Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?

SIKAP MILENIAL PADA EKONOMI DIGITAL

Di bangku sekolah, kita pernah mengenal istilah barter. Merujuk KBBI, barter berarti “perdagangan dengan saling bertukar barang”. Pada zamannya, bertukar barang menjadi alat pembayaran yang sah. Seiring berjalannya waktu, sistem barter itu tergerus masa. Digantikan koin dan lembaran khusus bernama uang. Perkembangan dunia ekonomi tanpa sadar memang berkembang sangat pesat, dan dibalik itu, teknologi informasi menjadi salah satu faktor utama penyebabnya. Dengan berkembangnya teknologi, sektor ekonomi tak pelak juga mengalami perkembangan.

Kini, di era industry 4.0, digital economy menjadi revolusi yang begitu melekat di kalangan milenial. Tak hanya di Indonesia, ekonomi digital kini menjadi hal yang diperhitungkan hampir seluruh negara di dunia. Baik dalam kerangka kebijakan, maupun keseharian.

Tentang Ekonomi Digital

Seperti lagu Ed Sheeran, and everything has changed, the world has changed too. Dalam sebuah publikasi yang dilansir oleh World Bank Group, kita akan disadarkan betapa dunia memang berganti tatanan. Satu dekade lalu, bila kita bicara bisnis akomodasi maka hotel adalah investasi alias modal utama, itu wajar. Bila kita bicara bisnis taksi pasti perlu modal berupa armada. Tapi kini tidak. Dunia berubah. Ada hal-hal yang tak lagi diperlukan. Dunia kini bergantung penuh pada teknologi. Begitu pula dalam hal bisnis ekonomi. Istilah kerennya, digital disruption.



Secara harfiah, digital disruption didefinisikan sabagai perubahan pola hidup dan bisnis karena teknologi digital. Saat Alibaba, sang raja ritel tak punya inventor. Saat Facebook, punya media tapi tak perlu membuat konten. Ketika AirBNB, penyedia akomodasi dengan jaringan luas di dunia, namun tak punya properti akomodasi, dan sebagainya.

Di Indonesia, nyata terlihat di depan kita adalah GOJEK dan GRAB. Keduanya bergerak di bidang transportasi berbasis aplikasi, dan tidak punya armada. Seperti halnya UBER. Namun UBER kini sudah tak lagi beroperasi di Indonesia. GOJEK dan GRAB menjadi dua usaha digital sukses yang bisa kita saksikan dalam keseharian.

Bisnis menggunakan teknologi alias digital ini semakin hari semakin bertambah. Dan di masa depan akan semakin bertambah. Ekonomi digital pertama kali disebut dalam buku The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence oleh Don Tapscott. Ekonomi digital dinilai lebih “cerdas” dalam kaitannya dengan fungsi digital, dan lebih terkoneksi dalam kaitannya dengan financial service, commerce, dan lainnya.




Untuk mengimbangi perubahan bisnis yang terjadi, kebijakan juga bertransformasi. Berbagai sektor diolah untuk dirumuskan menjadi kebijakan yang tepat guna. Bahkan, Pemerintah kini memiliki visi besar dalam sektor ekonomi digital. Yaitu target Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN. Tak main-main, nilai transaksi e-commerce diproyeksikan akan mencapai 130 juta Dollar AS pada tahun 2020 nanti. Untuk mewujudkannya, Pemerintah terus bergerak.

Dalam acara Bali Fintech Agenda, salah satu event rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 lalu, Pemerintah menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi digital membutuhkan kebijakan yang akomodatif. Kebijakan secara light touch (tidak terlalu mengekang) dan safe harbour. Safe harbour dalam artian tanggung jawab terpisah antara penyedia situs jual beli daring berkonsep marketplace dengan penjual yang memakai jasa mereka. #Ecodigi

Apa Elemen Ekonomi Digital? #EcoDigi

Berdasarkan paparan BI Institute dalam Rakernis Nasional I Tahun 2018 Juli lalu, terdapat 10 elemen ekonomi digital yang berkaitan satu dengan lainnya. Dari kesepuluh elemen tersebut, salah satunya adalah fintech, e-commerce dan smart money. Lihat gambar berikut untuk lebih jelasnya.



Fintech, e-commerce dan smart money ini cukup dekat dengan hidup milenial. Bagaimana tidak, untuk membeli ini dan itu, milenial hanya perlu membuka gadgetnya. Klik ini dan itu, lalu selesai. Barang akan dikirim oleh kurir. Dalam keseharian untuk pergi kesana kemari, milenial menggunakan online cab dan membayar menggunakan smart money alias cashless. Hal-hal yang mungkin tidak banyak disadari bahwa perilaku itu adalah perilaku #ecodigi.

Terapan #EcoDigi di Kalangan Milenial

Peralihan cash ke cashless menjadi salah satu tolok ukur bagaimana digital economy menjadi faktor yang diperhitungkan dalam transaksi ekonomi. Dan kini, di Indonesia ada dua kategori pembayaran non tunai. Pertama AMPK, akronim dari Alat Pembayaran Menggunakan Kartu berupa kartu ATM atau kartu kredit. Kedua, uang elektronik.

Untuk memahami APMK dan uang elektronik, lihat infografis berikut ini.


Dalam keseharian, penggunaan baik kartu debit, kredit, juga uang elektronik sudah menjadi life style. Terlebih dengan banyaknya kemudahan-kemudahan juga potongan harga yang diberikan untuk menggunakan fitur-fitur dari penyedia layanan. Misal potongan harga 30% diberikan saat seseorang membayar makanan dengan kartu debit BNI di sebuah restoran. Potongan harga 500 ribu diberikan saat seseorang membayar barang elektronik dengan menggunakan kartu kredit BCA. Potongan 50% dengan menggunakan uang elektronik Go-Pay, Tcash, OVO dan uang elektronik lainnya. Hal demikian sangat mudah kita jumpai saat ini.

Let Face It!


Well, pemerintah sudah melakukan perannya. Misal, BEKRAF sudah meluncurkan aplikasi BISMA guna mendata perkembangan industri kreatif yang dalam usahanya tak lepas dari seluk beluk digital. Industri kreatif ini berhubungan dengan #ecodigi. Begitu pula dengan swasta. Swasta sudah berpacu melancarkan gerakan melalui ekonomi digital. Seperti dengan menciptakan aura bisnis berdasarkan ekonomi digital, misal dengan pembayaran non tunai. Kampanye pemindahan cash into cashless dengan memberikan diskon atau promo menarik.



Lantas bagaimana dengan milenial seperti kita?

Sejatinya milenial sangat terbuka dengan iklim ekonomi digital yang ada di Indonesia. Bisa kita lihat, kini banyak anak muda yang lebih mengandalkan e-commerce dalam membeli keperluan harian. E-commerce di Indonesia juga sangat beragam dengan pangsa pasar yang berbeda-beda. Lalu, milenial juga banyak yang mulai mengandalkan cashless dengan aplikasi untuk transaksi. Kemudahan menggunakan uang elektronik, seperti GO-PAY juga TCASH dan aplikasi lain yang menawarkan uang elektronik sangat diminati para milenial.



Ekonomi Digital itu Kita Banget. Seperti demokrasi, it’s from us, by us and for us. Maka peran kita untuk ikut “bermain” dalam bidang ekonomi digital ini sangat ditunggu. Bukan hanya pengguna, mari kita ikut menyelami dunia bisnis digital. Let’s face it guys! 




Share:

Apartemen, Bagaimana Hunian Jenis ini Dalam Tata Ruang?

Jajaran apartemen di Central Business Distric Kota Surabaya [photo pribadi]

Bicara soal hunian memang tidak akan pernah ada habisnya. Karena tempat tinggal menjadi kebutuhan primer bagi semua manusia. Manusia hidup pasti butuh tempat tinggal. Nah dalam keprofesian planner, hunian ini banyak sekali jenisnya. Salah satu yang kita kenal adalah apartemen.

Sedikit Tentang Zona Permukiman

Umumnya dalam perencanaan landuse permukiman, para perencana (planner) lebih memperkirakan kebutuhan ruang untuk landed house. Karena dalam perencanaan ruang, luasan itu menjadi begitu penting. Kita tentu tahu, proporsi perlu diperhitungkan agar suatu wilayah berkembang. Namun tetap melihat daya dukungnya.

Nah dalam proses pembuatan dokumen tata ruang, planner akan melihat, seberapa banyak penduduk dalam proyeksi sekian tahun kedepan. Biasanya 20 tahun. Proyeksi penduduk itu kemudian diformulasikan agar mendapat luasan lahan terbangun. Luasan lahan itu kemudian dituangkan dalam rencana, seperti wilayah mana yang akan difokuskan sebagai zona permukiman. Tentu, untuk memastikan mereka dapat membangun rumah. Dan tentu banyak pertimbangannya.

Lalu bagaimana dengan perencanaan apartemen?

Perkembangan Vertical House Pesat

Dewasa ini perkembangan vertical house yang biasa dikenal masyarakat sebagai apartemen memang sangat pesat. Surabaya saja, dalam 5 tahun ini muncul banyak apartemen baru. Dan bisnis sewa apartemen maupun jual apartemen juga menjadi trend yang berbanding lurus dengan pengembangan vertical house. Terlebih saat era digital, AirBNB juga merambah apartemen sebagai rekanan bisnisnya.

Namun, sudahkah para planner menghitung kemungkinan vertical house akan dibangun? 

Bagaimana Sikap Planner?

Landed house vs Vertical House di Surabaya Timur [photo pribadi]
Ini berkaitan dengan banyaknya penduduk yang bisa menempati satu vertical house. Bila apartemen di bangun pada lahan berukuran 20 hektar, berlantai 10, maka bisa menampung begitu banyak manusia. Dan kebutuhan akan landed house berkurang. Atau sebenarnya, munculnya vertical house ini hanya di kota-kota besar yang sudah tidak memiliki ruang untuk membangun landed house?

Saya sendiri, sebagai planner belum pernah merencanakan pengembangan vertical house. *masih junior :D* Dan rasanya pemerintah belum memiliki aturan yang jelas akan penyediaan vertical house. Atau saya yang tidak update, entahlah.

Umumnya, pada khalayak ramai, vertical house atau apartemen lebih dibahas dari sisi design-design tertentu. Misal design apartemen yang minimalis, interior apartemen yang manis. Atau juga dibahas dari sisi untung rugi tinggal di apartemen. Jarang, bahkan belum pernah saya temui bagaimana pengembangan apartemen dari sisi para planner.


Anyway, seharusnya, sebagai planner, bagaimana kita menyikapi hal ini?



Share:

WONDERFUL INDONESIA, INI REALITA!


Satu kali waktu, saya pernah ke negeri tetangga. Menapaki beberapa tempat wisatanya. Tapi entah kenapa saya tak menemukan rasa takjub seperti saat saya menginjakkan kaki di belahan wilayah Indonesia. Bagi saya, wonderful Indonesia itu sungguh nyata.

Realita.

Dan semakin di jelajah, semakin speechless dibuatnya.

***

Sedari kecil saya adalah anak rumahan. Tak pernah keluar kalau bukan urusan ke rumah tante di luar kota. Maklum, saya tidak lahir dari keluarga berada yang kapan saja bisa liburan kesana dan kemari. Dan lagi, kala itu, liburan bukan life style yang populer seperti masa kini. Kuliah menjadi start awal saya jalan-jalan. Seutuhnya jalan jalan. Tanpa membawa misi silaturahmi ke rumah saudara. Dan lalu, jalan-jalan itu menjadi candu.

Hingga kini.


Hampir setahun lalu, berlabuh di Pelabuhan Luwuk, Kab. Banggai

Well, i never tell anyone before, but there are tons of magic moment when i was travelling, and that was made me speechless. The only thing that kept pop up in my mind was, Indonesia really wonderful.



JOGJA, NEVER ENDING STORY

No, i wasn't princess who tried to take a bath here, hehehe
Walau hanya berjarak 3 jam dari rumah, saya benar tak pernah ke Jogja. Sampai pada libur semester 1, saya dan 3 sahabat saya mbolang ke Jogja. Budget hanya pas-pas bercampur rasa was-was. Yap, sedikit cemas karena literally ini adalah perjalanan jauh kami yang pertama. Tanpa orang tua, juga sanak saudara.

Pagi-pagi kami naik kereta dari Gubeng ke Lempuyangan, dan bertahan hampir satu minggu. Mengitari jalanan Jogja. Bertemu kawan lokal. Main-main ke UGM. Bercengkrama di benteng vredebrug. Ke kraton, ke taman pintar, ke banyak sudut Kota Gudeg itu. Banyak hal yang kami lakukan. Ada banyak cerita juga tawa disini. Tak akan habis kata untuk mencurahkan seluruh moment keren yang saya rasakan di Jogja. 

Foto saya di taman sari itu hanya satu foto dari sekian ribu foto yang kami ambil dengan scene di Jogja.

Berkali-kali ke kota ini, dan kami tetap jatuh hati. Dan kini, setiap kali ada kesempatan, kami selalu menyapa kota ini. Membayar rindu yang kadang menjadi hantu. Seperti Sabtu, dua minggu yang lalu. Saya ke Jogja hanya untuk jogging di Malioboro, hahaha


GILI LABAK: TIDUR, SALAT, MAKAN DI PANTAI

The sunset was wonderful
Saya ingat, saya terperangah ketika cahaya mentari lepas tengah hari itu menyelimuti lautan yang begitu luasnya. Saya tak melihat daratan. Sejauh mata memandang, seluruhnya adalah air. Saya tak punya fotonya, tapi semua terekam rapi dalam memori saya. Kapal kecil yang saya dan 9 sahabat saya tumpangi kala itu melaju diiringi suara mesin dissel. 

Gili Labak adalah pulau kecil di Sumenep, Madura. Kini banyak dijadikan jujukan para traveler. Saat kami kesana, belum banyak dijamah. Seperti private beach. Baru disini saya berenang berjam-jam di pantai. Berlatih snorkling and that was awesome. I saw many things that i even didn't think about.

Kalau waktu bisa diulang, rasanya saya ingin kembali ke moment itu. Berkemah di tepi pantai. Bakar ikan segar yang diberi cuma-cuma oleh penduduk lokal. Salat di temani deburan ombak. And even done our private matter in the middle of open field. That's crazy, indeed. But, it was fun. 


BOROBUDUR, WHAT A MAGNIFICENT VIEW


Siapa tak kenal Borobudur. Keajaiban dunia di Magelang ini sungguh begitu memukau. Saya ingat persis, saya dan Indah ke Borobudur tanggal 17 Agustus 2013. Nekat. Motoran dari Jogja. Bolos kerja praktek. Well bukan bolos, karena hari itu tanggal merah. Kami kira libur. Dan jadilah kami menyusuri jalanan Jogja Magelang. Menembus dua batas provinsi. Dan sampai sini, terbayar. Lelah kami mencari jalan, tanya sana sini karena nyasar hilang. Lepas ketika kami masuk gerbang kawasan megah ini.

"Borobudur, what a magnificent view", i said. It really really really wonderful artifact. Arsitekturnya, ukiran-ukiran relief-nya, ceritanya. Everything. Termasuk museum kapal, saya lupa apa namanya. Satu hal yang pasti, saya bersyukur bisa menyaksikan Borobudur dengan mata secara langsung. Dan ini realita, wonderful Indonesia. <3 


PACITAN DAN BINTAN. DUA KOTA SEJUTA WISATA



2015 dan 2016, saya berkali-kali mengunjungi Pacitan. Dan 2016-2017 saya tinggal di Batam. Ada banyak cerita. Wonderful Indonesia sungguh nyata adanya. Di dua kota, eh 3 kota sekalian dengan Batam ini saya mendapati fakta bahwa Indonesia begitu kaya. Indonesia punya objek daya tarik wisata (ODTW) yang melimpah.

Saya tak akan cerita banyak. Saya hanya akan tanya, stress? Well, saya sarankan datangi Pacitan dan Bintan.


Senja dari Masjid Jabal Arafah Batam, dari sini kita bisa melihat skyline Singapore


Pacitan adalah surga pantai. Berbatasan langsung dengan Segara Kidul menjadikan garis pantai Pacitan begitu Indah


Tresure Bay Bintan. THIS IS BIG POOL. Beneran gede banget dan kece buat yang suka berendam dalam air. Lepas Tahun Baru 2017 saya mengunjungi Bintan seorang diri. 
DIENG: BAYANGAN SLOW MOTION SUNRISE

Sunrise di Puncak Sikunir. Puncak ini menjadi spot terbaik untuk melihat sunrise. Versi saya ya! Naiknya matahari perlahan-lahan itu rasanya speechless. Rasanya degupan jatung seakan seirama dengan pergerakan bola raksasa itu.

Saya punya video geraknya sunrise di Dieng ini. Tapi saya sengaja tidak menguploadnya. Silakan datang kesana. It's really wonderful.

Pagi-pagi saya dan sahabat ke puncak bukit. Janjian pukul 3 menuju lokasi hanya hoax semata karena DIENG SUNGGUH DINGIN. Saya lupa berapa derajat waktu itu. Kami mengurungkan niat. Pukul 4 lebih kami baru bergerak keluar dari homestay.

Disini, saya merasa betapa hidup sungguh ada maknanya. Ada yang perlu kita perjuangkan. Dan disini pula, pikiran saya puluhan kali memikirkan satu hal pasti. Wonderful Indonesia.


LUWUK, TELUK MELIUK DARI BUKIT KELES


Ini kali pertama saya melihat garis antara laut dan darat begitu indah. Begitu mengagumkan. Birunya laut dari atas bukit kota ini membuat hati dan pikiran sejuk. Luwuk. Salah satu wilayah di Sulawesi Tengah itu cukup menyenangkan untuk istirahat dari segala penat. You should try it!


IN THE MIDDLE OF SEA 

Pengalaman saya di tengah laut bukan hanya saat menuju Gili Labak. Ada banyak pengalaman breathtaking di atas kapal yang bagi saya adalah pengalaman luar biasa. Dan menikmati betapa Wonderful Indonesia itu sungguh benar adanya.


Selat Bali. Di tengah-tengah Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Kapal kala itu berhenti ditengah-tengah, menunggu labuh. Dan look! That's beautiful view!


Nyebrang dari Batam ke Bintan dengan kapal ferry pagi itu menyenangkan sekali. Dimana mana warna biru senada. 


Still love blue blue and blue. Ini adalah moment magic kesekian saat saya menjelajah Indonesia. Kala itu di sebuah kapal Bahari Ekspress, dari Luwuk ke Banggai Laut.


--
Traveling, it leaves you speechless, then turn you into story teller. ~ Ibn Battuta, The Travel of Ibn Battutah

Yeah, tak akan habis kata untuk menggambarkan betapa Indonesia sungguh indah. Indonesia sungguh kaya. Dan Wonderful Indonesia adalah realita. I am in love with this beautiful country so much. 😃

--

Anyway, artikel ini saya ikutsertakan dalam lomba Wonderful Indonesia Blog Competition lhoo! Dan teman-teman juga bisa ikut serta dalam blog competition ini. Caranya? Easy! Just click this link https://goo.gl/forms/RJuGs5pjTXEj5ZpD3 and follow the T&C. :)



Share:

MAXONE DHARMAHUSAHA: BEST GUEST EXPERIENCE IN CLEANLINESS 2018


Kalau nginep di hotel, dan hotelnya bersih juga rapi kan seneng ya? Naah. Kabar baik dari Maxone Dharmahusada. Di 2018 ini, Maxone Dharmahusada dalam Traveloka Awards mendapatkan penghargaan Kategori Best Guest Experience in Cleanliness. Pencapaian ini diungkap dalam perayaan second anniversary Maxone Dharmahusada, 5 November lalu.
--

Para tamu yang ikut memeriahkan acara perayaan second anniversary
Yep, awal bulan ini Maxone Dharmahusada mengundang sejumlah blogger ke rooftop yang dikenal dengan Sky Cave Rooftop Lounge. Pesta bertema Hawaiian Party itu cukup meriah dengan beberapa rangkaian acara. Seperti live music, lomba makan spicy Samyang dan burger yang diolah khusus oleh Chef Hernanto, Chef Maxone Dharmahusada. Selain itu, acara juga dikemas dengan pemberian hadiah pada para pemenang kontes foto instagram yang telah diselenggarakan sebelumnya. Dan tak ketinggalan prosesi tiup lilin dan potong kue. Satu lagi, Maxone Dharmahusada memberikan banyak doorprize seperti free ticket untuk menginap di Hotel Maxone Bali.

Sambutan sebelum prosesi pemotongan kue

Acara yang sangat meriah itu dimulai pukul 6 dan berakhir pukul 10 malam. Para tamu dijamu dengan masakan khas Maxone Dharmahusada. Di samping juga dapat menikmati suasana malam di rooftop yang dihias sedemikian rupa dengan balon-balon di beberapa sudut.



Dalam kesempatan inilah, Martin, General Manager Hotel Maxone Dharmahusada menyampaikan bahwa hotel bintang 3 yang berusia 2 tahun itu telah mendapat predikat sebagai hotel bintang 3 paling bersih untuk regional Jawa Timur. Penilaian yang disaring murni dari pengguna Traveloka dan menjadi tamu di Maxone Dharmahusada itu tentu menjadi titik yang membanggakan. Martin mengungkapkan bahwa seluruh jajaran Maxone Dharmahusada akan terus memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu.

Bahkan, setelah mendapat penghargaan ini, Martin bertekad untuk meraih predikat di kategori lain. Yaitu kategori Food and Beverage. Apa yang dicita-citakan ini tentu karena Maxone Dharmahusada, sebagai hotel bintang 3 memiliki fasilitas Food and Beverage yang komplet. Di lantai 1, pengunjung bisa menikmati makanan di Cardamon Bistro, dan ngopi asyik di Percent by Simply Brew. Pengunjung juga bisa menikmati lunch di Sky Cave Rooftop Lounge.

--

Maxone Hotel Dharmahusada
Alamat. Jalan Dharmahusada 189 Surabaya
Telp. +62 31 5957258
Web. www.maxonedharmahusadasurabaya.com
IG. maxonedharmahusada


Ps. Saya pernah mereview Maxone Hotel Dharmahusada, termasuk dimana lokasi strategisnya. Silakan kunjungi link kenyamanan hotel maxone ini dan link lunch in Maxone ini.
Share:

SIOLA: BUKTI CAGAR BUDAYA ITU HIDUP!

Eksistensi Surabaya sebagai kota pahlawan memang tak pernah lepas dari sejarah yang panjang. Sebagai kota yang telah berkembang sebelum era merdeka, Surabaya menyimpan sosial budaya yang beragam dan kompleks. Tak hanya bukti perebutan kemerdekaan, salah satu bukti perkembangan ekonomi dari era ke era hingga kini masih kokoh berdiri. Namun, dikemas dengan kegiatan yang berbeda.

Saya ingat, saya mulai pindah ke kota ini saat SMA, tahun 2007. Di tahun itu kali pertama saya menginjakkan kaki di Siola untuk membeli sepatu. Setelah kuliah, hampir setiap hari saya melewati Siola. Dengan rumah di Petemon dan kampus di ITS, jalan Tunjungan juga Jalan Genteng Kali adalah jalanan wajib pulang pergi ngampus. Dan saya bisa melihat dengan pasti, Siola terus berganti wajah. Mulai dari department store, jajaran para PKL, toko buah modern, hingga showroom mobil bekas. Setelah beberapa tahun “diswastakan”, Siola akhirnya dikelola sendiri oleh pemerintah Kota Surabaya.

Siola merupakan salah satu bangunan cagar budaya. UU Nomor 11 Tahun 2010 mendefinisikan cagar budaya sebagai warisan budaya yang bersifat kebendaan. Salah satunya berupa bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang, berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap. Dan Siola yang dibangun pada 1877 itu memenuhi syarat tersebut.

Cagar budaya perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting. Tak hanya sejarah, namun juga ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Sebagai kota yang menghargai perjalanan sejarah heroik, Kota Surabaya begitu concern terhadap cagar budaya. Dalam Perda Nomor 5 Tahun 2005, Kota Surabaya mengatur pelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya. Melalui aturan ini, Kota Surabaya memberikan patokan bahwa bangunan cagar budaya adalah bangunan buatan manusia, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, bangunan yang mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya tersebut sekurang-kurangnya 50 tahun. Sebagai bangunan bersejarah yang dulu dinamai gedung HET ENGELSCHE WARENHUIS alias Toko Serba Ada Inggris, Siola ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Walikota tahun 2011 silam.


Penetapan Siola sebagai bangunan cagar budaya adalah upaya pelestarian cagar budaya. Bila berstatus sebagai cagar budaya, maka bangunan yang terletak di Jalan Tunjungan No 1-3 ini tidak boleh dipugar. Bangunan asli harus dipertahankan sehingga nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang selama ini melekat pada Siola tetap dapat disaksikan dan dinikmati. Pelestarian ini juga bertujuan untuk memanfaatkannya sebagai kekayaan budaya serta dikelola untuk kepentingan pembangunan dan citra kota.



Struktur Siola yang kita lihat saat ini adalah struktur 50-an tahun yang lalu. Bentuknya sama. Hanya saja sering berganti warna dan kegiatan. Kenapa 50-an tahun? Bukankah Siola berumur 141 tahun? Betul. Namun bangunan aslinya pernah rusak dan diperbaiki.

Siola dibangun oleh investor Inggris, Robert Laidlaw sebagai pusat pertokoan dan grosir. Jika diibaratkan, Siola dimasa lalu seperti ITC yang menjual barang dengan eceran juga grosir. Kala itu, Robert adalah pemilik perusahaan ritel besar dunia, Whiteaway Laidlaw & Co. Pada 1935, Robert meninggal dan usahanya juga ikut mati.


Setelah itu Siola diambil alih oleh pengusaha dari Jepang. Siolapun berganti nama menjadi Toko Chiyoda yang digunakan sebagai lapak tas dan koper terbesar di Surabaya. Chiyoda begitu populer masa itu. Hingga banyak orang membaca peluang yang sama. Di Jalan Praban dan Gemblongan mulai muncul toko tas dan koper. Chiyodapun tak bertahan lama. Bukan karena persaingan, melainkan karena Jepang menyerah pada sekutu. Pengusaha dari Jepang itu mengakhiri masa Chiyoda tak lama setelah Jepang mengibarkan bendera putih pada sekutu. Chiyodapun kosong.

Tepat pada November 45, masa-masa menegangkan kala itu, Chiyoda difungsikan sebagai markas dan basis pertahanan rakyat Surabaya dari serangan sekutu. Chiyoda akhirnya rusak dan terbakar. Tak tahan disasar tembakan tank-tank pasukan sekutu. Chiyodapun tak terurus hingga Presiden Soekarno mengambil alih gedung menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya pada 1950.



Tahun 1960, Siola kembali hidup. Lima pengusaha bernama Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem dan Aang menyewa gedung dan merenovasinya. Setelah utuh kembali, para pengusaha tersebut memberi nama SIOLA sebagai akronim nama mereka. Siola dijadikan pusat grosir dan merupakan pusat perbelanjaan pertama di Surabaya. Masa kejayaan Siola ini terhitung cukup lama. Sayang, 1998 tutup. Siola kalah saing dengan pusat perbelanjaan baru seperti Tunjungan Plaza. Setelah tutup, Siola dijadikan sebagai pusat perdagangan elektronik bernama Tunjungan Center. Namun juga tak mampu bertahan. Siola kembali kosong.

Satu tahun menjelang, Siola akhirnya disewa oleh Ramayana Department Store. Namun Ramayana juga tutup pada 2008 karena sepi pengunjung. Siolapun kembali diubah namanya menjadi Tunjungan City dengan bergonta-ganti aktivitas. Tak berlangsung lama, Tunjungan City dikembalikan lagi namanya menjadi Siola. Pada 3 Mei 2015, Siola dibuka kembali dengan skema kegiatan yang berbeda. Tak lagi bersinggungan dengan bisnis dan ekonomi, Siola disulap sebagai Museum Surabaya. Berselang 2 bulan, tepatnya 15 Juli 2015, UPTSA Pusat juga resmi menghuni Siola. Puncaknya, pada 2017 lalu Siola diresmikan sebagai Mall Pelayanan Publik terpusat di Surabaya.





Hari itu, saya sengaja naik angkutan umum. Berjalan menyusuri trotoar Jalan Tunjungan yang lebar dan walkable. Sesekali mengambil foto bangunan yang dirawat baik walau tak berpenghuni. Dan berakhir di Siola, tujuan utama saya.

Apa yang saya temukan di Siola? Silakan lihat slideshow berikut.



10 tahun tak tahu arah, kini Siola kembali menjadi kebanggaan warga kota. Dengan dikembangkannya Siola sebagai Mall Pelayanan Publik, warga dapat menghemat waktu dalam mengurus perizinan yang bersifat paralel. Misal saat mengurus perpanjangan SIM, mereka cukup membayar di bank yang berjarak beberapa meter. Pun saat ingin membayar pajak. Kala diresmikan, Menteri PAN-RB Asman Abnur memberikan apresiasi, “Mall perizinan ini baru pertama ada di Indonesia dan bisa menjadi pilot project bagi kota-kota yang lain.”

Terbukti. Kini beberapa kota di Indonesia mulai mengembangkan Mall Pelayanan Publik. Pasca peresmian, Siola sangat ramai dikunjungi pemerintah kota lain untuk study banding. Bahkan Maret lalu, Joe Anderson, Walikota Liverpool dan wakilnya, Gary Millar juga Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik mengunjungi Gedung Siola. Mereka meninjau museum siola, command center room 112 dan KORIDOR. Bila dulu Gedung Siola dibangun oleh orang berkebangsaan Inggris, 2018 ini Siola kembali dijelajah oleh orang Inggris.

Kini setiap hari ratusan orang datang silih berganti untuk mengurus perizinan dan administrasi. Berinteraksi dengan pemerintah untuk mendapat pelayanan yang diinginkan. Cagar budaya ini kembali dihidupkan dengan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dirawat dengan baik, bersih, dan rapi. 

--

PS. Seluruh foto dan video merupakan milik pribadi, kecuali ruangan Command Center 112 adalah milik detik.com, foto Siola Tahun 1937 oleh Facebook Page Surabaya Tempo Dulu + dan foto pawai yang melewati Jalan Tunjungan Tahun 1950 memperlihatkan Siola hancur oleh Akun Twitter @SbyTempoDoeloe
Share:

Popular Posts

Labels

Blog Archive