 5 juta. Tapi emang nggak bisa dihitung gitu, karena harga tiket ini fluktuafit banget. Dan fasilitasnya lumayan, pas pulang aku naik yang aircraft yang udah ada musholanya itu. Makanannya juga lumayan, aku bahas lain kali aja buat lengkapnya. Kalau sempat, hahahaha..


Kedua, si Turkish Airlines. Menurutku, ini penerbangan seperti Jakarta Surabaya, tapi dengan fasilitas kaya Garuda atau Batik Air, harganya jauh lebih murah. Kalau dari Surabaya ke Jakarta dapat tiket berangkat aja. Pakai Turkish Airlines ini dari IST ke Bandara Kayseri sudah dapat pulang pergi. Dapat roti yang ngenyangin banget dan enak, plus mau jus, kopi, teh, tinggal milih. Dan pramugaranya baik banget ama aku, hahaha..




Ketiga, untuk Juanda - KLIA, aku sempat lihat harga Air Asia, waktu itu selisih 400 lebih murah, tapi tanpa bagasi. Lalu aku pikir sama aja. Lebih enak MH juga kan dapat Nasi Lemak dan snack ikan bilis, hahaha Ohya, bagasi 25 kilogram plus 7 kilo kabin + plus overweight FREE BAGASI Zamzam 5 liter.  Ohya, mas check-n MH di KLIA 2 ganteng, lumayan nggak jadi BT aku nunggunya, hahahaha.. Mata kenapa sih nggak bisa bohong, hehe.. Harganya 2 juta kembali beberapa puluh ribu rupiah.




Visa dan Lainnya

Pengeluaran yang lumayan selain tiket adalah LA alias Land Agreement. LA waktu itu aku bayar 5 juta. Untuk ketentuan sekamar berempat bintang 3. Tapi waktu disana di Madinah dapat free upgrade ke bintang 4 (alhamdulillah dekat banget sama pintu masjid). Dan karena aku sholeha, dapat rejeki anak sholeh-ha waktu di Mekah sehari aja sekamar berempat, sisanya aku sekamar sendiri. Sebenernya bintang 5 juga nggak mahal banget sih, tapi aku sebelum berangkat sengaja milih hotel biasa aja, takut lebih keenakan di dalam hotel daripada dalam masjid. Pernah kejadian waktu rapat di Jakarta, dapet upgrade hotel bagus banget jadi pengen dikamar terus, hahaha.

Eh kok ngomongin hotel sih, kan mau ngomongin visa. Visa sebenernya kalau riyal lagi baik kursnya nggak sampai 2 juta kok, itu hasil penelusuran Detective Tata. Tapi karena satu dan lain hal, harganya bisa diatas itu, bahkan hampir 2 kali lipat. Ini yang sempat aku bilang diawal tadi. Untuk urusan visa ini, kita nggak bisa datang sendiri ke kedutaan kalau kita nggak punya orang dalam lewat travel resmi. WHY MUST? Karena banyak hal, termasuk travellah yang menjamin jamaah untuk pergi dan pulang tepat waktu dan nggak overstay, apalagi kerja disana. So, Kedutaan mengharuskan apply visa secara group dibawah nama Travel resmi. RESMI. Hanya yang resmi biar nggak kaya kasus itu tuh!

Karena demi kebaikan, maka untuk visa plus asuransi aku bayar 4 juta 200 ribu. Mahal ya? Enggak. Tetep enggak sih kalau kataku. Karena seberapapun yang kamu keluarin kalau mau jadi tamu Allah itu nggak sebanding sama apa yang kamu dapat. Seriously. Aku baru beli tiket aja, langsung diganti sama sebuah telepon, "Mbak, Tahun depan tolong masuk di tim proyek ini ya". Istilahnya, baru niat aja, udah diganti uangnya. Dan setiap orang pasti punya keajaibannya sendiri-sendiri. Aku? Buanyak! Artikel ini akan jadi panjang banget kalau aku tulis disini, next time aja ya!

Total Budget

Okay, jadi totalnya aku sekalian total semua-muanya nih. Look at this..

Iya, di Saudi kita cuma perlu bayar tiket, visa+asuransi, LA. Dan kalau kamu nggak hobi jajan ya nggak perlu uang saku karena makan dijamin 3 kali sehari. Kecuali kamu mau sedekah, atau mau visit pribadi kemana gitu, atau beli oleh oleh buat sekampung. Bus wisata sudah include di LA yang aku bayar lewat travel itu, kemana-mana juga gratis. Aku aja sampai hari terakhir nggak ngeluarin uang buat jajan, baru hari terakhir aja masuk mall hehehe.. JANGAN DITIRU, ibadah-ibadah.. Disana fokus ibadah ya! :)

Sebentar, aku tambahkan juga kenapa aku nyebut murah. Karena sebenarnya aku sudah update harga-harga dari travel. Temanku yang umroh 2018 lalu bilang, dia bayar 23 juta untuk umroh saja. Lalu aku keep updating, dan memang harganya variatif disitu, ada yang 25, ada yang 22, ada yang 29 juta. Dan ada yang 35 juta untuk umroh plus turki. Aku kurang tahu bagaimana rinciannya, yang jelas mereka bilang di catatannya sekamar ber-4 dan hanya 12 hari. Waktu itu aku belum berani cari info lanjutan, sampai akhirnya Allah ngasih jalan yang lebih mudah.

Oh satu lagi sampai lupa, perjalanan di Februari 2020 kemarin itu, aku berangkat tanggal 4. Dan pulang tanggal 20. Di KL tanggal 4 sampai tanggal 6. Tanggal 7 hampir seluruhnya di pesawat, sampai Cappadocia sudah jam 10 lebih (malam). Tanggal 8 full di Cappadocia dan balik ke Istanbul. Di Istanbul sampai tanggal 11. Sampai di Jeddah lagi tanggal 12 langsung ke Madinah sampai tanggal 15 bada' Dhuhur perjalanan ke Mekah. Sampai tanggal 19 jam 13 lebih pulang transit KL sampai tanggal 20 pagi. Langsung balik ke Surabaya. 2 minggu lebih yang sangat-sangat menyenangkan, bismillah nanti mau lagi.

PS. Di Malaysia mahal amat mbak Ta, 2 hari uang sakunya 600ribu, hahaha.. Itu hoaks, eh bukan hoaks ding, alias ada yang salah sama aku waktu itu. Kapan-kapan aku tulis deh gimana di KL, gimana di Istanbul, di Cappadocia sama gimana umrohnya. Hari ini sudah ya, mau lanjut ke Pasal selanjutnya dulu.. #Eh


Share:

Popular Posts

Labels

Blog Archive