Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?

Menjejaki Kampung Astra “Si Miniatur SDGs” Surabaya


“Hijau nan asri. Sejuk dan berseri. Meski tak sempurna, revitalisasi Kampung Berseri Astra Keputih sarat akan Sustainability Development Goals (SDGs). Fasilitas-utilitas di dalamnya menggenapkan. RTH privatnya menyempurnakan. Pun, ekonomi kecilnya tumbuh. Berpadu menjadi kesatuan yang utuh. Menjadi bagian dari keindahan Kota Surabaya, KBA Keputih membuktikan bahwa untuk menjadi ‘indah’ tak perlu lahan luas.”
Awan bergerombol saling jabat. Pekat. Di langit utara, aku melihat awan bersapa dengan sang bayu. Berarak dan siap jatuh membasahi bumi kapan saja. Mengenyahkan dahaga jalanan yang mulai lelah dengan kemarau panjang. Jam ditangan menunjukkan pukul sepuluh. Aku dan sahabatku, Indah, siang itu mengendarai motor menuju Kampung Berseri Astra, Keputih. Kampung yang tak seberapa jauh dari kampus kami dulu, ITS.

Melaju dengan kecepatan sedang, kami menyusuri Jalan Arif Rahman Hakim. Sesekali melihat penjual makanan. Mengenang makanan enak. Membicarakan ayam goreng merk ini dan itu. Mengoceh banyak hal sambil terus berharap, “please, jangan hujan dulu please”. Sampai di Taman Harmoni kami menepi. Clueless. Walau diresmikan tahun 2014, kami berdua belum pernah bertandang ke KBA Kaputih. Tetap duduk diatas motor, kukeluarkan handphone dari saku. Mengetikkan kata-kata pasti, “Kampung Berseri Astra Keputih” di aplikasi maps. Dan violaaa! Rupanya sudah dekat. Hanya beberapa meter lagi. Dalam hitungan detik, tombol start driving kuaktifkan. Kamipun diarahkan untuk terus lurus. Kira-kira 200 meter. Meliuk mengikuti jalan yang berbelok, sebelum mengarah ke kiri pada sebuah gang. Manut. Indah kembali menyalakan mesin motornya. Kami bergegas. Mulai was-was hujan turun sebelum kami sampai di lokasi.




Entah di angka berapa akurasi GPS di HPku. Setelah belok kiri tadi, kami melewati rumah-rumah pengepul sampah bekas. Jalanan yang kami lewati juga masih makadam. Dan sesampai lokasi ‘merah’ di peta, kami kebingungan. Kami berhenti di persimpangan, melihat rusun yang juga baru kami lihat siang itu. Celaka! Kami tak temukan gerbang gang KBA Keputih seperti yang kami lihat di internet. Tak ada satupun orang yang bisa kami tanyai. Semenit, dua menit, saya menoleh pada satu-satunya gang di belakang kami. “Ya Allah, itu lhoo ada tulisannya”, pekikku. Kami pun terbahak. Signage sebesar itu ternyata lepas dari pengelihatan kami. Mungkin kami terlalu antusias mengikuti GPS. Entahlah.

Sejurus kemudian kami sudah masuk gang. Gang yang kami pikir tidak ada kehidupan disana. Mengikuti petunjuk selamat datang. Bagaimana tidak kami berpikir demikian. Gang ini kecil. Mungkin tak sampai 3 meter. Dan dari luar, gerbang Kampung Berseri Astra (KBA) Keputih samar terlihat. Posisinya tidak persis lurus, melainkan sedikit berbelok. Di belokan inilah, gerbang berwarna dominan biru dan putih menjadi tanda kita masuk ke area KBA Keputih. Kamipun berhenti disini. Mengambil foto di depan gerbang. Memahami site area yang dipajang di samping gerbang.


Tak butuh waktu lama bagi kami untuk memahami KBA Keputih dari denah kreatif itu. Semuanya ditulis jelas dalam legenda. Total ada 18 tempat yang ditandai dalam denah itu. “Wah ada IPAL ya ternyata?” ujarku pada Indah saat membaca keterangan nomor 11. “Menarik”, lanjutku. Jujur, ini kali pertama kutemui kampung dengan IPAL. Biasanya, instalasi pengolahan air limbah ada di suatu pabrik. Jarang sekali ditemui IPAL untuk rumah tangga. Ah jadi makin penasaran, pikirku. 

Tak lama-lama. Kamipun kembali menaiki motor. Memasuki Kampung Berseri Astra Keputih. Sehari sebelumnya, di sela-sela merampungkan pekerjaan, kusempatkan membaca artikel tentang KBA Keputih. Dalam bayanganku, kampung ini luas. Setidaknya lebih luas dari apa yang aku lihat hari itu. Namun ternyata tidak. Kampung ini hanya punya 3 gang yang panjang. Satu vertikal dari arah gerbang kisaran 100 hingga 200 meter saja. Dan dua jalan horizontal membentuk kampung yang padat, kisaran 300 hingga 400 meter panjangnya. Pun tak terlalu lebar. Mungkin hanya 2 meter lengkap dengan paving yang rapi. Mobilpun tak akan bisa papasan dan keluar masuk dengan leluasa. Dalam amatanku, mobil hanya bisa keluar masuk dari gang ini. Bak system one gate di kompleks perumahan.

Setelah masuk melewati beberapa rumah warga di sebelah kiri, dan semacam gudang di sebelah kanan, kami kembali menemui persimpangan. Persimpangan dengan pilihan, akan dibawa kemana langkah kita. Sebagai kampung yang bercita-cita menjadi ikon Kota Surabaya, KBA Keputih kuakui begitu informatif. Kampung ini dibekali dengan begitu banyak tanda arah. Seakan mengerti, pengunjung akan kesulitan menemukan apa yang dicari.


taken by D. Indah

“Kita kemana dulu?”, tanya Indah. Setelah menimbang-nimbang, kamipun milih menjejakkan kaki ke arah kanan. Kami penasaran dengan water treatment plant (WTP) yang ditunjukkan papan arah dari kayu itu. Tapi sia-sia sepertinya kami menaiki motor. Kami pikir, dari arah persimpangan, WTP akan berjarak lumayan jauh. Ternyata hanya kisaran 10 meter saja. Persis di ujung belokan gang. Ada dua tangki berwarna biru besar. Di balik tangki itu ada area cukup luas, berpaving. Dalam denah yang kami temui di gerbang masuk tadi dinamai sebagai sarana olahraga.



Di sekitar tangki ini, kami menemui sekelompok anak sedang bermain sepeda. Ada empat anak. Semuanya laki-laki. Salah satu dari mereka semangat berkata, “sini mbak sini, iya mau nanya apa mbak?” Hahaha, batinku tertawa renyah. Ternyata walaupun anak-anak sudah sangat siap menyapa wisatawan. Mungkin ini yang namanya semangat untuk maju. Untuk menjadikan KBA Keputih sebagai ikon wisata kampung di Surabaya. Ya, dari informasi yang kudapat, KBA Keputih punya tiga tahap pengembangan. Tahap pertama adalah pembenahan kampung sehingga menjadi Kampung Bersih dan Asri. Tahap kedua adalah pusat wisata edukatif, sisi pendidikan dibangun jua pada tahap ini. Dan tahap ketiga, KBA Keputih direncanakan sebagai ikon Kota Surabaya sebagai kampung edukatif berbasis lingkungan. Dan tahun ini adalah salah satu tahun pencapaian tahap ketiga. Maka tak heran bila anak-anak saja seperti responsible dengan misi itu.




Kami berhenti. Parkir tak jauh dari tulisan MCK Kamunal. Betul. Area ini ternyata adalah area gabungan. Ada sarana olahraga, MCK komunal, rumah kompos, dan water treatment plant (WTP). Tadinya kami pikir lokasinya benar-benar terpisah. Ternyata memang berada di satu area yang sama.



Dan baru sempat memotret rumah kompos, apa yang kami khawatirkan terjadi. Hujan turun. Deras. Sangat deras. Kami tak bisa menghindar lagi. Stuck di rumah kompos. Anak-anakpun berlarian pulang. Dan kami? Kami bagai anak ayam yang berteduh didepan tempat pengolahan sampah organik itu. Memandangi air yang terus ditumpahkan dari langit.



“Gimana kalau kita lari ke warung depan itu”, kataku bosan menunggu. Awan diatas terlalu pekat untuk segera reda. Ada banyak air yang menunggu giliran terjun menyentuh muka bumi. “Itu ada tempat duduknya”, tanya Indah sambal mengamati warung depan. Ya, di depan area ini terdapat rumah yang membuka lapaknya. Dari jauh saya masih bisa melihat ada botol minuman soda, dan kerupuk yang digantung dengan rapi. “Ada deh kayaknya!” kataku sambil juga mengamati dengan seksama. Hujan perlahan mengurangi kekuatannya. Kini gerimis. Dan inilah kesempatan kami berlari secepat mungkin menuju warung depan. Syukurlah, ada penjaganya.
Kami memesan dua minuman dingin berwarna kuning. Minuman sachet rasa jeruk. Mengambil kerupuk sekenanya. Berbeda dengan anak-anak tadi. Penjaga warung yang juga laki-laki ini begitu pendiam. Selepas memberikan gelas berisi minuman lengkap dengan sedotan, ia kembali asyik dengan gadgetnya. Mungkin ia sedang bermain game. Dan sekitar 15 menit lamanya kami numpang berteduh, dan makan kerupuk, kami hanya sempat bersapa singkat. “Mas, air yang disitu bisa diminum?” tanyaku ragu. “Bisa mbak.” jawab lelaki 20 tahunan itu. Indah manggut-manggut. Penjaga warung itu kemudian kembali asik dengan gadgetnya. Indahpun menimpali, “kayaknya emang diminum, itu ada banyak wadah jeriken”. Ya, aku juga ingat. Ada gerobak kecil yang menjadi kendaraan beberapa jeriken berwarna putih. Diletakkan begitu saja tanpa sang empu disekitar. Ini menarik, yang kami berdua tahu, jarang sekali air seperti itu bisa dikonsumsi. Dan bila air hasil WTP KBA Keputih ini bisa diminum, maka boleh kubilang adalah pencapaian yang sangat baik sekali. 



Saya dan Indahpun kembali berdiskusi. Bagi kami yang pernah kuliah di jurusan perencanaan wilayah dan kota, bahasan seperti ini asyik sekali untuk dibahas. Akupun ingat salah satu tujuan besar para pemimpin di dunia ini, SDGs, Sustainable Development Goals. Ada 17 poin yang ingin dicapai dalam proses pembangunan. Bukan hanya fisik, melainkan juga non fisik. Dan Kampung Berseri Astra Keputih yang merupakan program Kontribusi Sosial Berkelanjutan Astra memiliki beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan. Dari yang kubaca di website Astra, Astra mengembangkan kampung dengan mengintegrasikan 4 pilar program yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan & kewirausahaan. Kolaborasi yang Astra dan kampung-kampung di Indonesia lakukan bertujuan untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif. Dengan begitu kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra dapat tercipta.



Kampung Berseri Astra Keputih ini benar membuktikan hal itu. Bahkan dari informasi yang kudapat, KBA Keputih ini langganan memenangkan lomba Green and Clean Kota Surabaya. Beberapa kali meraih gelar bergengsi itu. Lomba yang tentu saja tak hanya menilik satu kriteria, namun banyak kriteria. Untuk tampil menjadi pemenang tentu menjadi ukuran bahwa masyarakat KBA Keputih benar-benar telah bangkit dari masa lalu. Ya, ada banyak cerita kekumuhan lokasi ini. Bagaimana transformasinya sebelum dan sesudah membuat saya merinding. Pembangunan yang benar-benar mengedepankan lingkungan, ekonomi dan sosial. Plus menjunjung semangat untuk terus maju.


Sumber: budiono.net
Saking asyik mengobrol, kami lupa waktu. Adzan dhuhur terdengar dari masjid. Kami melihat air telah berhenti mengguyur bumi. Paving basah, namun tak menggenang. Syukurlah. Sudah bebas banjir, pikirku. Dari berita yang kubaca, tempat ini dulunya rawan banjir. Kamipun beranjak. Menuju motor yang kami parkir di area sarana olahraga tadi. Kami kembali menapaki gang yang tersisa. Kami sesekali terhenti melihat tanaman anggur.



Melihat ruang terbuka hijau (RTH) privat yang disediakan dengan cara yang unik dan kreatif. Bayangkan, rumah itu mungil. Namun ia masih memiliki space untuk memelihara tanaman. Hijau dan sejuk. Membuat rumah sederhana terlihat begitu asri.



Kami juga berhenti di dekat masjid. Kami ingat, ada IPAL di sekitar masjid. Dan betul saja, kami melihat tanda IPAL disematkan di pinggir jalan. Misi dan semangat untuk menjaga kesehatan dan lingkungan benar terlihat disini. Ini kali pertama kami melihatnya. Dan sungguh aku kagum. Astra dan masyarakat RW 8 Sukolilo ini sungguh panutan. Panutan untuk terus semangat dalam berbuat. Demi lingkungan, demi kesehatan, dan demi masa depan.



Saat mengambil foto IPAL, beberapa warga tampak keluar dari masjid. Salah satu dari beliau menyapa kami, ramah. Kami berbincang sejpamit. Saya dan Indah kembali menaiki motor. Dan berhenti di zona urban farming dan tanaman pot-pot bertuliskan zona toga. Sayangnya toga dalam pot itu tak subur. Mungkin togapun talu. Beberapa daunnya tampak menguning. Beberapa bahkan sudah coklat. Pun di zona urban farming. Beberapa tanaman ‘minta’ digant>





Aku turun dari motor. Sementara Indah masih tetap diatasnya. Di samping kiri zona toga itu, aku menemukan bangunan kecil bertuliskan bank sampah Srikandi. Sayang, sedang tutup. Mungkin pengurusnya sedang dirumah. Pagarnya yang berwarna putih itu digembok. Pintunya tertutup. Di temboknya ditempel mekanisme bank sampah. Di sampingnya ada whiteboard bertuliskan beberapa rekap bank sampah. Komplet sekali walaupun kecil, batinku.
Seorang warga yang sedang membersihkan motornya ku tanya, “Pak, ini bank sampahnya tutup ya?” “Iya mbak, orangnya ada dirumah itu, yang ada tulisannya laundry itu.” katanya sambil menunjukkan arah rumah yang dimaksud. Kamipun berterima kasih. Dan mempersilakan bapak tersebut melanjutkan aktivitasnya.



Aktivitas kampung begitu kental disini. Seorang ibu sedang menyuapi anaknya. Tiga orang bapak-bapak sedang mengobrol di sebuah rumah. Rumah yang persis didepannya ada sepetak toga bersembunyi. Hijau dan komplet. Aku bisa melihat tanaman gandarusa, yang bahkan baru pertama kulihat. Ada juga tanaman jahe, tomat, juga cabai rawit. “Cabai rawit kan vitamin C,” kata Indah sewaktu kami mengobrol tentang tanaman obat keluarga ini.



Kami meninggalkan rimbunan tanaman obat itu. Kembali menyusuri gang yang begitu asri dan sejuk. Tanpa hujanpun, aku yakin, kampung ini begitu asri dan berseri. Taman-taman, tumbuhan-tumbuhan di setiap rumah benar-benar dirawat dengan baik. Bisa dibayangkan bila seluruh rumah di semua kampung itu hijau. Target pemerintah untuk menyediakan Ruang Terbuka Hijau Privat sebanyak 10% dari total wilayah suatu kota itu pasti bisa terwujud. Bahkan terlampaui.



Kami kembali terhenti ketika melihat Rumah Pintar Astra. Memfotonya dari berbagai angle. Disamping Rumah Pintar Astra itu kami melihat dengan jelas ada sebuah sekolah, lengkap dengan papan seluncur. “Mbak, mau dibangun seperti apa lagi? Sekolahnya mau ditinggikan ya?” Teriak seorang warga yang berada tak jauh dari Rumah Pintar. Dari nadanya kami tahu, si ibu begitu bersemangat untuk mengembangkan KBA Keputih ini. Sayangnya kami tak sempat berbincang banyak. Awan dilangit terus bergulung-gulung, menghitam. Hujan mungkin akan turun lagi. Dan lagi kami punya janji menghadiri suatu acara. Kami harus pulang.
Motorpun kembali menyala, membawa aku dan Indah menjauh dari kampung ini. Selamat tinggal, semoga bisa kembali kesini!

--

20 Desember 2018. Dalam diaryku, aku mencatat. Hari itu aku mendapat wawasan baru. Wawasan yang mencambukku untuk tetap semangat menjadi lebih baik. Kampung Berseri Astra (KBA) Keputih mempunyai semangat yang luar biasa untuk maju. Untuk bisa menjadi ikon kampung wisata di Surabaya. Semoga ada banyak kampung-kampung lain yang terinspirasi untuk menjadi baik seperti KBA Keputih ini. Dan semoga Astra tak pernah lelah mendampingi para masyarakat di seluruh pelosok kampung di Indonesia untuk melihat potensi dan membabat habis masalah di dalamnya. Kalau KBA Keputih saja bisa, maka tak mustahil bagi kampung lain untuk berbenah juga.

Share:

Pedoman Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Baru 2018

It's been a while, haloooo... :)

Finally, it's holiday!


Setelah merevisi RDTR ke peraturan baru akhirnya liburan juga. Yeah. Tahun ini saya berkesempatan menjadi asisten tim ahli. Mendampingi salah satu kabupaten di Indonesia untuk mendapatkan Rekomendasi Gubernur pada pekerjaan RDTR.

Sayangnya, saat satu pertemuan yang tersisa dengan tim BKPRD, pedoman penyusunan Rencana Detail Tata Ruang yang baru muncul. Yeah. Tahun ini, setelah mengeluarkan pedoman penyusunan RTRW yang baru, Kementerian ATR/BPN kembali mengeluarkan pedoman penyusunan RDTR 2018.



Jika sebelumnya dalam merencanakan RDTR kita berpedoman pada Peraturan Menteri PU Nomor 20 Tahun 2011, maka saat ini kita perlu mengacu pada Peraturan Menteri Agraria Tata Ruang Nomor 16 Tahun 2018.

Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018 ini sejatinya tak banyak berubah dari aturan lama. Dalam pengamatan saya, pembedanya hanya pada struktur ruang dan pola ruang. Kalau saya boleh bilang, sistematikanya hampir mirip dengan penyusunan RTRW. Namun lebih detail dengan cakupan wilayah yang lebih kecil.

Bila pada aturan lama hanya ada bab jaringan sarana prasarana, maka di aturan penyusunan RDTR baru ini ada Bab Struktur Ruang. Bab Struktur Ruang meliputi rencana pusat pelayanan, rencana jaringan transportasi dan rencana jaringan prasarana seperti jaringan air bersih, listrik, telepon, jaringan prasarana lainnya (sampah, sanitasi, dll).

Lalu pada Rencana Pola Ruang, secara keseluruhan terdapat perbedaan pengkodean. Misal sempadan pantai biasanya berkode PS-1 pada aturan RDTR 2018 ini berkode SP dan sempadan sungai berkode SS dari yang dulunya berkode PS-2. Dan banyak kode lainnya yang berubah.

Kemudian yang paling mencolok pada Pola Ruang adalah perubahan perencanaan sarana prasarana umum (SPU). Pada aturan Permen PU 20/ 2011, SPU diklasifikasikan berdasarkan kegiatan. Pendidikan misalnya dikodekan SPU-1, Transportasi dikodekan SPU-2 dan seterusnya. Kini, di aturan pedoman penyusunan yang baru, SPU-1 adalah kode untuk sarana prasarana umum yang berskala kota. SPU-2 adalah kode untuk sarana prasarana umum yang berskala kecamatan dan seterusnya. Ya, pada aturan baru sarana prasarana umum lebih ditekankan pada skala pelayanan, bukan pada kegiatannya.

Pada Rencana Pola Ruang Zona Budidaya, klasifikasinya juga lebih sedikit. Meliputi perumahan (R), perkantoran (KT), perdagangan dan jasa (K), industri (I), sarana prasarana umum (SPU), dan zona lainnya (PL). Zona lainnya ini termasuk di dalamnya sub zona pertanian.

Well thats all, silakan baca lengkapnya saja di Permen ATR/BPN No 16 Tahun 2018 ya! Kalau belum download, silakan download di link web resmi kementerian ATR ini. Jika kesulitan mengakses pada link tersebut, silakan kontak saya via email. :)

Selamat liburan para Planner!


Share:

Libur ke Gili Trawangan yang Tertunda


Libur, nyari yang tenang-tenang gini.

“You don’t have to be rich to travel well.”
Eugene Fodor

Yeaah! Siapa sih yang gak setuju sama Fodor’s quote? Karena liburan adalah hak segala bangsa. :D So, whatever you rich or not, travelling is number one. That’s the only way we can “life” for sure. :) Ngomongin soal liburan, rasanya saya belum pernah cerita kalau Agustus lalu, saya dan sahabat ingin ke Lombok. Dengan gaya baru. Naik kapal. :) Yuhuuu, kini Surabaya Lombok punya transportasi laut yang bisa dijajal lhoo. Saya selalu suka moment diatas kapal, so I thought this one worth to do.



Liburan yang Tertunda

Bulan Juli, kami mulai nyusun itinerary. Kami plan berapa budget yang kami perlukan selama lima hari di Lombok. Bukan, bukan lima hari sepenuhnya di Lombok. Lengkapnya kami sudah memutuskan untuk stay di Mataram sehari, Lombok sehari dan sisanya di Gili Trawangan. Everything set. Kami hanya perlu ke Tanjung Perak untuk memastikan keberangkatan kapal and book for two tickets.

Tapi belum sempat ke pelabuhan, berita gempa Lombok sudah menjadi headline dimana-mana. Kamipun mengurungkan niatan kami. Karena sungguh tidak etis liburan saat tuan rumah sedang dilanda duka. Liburan dengan kapal resmi ditunda. Kami belum tahu kapan akan ke Lombok dengan kapal.

Now, karena sebentar lagi ganti tahun. Libur ke Gili Trawangan yang tertunda kala itu rasanya bisa jadi rencana liburan tahun baru 2019. Yeay! Dan rasanya kami perlu nyusun ulang budget.  Ya iyalah ya, ini kan musim libur, pasti harga hotel yang kami lihat dulu udah beda dengan harga sekarang. Let’s hunting hotel!
--

Pesan Hotel di Traveloka

Pagi ini saya mulai banding-bandingin harga hotel sana-sini. Dan udah nemu nih di Traveloka ternyata ada hotel yang gak tahu kenapa harganya lebih murah. Lihat disini nih. Di link itu, coba temukan hotel Gili Escape Bungalows. Hotel di jalan Pantai Gili Trawangan, Gili Trawangan itu bagus menurut kami. Fasilitasnya apik, pelayanannya juga oke. And i think, we gonna book a room there.

Tampilan traveloka yang super informatif
Di Traveloka ini harganya beneran jauh lebih murah dari hotel finder lainnya. Dan pilihan hotelnya Traveloka ini emang lengkap banget. Dari mulai yang harga luxury sampai harga ala backpacker. Saya pernah baca review backpacker-backpacker gitu. Ya, karena tukang jalan-jalan selalu baca ulasan traveling sana sini buat dapat tips traveling, hehe. Dan dari sana ada yang memberi tips, pesan hotel di Traveloka itu nggak ribet, pembayarannya mudah, cepat dan pilihan hotelnya lengkap diseluruh Indonesia. Dan rasanya saya setuju banget-banget dengan pernyataan itu. Eh gak cuma di Indonesia aja, jangkauan hotelnya seluruh dunia. Jadi kalau mau ke luar negeri, pesen hotel bisa banget lewat Traveloka.

Bagi saya pribadi yang paling menyenangkan adalah pesen hotel di Traveloka bisa bayar pakai Transfer ATM. Di beberapa hotel finder, mereka hanya melayani pembayaran booking dengan credit card. Kan gak punya credit card, hehe. Serius paling muales sama hotel finder tipe gitu. Satu lagi, Traveloka web atau aplikasi sama-sama user friendly. So, mudah banget nyari hotel yang sesuai dengan budget kita.
--

Well that’s it! Mari liburaaaaan! Kalau kalian mau liburan juga, ngapain susah-susah cari hotel. Traveloka udah paling pas deh buat search hotel yang kalian mau. Dan lagi, manfaatnya banyak banget. Gak percaya? Coba sendiri aja!


Share:

SIKAP MILENIAL PADA EKONOMI DIGITAL

Di bangku sekolah, kita pernah mengenal istilah barter. Merujuk KBBI, barter berarti “perdagangan dengan saling bertukar barang”. Pada zamannya, bertukar barang menjadi alat pembayaran yang sah. Seiring berjalannya waktu, sistem barter itu tergerus masa. Digantikan koin dan lembaran khusus bernama uang. Perkembangan dunia ekonomi tanpa sadar memang berkembang sangat pesat, dan dibalik itu, teknologi informasi menjadi salah satu faktor utama penyebabnya. Dengan berkembangnya teknologi, sektor ekonomi tak pelak juga mengalami perkembangan.

Kini, di era industry 4.0, digital economy menjadi revolusi yang begitu melekat di kalangan milenial. Tak hanya di Indonesia, ekonomi digital kini menjadi hal yang diperhitungkan hampir seluruh negara di dunia. Baik dalam kerangka kebijakan, maupun keseharian.

Tentang Ekonomi Digital

Seperti lagu Ed Sheeran, and everything has changed, the world has changed too. Dalam sebuah publikasi yang dilansir oleh World Bank Group, kita akan disadarkan betapa dunia memang berganti tatanan. Satu dekade lalu, bila kita bicara bisnis akomodasi maka hotel adalah investasi alias modal utama, itu wajar. Bila kita bicara bisnis taksi pasti perlu modal berupa armada. Tapi kini tidak. Dunia berubah. Ada hal-hal yang tak lagi diperlukan. Dunia kini bergantung penuh pada teknologi. Begitu pula dalam hal bisnis ekonomi. Istilah kerennya, digital disruption.



Secara harfiah, digital disruption didefinisikan sabagai perubahan pola hidup dan bisnis karena teknologi digital. Saat Alibaba, sang raja ritel tak punya inventor. Saat Facebook, punya media tapi tak perlu membuat konten. Ketika AirBNB, penyedia akomodasi dengan jaringan luas di dunia, namun tak punya properti akomodasi, dan sebagainya.

Di Indonesia, nyata terlihat di depan kita adalah GOJEK dan GRAB. Keduanya bergerak di bidang transportasi berbasis aplikasi, dan tidak punya armada. Seperti halnya UBER. Namun UBER kini sudah tak lagi beroperasi di Indonesia. GOJEK dan GRAB menjadi dua usaha digital sukses yang bisa kita saksikan dalam keseharian.

Bisnis menggunakan teknologi alias digital ini semakin hari semakin bertambah. Dan di masa depan akan semakin bertambah. Ekonomi digital pertama kali disebut dalam buku The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence oleh Don Tapscott. Ekonomi digital dinilai lebih “cerdas” dalam kaitannya dengan fungsi digital, dan lebih terkoneksi dalam kaitannya dengan financial service, commerce, dan lainnya.




Untuk mengimbangi perubahan bisnis yang terjadi, kebijakan juga bertransformasi. Berbagai sektor diolah untuk dirumuskan menjadi kebijakan yang tepat guna. Bahkan, Pemerintah kini memiliki visi besar dalam sektor ekonomi digital. Yaitu target Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN. Tak main-main, nilai transaksi e-commerce diproyeksikan akan mencapai 130 juta Dollar AS pada tahun 2020 nanti. Untuk mewujudkannya, Pemerintah terus bergerak.

Dalam acara Bali Fintech Agenda, salah satu event rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 lalu, Pemerintah menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi digital membutuhkan kebijakan yang akomodatif. Kebijakan secara light touch (tidak terlalu mengekang) dan safe harbour. Safe harbour dalam artian tanggung jawab terpisah antara penyedia situs jual beli daring berkonsep marketplace dengan penjual yang memakai jasa mereka. #Ecodigi

Apa Elemen Ekonomi Digital? #EcoDigi

Berdasarkan paparan BI Institute dalam Rakernis Nasional I Tahun 2018 Juli lalu, terdapat 10 elemen ekonomi digital yang berkaitan satu dengan lainnya. Dari kesepuluh elemen tersebut, salah satunya adalah fintech, e-commerce dan smart money. Lihat gambar berikut untuk lebih jelasnya.



Fintech, e-commerce dan smart money ini cukup dekat dengan hidup milenial. Bagaimana tidak, untuk membeli ini dan itu, milenial hanya perlu membuka gadgetnya. Klik ini dan itu, lalu selesai. Barang akan dikirim oleh kurir. Dalam keseharian untuk pergi kesana kemari, milenial menggunakan online cab dan membayar menggunakan smart money alias cashless. Hal-hal yang mungkin tidak banyak disadari bahwa perilaku itu adalah perilaku #ecodigi.

Terapan #EcoDigi di Kalangan Milenial

Peralihan cash ke cashless menjadi salah satu tolok ukur bagaimana digital economy menjadi faktor yang diperhitungkan dalam transaksi ekonomi. Dan kini, di Indonesia ada dua kategori pembayaran non tunai. Pertama AMPK, akronim dari Alat Pembayaran Menggunakan Kartu berupa kartu ATM atau kartu kredit. Kedua, uang elektronik.

Untuk memahami APMK dan uang elektronik, lihat infografis berikut ini.


Dalam keseharian, penggunaan baik kartu debit, kredit, juga uang elektronik sudah menjadi life style. Terlebih dengan banyaknya kemudahan-kemudahan juga potongan harga yang diberikan untuk menggunakan fitur-fitur dari penyedia layanan. Misal potongan harga 30% diberikan saat seseorang membayar makanan dengan kartu debit BNI di sebuah restoran. Potongan harga 500 ribu diberikan saat seseorang membayar barang elektronik dengan menggunakan kartu kredit BCA. Potongan 50% dengan menggunakan uang elektronik Go-Pay, Tcash, OVO dan uang elektronik lainnya. Hal demikian sangat mudah kita jumpai saat ini.

Let Face It!


Well, pemerintah sudah melakukan perannya. Misal, BEKRAF sudah meluncurkan aplikasi BISMA guna mendata perkembangan industri kreatif yang dalam usahanya tak lepas dari seluk beluk digital. Industri kreatif ini berhubungan dengan #ecodigi. Begitu pula dengan swasta. Swasta sudah berpacu melancarkan gerakan melalui ekonomi digital. Seperti dengan menciptakan aura bisnis berdasarkan ekonomi digital, misal dengan pembayaran non tunai. Kampanye pemindahan cash into cashless dengan memberikan diskon atau promo menarik.



Lantas bagaimana dengan milenial seperti kita?

Sejatinya milenial sangat terbuka dengan iklim ekonomi digital yang ada di Indonesia. Bisa kita lihat, kini banyak anak muda yang lebih mengandalkan e-commerce dalam membeli keperluan harian. E-commerce di Indonesia juga sangat beragam dengan pangsa pasar yang berbeda-beda. Lalu, milenial juga banyak yang mulai mengandalkan cashless dengan aplikasi untuk transaksi. Kemudahan menggunakan uang elektronik, seperti GO-PAY juga TCASH dan aplikasi lain yang menawarkan uang elektronik sangat diminati para milenial.



Ekonomi Digital itu Kita Banget. Seperti demokrasi, it’s from us, by us and for us. Maka peran kita untuk ikut “bermain” dalam bidang ekonomi digital ini sangat ditunggu. Bukan hanya pengguna, mari kita ikut menyelami dunia bisnis digital. Let’s face it guys! 




Share:

Apartemen, Bagaimana Hunian Jenis ini Dalam Tata Ruang?

Jajaran apartemen di Central Business Distric Kota Surabaya [photo pribadi]

Bicara soal hunian memang tidak akan pernah ada habisnya. Karena tempat tinggal menjadi kebutuhan primer bagi semua manusia. Manusia hidup pasti butuh tempat tinggal. Nah dalam keprofesian planner, hunian ini banyak sekali jenisnya. Salah satu yang kita kenal adalah apartemen.

Sedikit Tentang Zona Permukiman

Umumnya dalam perencanaan landuse permukiman, para perencana (planner) lebih memperkirakan kebutuhan ruang untuk landed house. Karena dalam perencanaan ruang, luasan itu menjadi begitu penting. Kita tentu tahu, proporsi perlu diperhitungkan agar suatu wilayah berkembang. Namun tetap melihat daya dukungnya.

Nah dalam proses pembuatan dokumen tata ruang, planner akan melihat, seberapa banyak penduduk dalam proyeksi sekian tahun kedepan. Biasanya 20 tahun. Proyeksi penduduk itu kemudian diformulasikan agar mendapat luasan lahan terbangun. Luasan lahan itu kemudian dituangkan dalam rencana, seperti wilayah mana yang akan difokuskan sebagai zona permukiman. Tentu, untuk memastikan mereka dapat membangun rumah. Dan tentu banyak pertimbangannya.

Lalu bagaimana dengan perencanaan apartemen?

Perkembangan Vertical House Pesat

Dewasa ini perkembangan vertical house yang biasa dikenal masyarakat sebagai apartemen memang sangat pesat. Surabaya saja, dalam 5 tahun ini muncul banyak apartemen baru. Dan bisnis sewa apartemen maupun jual apartemen juga menjadi trend yang berbanding lurus dengan pengembangan vertical house. Terlebih saat era digital, AirBNB juga merambah apartemen sebagai rekanan bisnisnya.

Namun, sudahkah para planner menghitung kemungkinan vertical house akan dibangun? 

Bagaimana Sikap Planner?

Landed house vs Vertical House di Surabaya Timur [photo pribadi]
Ini berkaitan dengan banyaknya penduduk yang bisa menempati satu vertical house. Bila apartemen di bangun pada lahan berukuran 20 hektar, berlantai 10, maka bisa menampung begitu banyak manusia. Dan kebutuhan akan landed house berkurang. Atau sebenarnya, munculnya vertical house ini hanya di kota-kota besar yang sudah tidak memiliki ruang untuk membangun landed house?

Saya sendiri, sebagai planner belum pernah merencanakan pengembangan vertical house. *masih junior :D* Dan rasanya pemerintah belum memiliki aturan yang jelas akan penyediaan vertical house. Atau saya yang tidak update, entahlah.

Umumnya, pada khalayak ramai, vertical house atau apartemen lebih dibahas dari sisi design-design tertentu. Misal design apartemen yang minimalis, interior apartemen yang manis. Atau juga dibahas dari sisi untung rugi tinggal di apartemen. Jarang, bahkan belum pernah saya temui bagaimana pengembangan apartemen dari sisi para planner.


Anyway, seharusnya, sebagai planner, bagaimana kita menyikapi hal ini?



Share:

Popular Posts

Labels

Blog Archive