Ta.

It's all about lifestyle in a city

Kini Tak Perlu Rebutan Wafer Khong Guan


Saya tak suka kue kering selain choco chips. Itupun hanya satu atau dua biji, mengobati rasa penasaran si lidah. Karena entah mengapa, setelah selesai kuliah saya tak suka rasa manis berlebih. Bahkan, kini seduhan teh hampir selalu saya minum tanpa gula.
Saat lebaran, di meja jarang sekali dihidangkan kue kering. Kalaupun ada yang berkunjung membawa kue kacang, nastar, putri salju, kastengel, dan beragam jenis kue kering lainnya, besar kemungkinan kue itu hanya akan berpindah empunya. Alias kembali dibagi-bagikan ke sanak famili.
Alih-alih kue kering, biasanya ada buah-buahan, keripik atau kacang rebus yang disajikan. Namun, ada satu yang hampir selalu ada saat lebaran: kaleng Khong Guan, calon 'rumah' bagi rengginang. Hehehe.
Alert: artikel ini tidak di-endors oleh perusahan roti terkenal itu. :D

Di dalam kaleng Khong Guan, ada berbagai macam biskuit. Bentuknya pun beragam: persegi ada, bulat ada. Nah kalau ditanya kue yang saya suka saat lebaran, tentu saja wafer lapis Khong Guan.
Wafer memang bukan termasuk jenis kue kering, tapi bisa diolah menjadi kue kering dengan lapisan krim. Untuk saya yang tak suka kue kering, menggilai wafer lapis saat kaleng pertama kali dibuka ini ternyata bukan perkara up normal. Buktinya? Banyak kok yang melakukan hal yang sama. Kamu juga kan? Ngaku! Coba, coba kita bikin poling saja. :)

Alasan Psikologis Pecinta 'Wafer Lapis Khong Guan'


Kali pertama kaleng dibuka, mata langsung tertuju pada plastik bening bergaris merah melingkar, khas. Menampakkan si wafer sebagai makanan ter-'wah' dalam "rumah" puluhan biskuit itu.
Dan saat berhasil mendapatkannya pasti ada rasa kepuasan tersendiri. Usut punya usut, ada alasan logis psikologi manusia atas perilaku ini lho!
Saya kutip dari brilio.net, Majalah SWA menyatakan perilaku ini terjadi karena LE non-moment term. Adalah teknik membuat suatu produk yang secara sengaja dibuat terbatas alias produk limited edition (LE). Secara otomatis, psikologi manusia semacam saya saat mengetahui di dalam kaleng itu ada produk LE, akan beranggapan wafer itu dibuat eksklusif, terbatas jumlah atau pemiliknya.
Anggapan eksklusivitas ini memberikan gambaran kualitas terbaik dari sekian banyak biskuit di kaleng yang bergambar tanpa ayah itu. Jadilah satu atau dua bungkus wafer coklat di kaleng Khong Guan ini sebagai si produk LE non-moment term. Produk limited edition ini sengaja dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan brand produknya. Walau sebenarnya, dalam teori pemasaran tak pernah ada konsep produk LE. Karena, pada prinsipnya setiap produsen justru ingin produknya diterima konsumen dan dipasarkan dalam skala besar dan dalam jangka lama, bukan membatasi jumlah produksi.
Kalau membatasi jumlah produksi seperti konsep LE itu, berarti mengurangi potensi untung dan mengurangi pangsa pasar. Namun ternyata, konsep LE mampu meningkatkan brand produk di mata konsumen. Mungkin, alasan inilah yang membuat perusahaan roti ini kini me-non-eksklusifkan si wafer lapis. Kamu sudah tahu belum?

Tak lagi Ekslusif, Tapi Memanjakan


Kini, bagi kita yang memberikan tag favorit pada wafer lapis KG itu, tak perlu bersusah payah membeli sekaleng roti Khong Guan yang isi wafernya hanya dua, atau terkadang hanya satu. Karena sekarang mereka meluncurkan satu bungkus penuh berisi wafer lapis.
Ya, produsen kenamaan ini akhirnya mengeluarkan wafer lapis sebagai produk tersendiri. Mungkin karena proses eksklusifitas yang diberikan pada si wafer akhirnya membuat biskuit lainnya terasa mubazir. Atau, ya namanya juga bisnis kan?
Di lebaran kali ini, kalau ditanya kue apa yang menjadi idaman saya saat lebaran, saya bisa menyodorkan gambar bungkus wafer ini, bukan kaleng tanpa gambar ayah. Kalau kamu?


Credit Foto.
Foto 1. pixabay dot com
Foto 2. style dot tribunnews dot com
Foto 3. awsimages dot detik dot net dot id
Foto 4. marketplace

Share:

Semangat Berkarya dari Rumah di Tengah Pandemi

Minggu lalu, saya menonton televisi. Sesuatu yang hampir tidak pernah saya lakukan selama 10 tahun ini. Tetapi di tengah pandemi, saya mulai menonton TV. Selain karena bosan dirumah, juga karena punya banyak waktu rebahan, hehe. Di jeda sebuah acara traveling yang saya tonton, ada satu iklan menarik bertajuk ramai sepi bersama dari salah satu provider di Indonesia, IM3 Ooredoo. Iklan singkat itu menyajikan bagaimana bahagia sekaligus haru bisa tetap silaturahmi setiap hari di tengah pandemi dan ramadan kali ini.
But the way, kalian ada yang sudah lihat video iklan IM3 Ooredoo ini?


Bagus ya!
Video ini mewakili kondisi kita semua yang lagi aktivitas dari rumah nggak sih? Kondisi dimana kita tidak bisa ketemu dengan teman, anak nggak bisa pulang kampung alias mudik ditengah pandemi walau lebaran sebentar lagi. It so sad indeed.
Sebagai blogger, saya sendiri juga merasakan bagaimana ramadan kali ini sangat-sangat berbeda dengan ramadan sebelumnya. Biasanya, diawal Ramadan, saya dan teman-teman kopdar di beberapa restoran hotel atau tempat makan yang menjadi tempat kerjasama. Tapi kali ini tidak. Kami hanya sering komunikasi lewat aplikasi chatting, sosial media juga terkadang video call. Imho, alur cerita video singkat itu benar-benar mewakili kondisi masa kini.
Anthem “Ramai Sepi Bersama” yang diinisiasi IM3 Ooredoo itu menghadirkan kolaborasi apik dari Baskara Putra (Hindia), Kunto Aji, Yura Yunita juga Sal Priadi. Liriknya yang mudah, sontak membuat saya ikut menyanyi kecil. Lagu “Ramai Sepi Bersama” yang dibawakan juga menjadi penyemangat, sekaligus pengingat bahwa tidak ada yang lebih penting dari silaturahmi meski ditengah pandemi.
Saya lantas mencari tahu sedikit seluk beluk iklan itu. Ternyata, iklan itu dibuat di rumah masing-masing. Yes, untuk kali pertama, seluruh proses pembuatan iklan IM3 Ooredoo ini dibuat dari rumah masing-masing. Remote ini dilakukan guna mematuhi aturan physicall distancing yang sudah dihimbau oleh pemerintah.

Blogger kini juga work from home

Para talent maupun kru produksi mengandalkan kuota dan koneksi untuk berkomunikasi lewat platform chat, video call, dan email selama proses produksi. Hal ini menunjukkan bahwa yang terjadi saat ini tidak menghalangi kita berkolaborasi. Kita tetap bisa menciptakan karya positif meskipun sama-sama tak bisa ke mana, di rumah saja. Saya jadi kepikiran, kalau mereka bisa, kita tentu juga bisa.
Video yang dihasilkan kualitasnya bagus, pun pesan yang disampaikan sangat kuat. Sebagai pengguna IM3 Ooredoo lebih dari 12 tahun, dengan hadirnya program Freedom Kuota Harian ini, saya merasa seperti pihak IM3 Ooredoo paham akan kebutuhan penggunanya. Selain karena harganya terjangkau, paket yang ditawarkan dapat digunakan untuk internetan 24 jam (di semua jaringan) dengan benefit kuota utama 1GB per hari. Tak hanya itu, program ini ditawarkan dengan kelengkapan fitur pulsa save. So, internetan nyaman dan pulsa pun tetap aman meski kuota utama telah habis digunakan.
Iklan IM3 Ooredoo di televisi

Saya pun lantas mencari tahu tentang paket yang ditawatkan IM3 Ooredoo. Produk Freedom Kuota Harian dilaunching khusus saat Ramadan ini. Dan menjadi pijakan untuk tetap #SilaturahmiSetiapHari meski terbatas aturan physical distancing. Ada beberapa pilihan paket 1 GB seperti 1GB untuk video call saat bukber online bareng teman, kirim pesan silaturahmi/e-card via chat/social media, ikut kajian atau meet up komunitas secara “online”, 1GB untuk dukung kolaborasi, work from home atau aktivitas internetan lainnya selama Ramadan, bahkan juga 1GB untuk video call orangtua karena tidak bisa mudik.
Freedom Kuota Harian dari IM3 Ooredoo

For your information, paket ini dapat diaktifkan melalui *123# atau melalui aplikasi myIM3. Perpanjangan paket otomatis berlaku selama pulsa mencukupi. Ohya, selain itu, IM3 Ooredoo akan mendonasikan Rp2000 untuk membantu menanggulangi Covid-19 dari setiap pembelian paket Freedom Kuota Harian. Jadi kita juga tetap beramal di bulan yang suci ini.
Dan dengan freedom kuota harian, IM3 Ooredoo mendukung kita menjaga #SilaturahmiSetiapHari dengan orang yang kita sayangi. Tak hanya itu, aktivitas internet harian juga jauh lebih mulus.

Share:

BUKU STANDAR BASIS PETA RTR

Buku Standar Basis Peta ATR

Horeeee... akhirnya setelah keluar masuk berkas revisi, revisi siang ini hanya berkaitan dengan definisi.

Ya walaupun sampai sekarang masih belum selesai, Rancangan Peraturan Daerah tentang RDTR sebuah kawasan perkotaan yang saya kerjakan sudah melewati banyak "pintu". Setelah masuk meja Lintas Sektor Kementerian dan Lembaga dalam keadaan prematur Desember 2019 lalu. Entah sudah berapa kali jumlahnya, saya menggeser jumlah pasal, angka, titik koma, dan apapun itu. Siang ini cukup lega dengan revisi minor, Pasal 1 saja. Walaupun saya tidak bisa menebak, badai apa lagi setelah ini. :D

Bagaimana tidak saya sebut badai, bila pekerjaan yang sudah sesuai dengan Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018 puluhan kali revisi. Pedoman penyusunan RDTR sebelumnya adalah Permen PU 20/ 2011 dan kemudian dicabut dan diganti Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018. Saya pernah menuliskannya di artikel Pedoman Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Baru 2018.

Namun baru seumur jagung peraturan itu berlaku, Dirjen Taru mengubah pedoman penyusunan RDTR. Memang induknya masih di peraturan yang sama. Tetapi aplikasinya sangat banyak yang berubah. Adalah Buku Standar Basis Peta. Buku ini kali pertama keluar pada Bulan September 2019. Dan hingga kini (kalau tidak salah sudah berganti 4 versi). Saya bahkan tidak tahu versi terakhir dikeluarkan pada tanggal berapa. Yang saya tahu, Buku Standar Basis Peta yang dikeluarkan oleh Kementerian Agraria ini terdapat versi 30 September 2019 dan 22 November 2019. Saya punya keduanya. Bulan Desember, kabarnya versi November sudah "ditimpa" kembali dengan versi terbaru, bahkan juga Bulan Januari 2020 ini. Untuk yang mau dokumennya bisa kontak saya via email, monggo... 

Sayangnya, buku ini hingga kini masih OFF THE RECORD. Artinya hanya dimiliki oleh Kementerian dan diberikan kepada yang berkepentingan saja. Seperti para PEMDA dan PEMKOT yang sudah mengajukan Persetujuan Substansi RDTR dan RTRW di tingkat pusat. Mungkin kita akan menemukannya di internet, tetapi kita tidak tahu mana yang harus diacu sebelum seluruh dokumen masuk ke meja ATR.

--
Okay, apa yang lantas membedakan antara Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018 dengan Buku Standar Basis Data?

To be honest, banyak sekali. Saya bahkan bingung harus memulai dari mana. Satu yang pasti adalah NOMENKLATUR dan PENGKODEAN. Ketika Rancangan Peraturan Daerah diajukan untuk mendapat tanda tangan dirjen, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui. Pertama masuk klinik. Klinik ini pengecekan secara keseluruhan. Sebentar, maksud saya adalah KESELURUHAN. Iya semua.

Mereka akan mengecek dari fakta dilapangan seperti apa. Analisis kita bagaimana. Sampai bagaimana korelasi rencana dengan eksisting. Terutama, ada 5 pokok yang dicek secara mendetail. Satu, Kawasan Hutan. Dua, LP2B. Tiga, Mitigasi Bencana, Empat, Proyek Strategis Nasional dan Lima adalah saya lupa, hehe Apa ya? Sebentar saya ingat-ingat dulu.

Sambil mengingat coba saya teruskan. Kelima aspek tersebut sangat dipastikan pada daerah perencanaan. Eh sebentar, tim klinik ATR juga akan mengecek deliniasi wilayah lho! Seberapa urgent wilayah tersebut untuk dijadikan bagian wilayah perencanaan (BWP). Ohya, aspek kelima adalah Ruang Terbuka Hijau alias RTH yang kalau saya bilang punya "dramanya" sendiri. Setelah semua clear. Mereka akan mengecek Pasal demi Pasal, Ayat demi Ayat, koma demi koma. Literally EVERYTHING. Semua.

Well, mungkin ini dulu artikelnya. Kapan-kapan saya sambung lagi, termasuk drama apa yang terjadi atas Ruang Terbuka Hijau. :)


Share:

Highlight Perjalanan 'Umroh Backpacker?'


Well, karena banyak yang nanya perjalanan umroh kemarin, sesambil "nyisir" pasal demi pasal Ranperda yang tak kunjung usai, coba aku tulis deh.

First at all, aku mau bilang dulu begini, hmm aku nggak tahu apa yang aku lakukan kemarin bisa disebut sebagai umroh backpacker, karena memang tidak semua proses aku lakukan mandiri. Ada yang aku urus sendiri, ada yang minta tolong diuruskan pihak travel. Nanti aku jelasin kenapa. :) Second, kalau nggak yakin kenapa judulnya gitu Ta? Suka-suka akulah! Aku yang nulis kok, hahaha Nggak-nggak, jahat banget Tata! HAhaha.. Biar kaya click bait aja, hahaha Nggak juga. Ya, karena kali ini mau bahas uang aja, biar semangat nyari uang lagi, biar tetep tutup telinga waktu dikatain sering banget lembur, nggak pernah libur, nggak pernah pacaran blablabla.. wait, like I care? Hahaha... /LOL

Dan karena aku malas, hahaha maka nanti aku rangkumin seluruh perjalanan aja. Mulai dari Malaysia, Turki dan Arab Saudi. Hmm dan bisa ngefek banget kalau diperinci per negara aja. Apalagi dengan highlight apa aja yang aku lakukan di negara itu. Somehow, I still thought, maybe I just dreaming. Saking bahagianya bisa ngelihat banyak hal yang belum aku pernah lihat sebelumnya, di perjalanan bulan lalu.

Oke. Aku mulai dari highlight budget dulu kali ya, karena ini yang paling berpengaruh, dikantong gue wkwk. Dan karena aku suka lupa, kaya perjalanan ke Penang dan Hatyai kemarin. Untung Indah sudah nulis disini

Baiklah.

Harga Tiket Pesawat

Dari segi budget, yang paling banget berpengaruh adalah harga tiket pesawat. Pesawat yang aku pesan adalah Malaysia Airlines (MH), Saudia Airlines, dan Turkish Airlines. MH untuk Surabaya - Kuala Lumpur PP, Saudia Airlines untuk KL - Jeddah (transit) - Istanbul - Jeddah (umroh) - KL, dan Turkish Airlines untuk Istanbul - Cappadocia Return.

Pertama Saudia. Ini sempet aku singgung kemarin di Kejadian di Pesawat, sedikit. Dan ini aku juga bakal nyinggung dikit doang, biar nggak dikira jualan, apalagi endorse. Saudia kapan aku di endors? Hiks. Siapa kau nak?/ Harga tiket Saudia adalah 8,5 juta. Kemarin aku bilang murah kan? Kalau kataku sih iya. Karena lewat 3 airport di 3 negara. Waktu aku coba cek, pesawat Jeddah ke Istanbul itu 3 juta lebih berapa gitu. So, kalau nggak dihitung ke Turkinya ya cuma 5 juta. Tapi emang nggak bisa dihitung gitu, karena harga tiket ini fluktuafit banget. Dan fasilitasnya lumayan, pas pulang aku naik yang aircraft yang udah ada musholanya itu. Makanannya juga lumayan, aku bahas lain kali aja buat lengkapnya. Kalau sempat, hahahaha..


Kedua, si Turkish Airlines. Menurutku, ini penerbangan seperti Jakarta Surabaya, tapi dengan fasilitas kaya Garuda atau Batik Air, harganya jauh lebih murah. Kalau dari Surabaya ke Jakarta dapat tiket berangkat aja. Pakai Turkish Airlines ini dari IST ke Bandara Kayseri sudah dapat pulang pergi. Dapat roti yang ngenyangin banget dan enak, plus mau jus, kopi, teh, tinggal milih. Dan pramugaranya baik banget ama aku, hahaha..




Ketiga, untuk Juanda - KLIA, aku sempat lihat harga Air Asia, waktu itu selisih 400 lebih murah, tapi tanpa bagasi. Lalu aku pikir sama aja. Lebih enak MH juga kan dapat Nasi Lemak dan snack ikan bilis, hahaha Ohya, bagasi 25 kilogram plus 7 kilo kabin + plus overweight FREE BAGASI Zamzam 5 liter.  Ohya, mas check-n MH di KLIA 2 ganteng, lumayan nggak jadi BT aku nunggunya, hahahaha.. Mata kenapa sih nggak bisa bohong, hehe.. Harganya 2 juta kembali beberapa puluh ribu rupiah.




Visa dan Lainnya

Pengeluaran yang lumayan selain tiket adalah LA alias Land Agreement. LA waktu itu aku bayar 5 juta. Untuk ketentuan sekamar berempat bintang 3. Tapi waktu disana di Madinah dapat free upgrade ke bintang 4 (alhamdulillah dekat banget sama pintu masjid). Dan karena aku sholeha, dapat rejeki anak sholeh-ha waktu di Mekah sehari aja sekamar berempat, sisanya aku sekamar sendiri. Sebenernya bintang 5 juga nggak mahal banget sih, tapi aku sebelum berangkat sengaja milih hotel biasa aja, takut lebih keenakan di dalam hotel daripada dalam masjid. Pernah kejadian waktu rapat di Jakarta, dapet upgrade hotel bagus banget jadi pengen dikamar terus, hahaha.

Eh kok ngomongin hotel sih, kan mau ngomongin visa. Visa sebenernya kalau riyal lagi baik kursnya nggak sampai 2 juta kok, itu hasil penelusuran Detective Tata. Tapi karena satu dan lain hal, harganya bisa diatas itu, bahkan hampir 2 kali lipat. Ini yang sempat aku bilang diawal tadi. Untuk urusan visa ini, kita nggak bisa datang sendiri ke kedutaan kalau kita nggak punya orang dalam lewat travel resmi. WHY MUST? Karena banyak hal, termasuk travellah yang menjamin jamaah untuk pergi dan pulang tepat waktu dan nggak overstay, apalagi kerja disana. So, Kedutaan mengharuskan apply visa secara group dibawah nama Travel resmi. RESMI. Hanya yang resmi biar nggak kaya kasus itu tuh!

Karena demi kebaikan, maka untuk visa plus asuransi aku bayar 4 juta 200 ribu. Mahal ya? Enggak. Tetep enggak sih kalau kataku. Karena seberapapun yang kamu keluarin kalau mau jadi tamu Allah itu nggak sebanding sama apa yang kamu dapat. Seriously. Aku baru beli tiket aja, langsung diganti sama sebuah telepon, "Mbak, Tahun depan tolong masuk di tim proyek ini ya". Istilahnya, baru niat aja, udah diganti uangnya. Dan setiap orang pasti punya keajaibannya sendiri-sendiri. Aku? Buanyak! Artikel ini akan jadi panjang banget kalau aku tulis disini, next time aja ya!

Total Budget

Okay, jadi totalnya aku sekalian total semua-muanya nih. Look at this..

Iya, di Saudi kita cuma perlu bayar tiket, visa+asuransi, LA. Dan kalau kamu nggak hobi jajan ya nggak perlu uang saku karena makan dijamin 3 kali sehari. Kecuali kamu mau sedekah, atau mau visit pribadi kemana gitu, atau beli oleh oleh buat sekampung. Bus wisata sudah include di LA yang aku bayar lewat travel itu, kemana-mana juga gratis. Aku aja sampai hari terakhir nggak ngeluarin uang buat jajan, baru hari terakhir aja masuk mall hehehe.. JANGAN DITIRU, ibadah-ibadah.. Disana fokus ibadah ya! :)

Sebentar, aku tambahkan juga kenapa aku nyebut murah. Karena sebenarnya aku sudah update harga-harga dari travel. Temanku yang umroh 2018 lalu bilang, dia bayar 23 juta untuk umroh saja. Lalu aku keep updating, dan memang harganya variatif disitu, ada yang 25, ada yang 22, ada yang 29 juta. Dan ada yang 35 juta untuk umroh plus turki. Aku kurang tahu bagaimana rinciannya, yang jelas mereka bilang di catatannya sekamar ber-4 dan hanya 12 hari. Waktu itu aku belum berani cari info lanjutan, sampai akhirnya Allah ngasih jalan yang lebih mudah.

Oh satu lagi sampai lupa, perjalanan di Februari 2020 kemarin itu, aku berangkat tanggal 4. Dan pulang tanggal 20. Di KL tanggal 4 sampai tanggal 6. Tanggal 7 hampir seluruhnya di pesawat, sampai Cappadocia sudah jam 10 lebih (malam). Tanggal 8 full di Cappadocia dan balik ke Istanbul. Di Istanbul sampai tanggal 11. Sampai di Jeddah lagi tanggal 12 langsung ke Madinah sampai tanggal 15 bada' Dhuhur perjalanan ke Mekah. Sampai tanggal 19 jam 13 lebih pulang transit KL sampai tanggal 20 pagi. Langsung balik ke Surabaya. 2 minggu lebih yang sangat-sangat menyenangkan, bismillah nanti mau lagi.

PS. Di Malaysia mahal amat mbak Ta, 2 hari uang sakunya 600ribu, hahaha.. Itu hoaks, eh bukan hoaks ding, alias ada yang salah sama aku waktu itu. Kapan-kapan aku tulis deh gimana di KL, gimana di Istanbul, di Cappadocia sama gimana umrohnya. Hari ini sudah ya, mau lanjut ke Pasal selanjutnya dulu.. #Eh


Share:

Kejadian di Pesawat

Tulisan ini sebenarnya mau aku bikin ber-part-part. Walau iklan di etarahayu.com ini sampai sekarang belum aku layout "wajib klik", tapi tetap saja ingin aku buat edisi bersambung. Tapi urung. Takut nanti tak sempat bikin lanjutannya.
So, ceritanya coba aku singkat saja.




Menurutku, ini kejadian unik di pesawat, tapi kalau menurutmu norak, ya terserah, hahaha LOL. Cerita ini bermula dari seorang SULTAN yang kerjaannya bolak balik Indonesia Amrik. Mantap banget itu masnya, thanks to sugar mommy katanya. Duh.

Dia bilang, "ngesepik mba petugas check-in biar dikasih window seat plus 2 seat kosong disebelahnya, yang susah banget didapat". Kurang lebih begitu, aslinya sih dia bilangnya lebih berintonasi dan berirama. Walau lewat tulisan.

Baca itu aku langsung, deg. Itukan aku kemarin. Perjalanan berjam-jam bisa selonjoran sambil lihat film dan makan yogurt, hehehe..

Tapi, pertama-tama, aku mau cerita kalau..

Kalian pernah kepikiran nggak sih, di langit itu kok gak lihat pesawat seliweran ya? Padahal di flight radar, langit penuh traffic. Aha! Ini yang aku pikirkan kali pertama naik pesawat sekian tahun lalu.

Aku hanya ingat waktu itu naik (sepertinya) Batik Air. Rapat ke Tangerang Selatan. Hari itu aku duduk di window seat, yang ketika kupandangi keluar, semuanya hanya biru dan putih, juga jajaran genteng dan areal sawah plus laut dibawah sana.



Aku yang suka buka-buka flight radar, tentu saja menapis seluruh isi langit yang terlihat oleh mata. Tapi, aku tak menemukan pesawat, dari sudut pandang kaca flat berbentuk oval itu. Sampai begitu seterusnya. Sampai aku berkesimpulan, oh mungkin karena altitudenya beda jadinya ndak kelihatan antar pesawat.

Sampai penerbangan dari Jeddah ke KL kemarin, aku aware ada 4 pesawat yang kulihat dari jendela. Satu berlawanan arah dengan kecepatan, huh, kenceng banget, entah berapa knot. Dan yang lainnya arah yang sama. Foto? Ohno! Kamera aku nggak nge-jangkau.

Dan ada satu pesawat yang awalnya berada di posisi depan banget, disalip sama pesawat yang aku tumpangi. Gitu aja, girang banget aku lihat 'kebulan' ekor pesawat itu.

Bentar apa hubungannya sama cerita Sultan tadi. Haha nggak ada ya? Belum, itu tadi prolog aja. Biar menjawab penasaran aku aja, hehe 

Okay, back to the topic. Ngomong-ngomong soal windows seat, aku hampir selalu milih windows seat. Kalau web check-in nggak bisa milih, di counter aku tetep akan bilang, 'kalau windows seat masih ada yang kosong, boleh dipilihkan windows seat ya mas or mbak' :)

Tapi pernah juga aku milih aisle seat, karena aku udah capek banget dan ingin tidur. Misal waktu pulang rapat dari Jakarta. Pagi sampai jam 4 sore aku di venue rapat. Jam 4 aku pesan online ride ke Halim Airport, jam setengah 7 aku boarding. Dan ohmyGod, macetnya bikin aku stress. Sampai kepalaku pusing banget. Dan akhirnya aku web check-in dan milih aisle seat. Dan bener banget, baru take off aku udah tidur, bangun bentar waktu pramugari ngasih roti, itupun cuma aku taruh, dan tidur lagi sampai Juanda. zzzZZ


Kejadian sebaris kosong ini tak aku prediksi sama sekali. Waktu itu, memang aku sudah web check-in dan milih windows seat. Aku pilih 57 A waktu itu, kalau nggak salah ingat hehe. Niatnya tentu saja memandangi langit. Tapi sayang, dari 8 jam perjalanan, sepertinya aku hanya terjaga setengahnya saja. Lelah.

Gegara terbangnya jam 3 pagi huhuhu.. Hari sebelumnya aku keluar hotel jam 10 pagi. Koper aku tinggal di hotel dan menikmati jalanan KL. Sampai magrib aku makan dan jam 8 malam otw ke bandara. Sampai bandara mandi, dan jam 11 menunggu check-in yang baru dibuka jam 1.

Hasrat tidur sudah ada karena seharian jalan-jalan, tapi takut ketiduran. Akhirnya terjaga sampai masuk pesawat. Terjaga hampir 24 jam. Padahal hari sebelumnya aku tidur jam 2 pagi, nonton film dokumenter, dan bangun jam 7-an, sebelum akhirnya keluar jam 10 itu.

Which is kurang tidur banget. Otomatis setelah masuk pesawat langsung buka selimut dan pingsan, hehehe.. Bangun-bangun baru nyadar, loh sebelah aku kosong wkwkwkk. Dan aku melihat depan belakang, samping, semua penuh. hehehe.. Dan aku lihat di layar, posisi pesawat sudah diatas India, yang artinya sudah setengah perjalanan. Baru aku lihat ke jendela, uh diluar masih gelap. Yasudah aku menikmati film dan sesekali makan makanan. Nyaam. 


Ohya, pesawatnya adalah Saudia Airlines. Sampai lupa nyebutin, hehe Berapa harga tiketnya? Ini aku bahas next article aja ya. Menurut aku harganya murah, emm tepatnya sesuai sama fasilitas apa yang aku dapat.

Pas pulang, di penerbangan 8 jam lebih, dengan pesawat yang sama, aku juga mendengar pengumuman, penumpang yang berprofesi sebagai dokter untuk menghubungi crew cabin karena jasanya dibutuhkan. Which is sounds like in the movie, hahaha..

Okay, katakan aku norak, it's okay! You guys can say it, freely. Haha


Share:

Popular Posts

Labels

Blog Archive