Sunday, April 22, 2018

KATA FOTO 1. TENTANG BUS SUROBOYO

BUS SUROBOYO bukan hal yang baru sedari 6 April lalu. Seluruh stasiun TV sudah meliputnya, media massa Online sudah memberitakannya, para penggiat kota sudah mengabarkannya. Bukan hanya di Indonesia, kabarnya sudah sampai ke mancanegara. Yep, Sabtu pagi itu menjadi tanda diresmikannya Bus Suroboyo sebagai salah satu angkutan publik di Kota Surabaya. Sudah banyak yang mereview bagaimana rasanya naik bis berwarna dominan merah seperti bus di London ini. You just could google it. Lha terus artikel ini buat apa? Ya bukan untuk apa-apa, biar nanti juga keluar waktu kalian mencari di google. :p
Hari Senin [16 April 2018], saya dan sahabat saya, mendapat kesempatan naik BUS SUROBOYO ini. Sebenarnya, bukan hanya kami yang mendapat kesempatan, siapapun yang ingin merasakan naik BUS SUROBOYO ini bisa dengan gratis menumpang hingga akhir April ini. Atau bahasa menyenangkannya, “tidak masalah tidak membawa sampah”.
So, happy going around buddy!.
Penumpang Bus Suroboyo [dok. Pribadi]

Pagi itu kami mulai naik dari Bus Stop SIOLA. Lokasinya tidak tepat di depan Gedung Siola, namun beberapa meter di depannya. Setelah lampu penyebrangan pertama Jalan Tunjungan. Tidak ada halte, hanya se-area ber-cat merah dengan tulisan BUS STOP bersanding dengan badan jalan. Dan mayoritas, pemberhentian bus ini memang tidak terletak di Halte, hanya beberapa saja seperti di Halte Sudirman. Di pemberhentian bus ini selalu dilengkapi dengan rambu berwarna biru bertuliskan STOP lengkap dengan gambar bus. Kalau saya tidak salah hitung, terdapat lebih dari 40 titik pemberhentian di Jalur pengadaan pertama ini. Dan sepertinya ini yang perlu disosialisasikan terus menerus. Bus ini hanya berhenti di titik khusus.
Titik pemebrhentian Bus Suroboyo di Siola [dok. Pribadi]

Ini kenampakan bus yang saya tumpangi. Berplat nomor merah. Artinya milik pemerintah. Keseluruhan armada dibeli dari Mercedes-Benz Indonesia. Dan rangkanya didatangkan langsung dari Swedia. Yes, bus ini dibeli dalam bentuk rangka-rangka seperti kita membeli kursi di IKEA, atau membeli mainan bongkar pasang. Dan pemasangannya, Pemerintah Kota Surabaya mempercayakan pada pabrik rakitan di Kabupaten Ungaran. Katanya sih itu paling bagus se-Indonesia.

Classy, isn't it? Looks like London Bus! [dok. Pribadi]
Bus ini termasuk bus low-deck, jadi tidak perlu shelter seperti Trans Jogja atau Trans Jakarta. Bus ini seperti bus di London, di Seoul atau di Singapore, yang penumpangnya dengan mudah bisa meloncat dari trotoar. Well mudah tidaknya naik dari trotoar langsung tergantung panjang kaki penumpang juga sih. But at least, tidak tinggi dan tidak membutuhkan shelter. Sehingga pengadaan fasilitas ini menghemat anggaran karena tidak perlu shelter. Bus ini memiliki tinggi kira-kira 4 meter.

Bus Suroboyo berplat merah [dok. Pribadi]

Bus Suroboyo adalah bus low deck yang tidak membutuhkan Shelter Khusus [dok. Pribadi]

Bus ini terdiri dari tiga pintu, pintu khusus om driver, pintu masuk yang berada di tengah, pintu keluar yang berada di bagian depan. Atau entahlah dikonsep keluar masuk seperti itu atau tidak sebenarnya. Karena selama perjalanan, penumpang bisa masuk dari pintu tengah dan pintu depan. Tapi kalau dari pengamatan saya seharusnya seperti itu. Hahaha

Untuk difable, pintu keluar masuk khusus di pintu tengah. Bisa ya? Bisa dong! Bus ini sudah didesain ramah difable dengan mendesain pintu yang bisa dibuka tutup. Saat ada penumpang yang memakai kursi roda, crew akan membuka bagian lock agar kursi roda bisa masuk ke dalam bus.
Khusus untuk keluar masuk difable menggunakan ini [dok. Pribadi]

BUS SUROBOYO saat ini berjumlah 8 armada. Namun hanya 6 yang dioperasikan penuh, 2 lainnya digunakan sebagai cadangan. Di dalam bis, penumpang tidak boleh makan dan minum. Namanya juga angkutan bersama, jaga kebersihan wajib hukumnya. Dari yang diberitakan, bus ini memiliki 12 CCTV di dalam maupun di luar bus. Tapi saya kemarin menghitung baru dapat setengahnya, hehe. Kamera ini terhubung langsung dengan sistem pemantauan traffic Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Selain CCTV, bus ini dilengkapi dengan sistem keamanan kebakaran, dan pemecah kaca bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan [dok. Pribadi]

Kapasitas maksimal dari bus ini adalah 67 penumpang, dengan 1 orang driver dan 2 orang crew. Terdapat 41 tempat duduk penumpang, dan sisanya adalah kapasitas berdiri. Dari 41 kursi, dibagi menjadi 3 golongan. Pertama golongan perempuan, ibu hamil, ibu membawa bayi, pokoknya golongan berjenis kelamin perempuan bisa menempati kursi berwarna PINK. Berada di urutan paling depan dengan jumlah 8 kursi. Kedua golongan lansia. Ada 4 kursi berwarna merah yang dikhususkan untuk para orang tua. Baik laki-laki maupun perempuan. Lalu golongan kursi umum, berada di lapis belakang berwarna Orange. Bisa untuk perempuan dan laki-laki. Jika masuk dari pintu tengah, golongan kursi berwarna Orange ini ada di sebelah kanan, sementara kursi Pink dan Merah ada di sebelah kiri. Sementara itu, ada kursi untuk crew di dekat pintu darurat, persis di depan pintu tengah. Di lengkapi dengan tombol stop dan pegangan untuk para penumpang yang berdiri, bus ini terlihat begitu modern.
Desain kursinya kece [dok. Pribadi]

Untuk pegangan saat berdiri [dok. Pribadi]

need model to stand around the city? here she is. :p [dok. Pribadi]

Tombol stop di dalam bus, ada banyak. [dok. Pribadi]

Seperti yang sudah disosialisasikan pihak PEMKOT, bus ini menggunakan sistem pembayaran dengan menukarkan sampah plastik. Untuk sementara ini, sampah yang baru digolongkan menjadi tarif mereka adalah sampah botol air mineral ukuran besar, medium dan kecil dengan jumlah masing-masing 3, 5, dan 10 botol. Syaratnya sudah dibersihkan, tidak ada airnya lagi. Dengan sampah itu, penumpang bisa mendapatkan 1 tiket yang berlaku selama 2 jam. Untuk mengakomodasi sampah, di dalam bus disediakan tempat sampah berwarna putih. Kedepannya, penukaran sampah bisa dilakukan di halte, di tempat-tempat tertentu. Dan rencana kedepannya lagi, pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan E-Money. Bus ini tidak menerima uang tunai.
Mbak crew Bus Suroboyo yang memberikan tiket kepada penumpang [dok. Pribadi]

Tiket yang penumpang dapat, berlaku selama 2 jam, makesure jangan hilang [dok. Pribadi]

Tempat sampah - Botol yang sudah dibersihkan

Bank Sampah di Terminal Purabaya [dok. Pribadi]

Beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 21.00. Dari titik poin JMP hingga titik poin Bungurasih. Melewati jalan utama di Kota Surabaya. Bus ini berkecepatan MAKSIMAL 50 km/jam. Dan kabarnya bus ini tidak akan terhenti karena lampu merah. Kok bisa? BISA. Karena sistemnya dipantau terus dari sistem Dinas Perhubungan. Kedepan pengembangan rute akan dilakukan. Untuk koridor Barat Timur misalnya pemerintah masih memutar otak bagaimana caranya mengatasi Viaduk Kertajaya (kereta api) yang cukup rendah untuk ukuran bus ini. Pengembangan melewati Jalan MERR menuju Bandara dan sebaliknya juga sedang dipikirkan. Semoga segera terealisasi.
Titik pemberhentian Bus Suroboyo tahap pertama [foto diambil dari FB Command Center Surabaya]

Mekanisme penukaran sampah [foto diambil dari FB Command Center Surabaya]

Bentuk sosialisasi Pemerintah Kota Surabaya di media sosial  [foto diambil dari FB Command Center Surabaya]

Tahu gak berapa anggaran yang dihabiskan untuk pembelian bus ini? Satu armada, bersih, kira kira membutuhkan 2 M. Yep, 2 Milyar. Dan seluruhnya bersumber dari APBD Tahun 2017. Tidak banyak memang jika dibandingkan dengan PAD Surabaya yang sudah mencapai nol 12 alias T. Jadi, 2 kali 8 adalah 16 M. Bayangkan uang sedemikian banyak tapi tidak banyak dimanfaatkan? So, tunggu apa lagi! Ayo naik transport public! Ayo naik bus! Ubah kebiasaan naik kendaraan pribadi. Karena kalau bukan masyarakat yang memanfaatkan siapa lagi? 

0 comments:

Post a Comment

Thank you for leaving a comment. Your comment will appear soon.