Wednesday, May 30, 2018

MENYIBAK BUIH-BUIH CITARUM


Menyibak Buih-Biuh Citarum/ ANTARA FOTO-AGUNG RAJASA
Citarum. Siapa tak pernah mendengar nama sungai terpanjang di Jawa Barat ini? Bertahun-tahun Citarum menjadi objek bermasalah yang penanganannya belum juga tuntas. Berbagai persoalan muncul, termasuk buruknya kualitas air. Padahal sungai dengan panjang 297 km ini memiliki potensi dan manfaat yang besar bagi kehidupan. Tak hanya manusia, banyak makhluk lain yang hidupnya bergantung pada Citarum. Bila polusi air terus menerus terjadi, tinggal menunggu waktu, masalah yang lebih besar akan mengakar.

Sekilas Tentang Citarum

Peta Wilayah Sungai Citarum | Untuk resolusi asli kunjungi link ini.
Citarum mulai mengalir dari hulu yang ada di Gunung Wayang, selatan Kota Bandung. Melewati lebih dari 10 kabupaten/kota, aliran Citarum bermuara di Laut Jawa. Berbanding lurus dengan predikat sungai terpanjang, Citarum juga memiliki daerah aliran sungai (DAS) terluas se-Jawa Barat. Berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No.4/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, Citarum memiliki 19 daerah aliran sungai. Tentu saja dengan nama yang berbeda-beda. Seperti DAS Citarum, DAS Cipunagara, DAS Ciasem, DAS Bugel, DAS Batang Leutik dan 14 DAS lainnya. Luas DAS Citarum seluruhnya adalah 1.088.788,40 hektar. Dengan DAS sedemikian luas, bisa dibayangkan bagaimana debit air Citarum.

Data BPS (2017) menunjukkan rata-rata besarnya aliran Citarum di Kecamatan Batujajar tahun 2015 mencapai 62,3 m3/detik. Dengan rata-rata aliran 36,3 lt/detik/km2, tinggi alirannya 1.144,1 mm serta volume 1.965,6 juta m3. Di titik lain yaitu Desa Sadu, BPS mencatat rata-rata besarnya aliran mencapai 9,1 m3/detik, rata-rata aliran 45,5 lt/detik/km2, tinggi aliran 1.434,5 mm dan volume sebesar 288 juta m3. Secara keseluruhan debit rata-rata Citarum per tahun sebesar 5,7 miliar/m3/tahun. Debit air yang begitu besar, bukan?

Di sepanjang Citarum, terdapat 3 waduk besar. Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Waduk tersebut tersebar di 4 kabupaten yaitu Cianjur, Bandung Barat, Purwakarta, dan Karawang. Waduk mendukung sistem irigasi yang ada di kawasan sekitar Citarum. Dari data Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, sungai ini memiliki beberapa daerah Irigasi. Salah satunya daerah irigasi Jatiluhur yang luasnya kurang lebih 227.016 hektar. Selain irigasi, air citarum yang berada di waduk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Tak tanggung-tanggung, PLTA di Waduk Cirata merupakan pembangkit listrik tenaga air terbesar di Indonesia. Dan digunakan untuk supply listrik bagi kawasan Jawa-Bali. Sumber irigasi pertanian dan pembangkit listrik menjadi bukti bahwa Citarum memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan.

Selain keduanya, ada manfaat lain yaitu sumber air baku dan air perikanan. Menurut Erlan Hidayat, Dirut PAM Jaya, 81 persen pasokan air baku PAM Jaya bersumber dari Sungai Citarum, yaitu melalui Waduk Jatiluhur. Proses pengambilan air baku ke Sungai Citarum ini sudah belangsung selama 20 tahun. Debitnya bahkan sampai 14,6 m3/detik. Ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jakarta saja. Bagi masyarakat Jawa Barat jumlahnya bisa lebih besar lagi. Karena penduduk Jawa Barat yang bergantung pada Citarum hampir dua kali jumlah penduduk Jakarta. Kemudian, sektor perikanan yang menggantungkan kebutuhan air tambak dari Citarum juga tidak sedikit. Dalam sektor perikanan, air dari sungai digunakan untuk menetralisir keasinan air laut. Sehingga air menjadi payau. Seperti yang dilansir mongabay.co.id (2017), seorang petambak di Desa Pakis, Kecamatan Pakis Jaya, Kerawang menjaga air tambaknya agar tetap payau untuk pertumbuhan ikan bandeng.

Tak hanya itu, Citarum memiliki peranan yang tak kalah penting. Air dari Citarum juga menjadi pasokan air untuk kegiatan rumah tangga seperti mencuci pakaian. Sektor industri dan peternakan di sekitar DAS juga membutuhkan supply air Citarum. Dan bila ditilik lebih jauh lagi, manfaat Citarum bagi kehidupan masyarakat cukup banyak. Belum ditambah manfaatnya bagi ekosistem sungai itu sendiri. Sebagai sungai terpanjang dan terluas di Jawa Barat, ekosistem sungai pasti tidak sedikit dan beragam jenisnya. Seperti ikan-ikan air tawar, katak, ular, rumput-rumput khas sungai, dan habitat lainnya. Seluruh makhluk yang menghuni sungai tersebut dipastikan memerlukan air.

Hal ini senada dengan apa yang diamanatkan Peraturan Menteri PUPR No.4/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai. Bahwa, sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat di atas atau di bawah permukaan tanah. Dan definisi sungai menurut PP nomor 38 tahun 2011 adalah alur atau wadah alami/ buatan  berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Maka pemanfaatan air yang bersumber dari sungai sebagai wadah air di atas permukaan tanah menjadi salah satu cara yang wajar. Dan sah untuk dilakukan. Namun, bagaimana bila sungai sebagai sumber air bagi masyarakat dalam kondisi terpapar polusi?


“When the last tree has been cut down, the last fish caught, the last river poisoned, only then will we realize that one cannot eat money.”
~Cree Indians Proverb


Akar Masalah Citarum

Air pekat dan berbuih/ Foto oleh Larry C. Price
Faktanya, Citarum memang sedang “sakit”. Bahkan sudah kronis. Berbagai masalah terus membebani Citarum. Seperti kerusakan DAS karena deforestasi, praktik pertanian, dan pembangunan fisik; erosi dan sedimentasi; banjir dan kekeringan; penurunan tanah dan eksploitasi air tanah. Dan yang paling mengenaskan adalah polusi air atau pencemaran. Saking mengenaskannya, Desember 2008, Citarum mendapat gelar The World Dirtiest River yang disematkan oleh International Herald Tribune. Tak hanya berhenti disana, setahun setelahnya, Desember 2009, The Sun juga memberikan predikat serupa, The Dirtiest River. Tentu ini bukan gelar yang membanggakan. Justru, citra citarum di mata dunia memburuk.

Apa yang menjadikan Citarum kotor?

Polusi air banyak penyebabnya. Seperti limbah industri, limbah pertanian dan peternakan, limbah perikanan, limbah padat domestik atau rumah tangga, juga sampah yang mayoritas adalah plastik. Memang intinya sama, pencemaran. Tetapi penanganan masalah tidak akan tuntas bila akar masalah tidak diidentifikasi dengan benar. Dari permasalahan yang ada, dua permasalahan mendasar selama ini begitu mengusik. Limbah dan plastik.

Bagai susu dan tinta cumi/ / Foto oleh Anadolu Agency/Eko Siswono Toyudho CNN

Air yang tercemar limbah berwarna hitam pekat. Mengutip CNN Indonesia 25 Mei 2018 lalu, Direktur WALHI menyatakan beban pencemaran Citarum telah melewati ambang batas yang diamanatkan Perpres no 15 tahun 2018. Kondisi eksisting menunjukkan 430.996,09 Kg/hari limbah menyelimuti badan Sungai Citarum. Di Citarum, limbah yang paling banyak mengkhawatirkan adalah limbah pabrik di sekitar daerah aliran sungai. Limbah pabrik ini memberikan beban berat bagi Citarum. Data yang dipaparkan dalam Tribunnews, 2017, sebanyak 280 ton limbah kimia per hari bercampur dan mengalir memenuhi badan sungai. Januari lalu, Presiden Jokowi mengungkapkan setidaknya 3.000 pabrik membuang limbah ke Sungai Citarum (katadata.co.id, 2018).

Sampah. Permasalahan ini ada dimana-mana. Termasuk Citarum. Jika ditelisik, tentu saja sampah ini tidak langsung terbawa arus begitu saja. Ada faktor manusia yang masih tidak sadar lingkungan dengan membuang sampah sembarangan. Dan berakhir memenuhi Sungai Citarum, yang jika selamat mencapai hilir, akan bercampur dengan sampah-sampah di Laut Jawa.

Sampah sudah tak terpisahkan dari Citarum/ Foto oleh Larry C. Price

Tahun 2012, Greenpeace Asia Tenggara mempublikasikan hasil investigasi bahan kimia berbahaya dan beracun di Citarum. Hasilnya? Merkuri, kromium heksavalen, timbal, dan cadmium telah menyatu dalam sungai. Bahkan pada sedimen sungai, kromium, tembaga dan timbal juga ditemukan dalam kandungan cukup tinggi. Terlebih lagi, dari mongabay.co.id (2017), kimia berbahaya melebihi ambang batas berupa H25, bakteri E coli, Coliform, COD, BDO ditemukan pada Waduk Cirata. Hasil temuan ini tentu mengerikan.

Tak perlu penelitian yang panjang untuk menjawab pertanyaan, bagaimana bila air yang kita gunakan sehari-hari ternyata mengandung limbah? Tidak sesuai dengan baku mutu? Ya. Kesehatan tubuh kita dipertaruhkan. Dan kini, kesehatan ribuan orang yang bersinggungan dengan air Citarum dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Penyakit kulit, diare, muntaber dan berbagai penyakit lain mengintai setiap saat.

Air Citarum mengalir dari gunung. Jernih dan bersih. Kini, kita tidak berharap banyak aliran sungai Citarum menjadi jernih seperti air pegunungan.  Namun, setidaknya, air Citarum perlu “disulap” sesuai dengan standar baku mutu yang berlaku.


Upaya Penanganan Pencemaran Citarum


Penanganan pencemaran Citarum tidak dapat dilakukan sekaligus. Terlebih dalam waktu yang singkat. Karena banyaknya masalah dan komponen yang harus dilakukan. Maka lebih baik bila upaya penanganan dikerjakan secara paralel. Saat ini, berbagai macam teknologi dari yang murah hingga yang mahal telah diciptakan. Citarum mendesak untuk ditangani. Maka lebih baik menggunakan teknologi yang telah ditemukan, dibandingkan memulai teknologi yang baru dan membutuhkan waktu lama. Berikut beberapa teknologi yang cocok digunakan untuk menangani masalah di Citarum. Terutama sampah dan limbah.

Menangani sampah harus dimulai dari kesadaran masyarakat yang tinggal di sekitar DAS Citarum, dari hulu hingga hilir. Ini bukan perkara mudah, tetapi optimis berhasil bila dilakukan secara berkelanjutan. Dalam penanganan sampah, prinsipnya, reduce, reuse, recycle dan replace (4R). Masyarakat harus didampingi, jangan dibiarkan berjalan sendiri. Selain itu, mekanisme untuk menggunakan teknologi tepat guna harus terarah. Misalnya teknologi yang telah dikembangkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR. Kini, sampah plastik dapat diolah menjadi bahan campuran aspal. Bahkan, hasilnya dinilai dapat menjadikan aspal lebih awet. Ini adalah temuan yang bagus untuk menanggulangi Citarum khususnya dalam memerangi sampah. Tak hanya itu, teknologi serupa juga dikembangkan oleh Perusahaan Dow Packaging and Specialtu Plastics. Pihak swasta satu ini juga membuat teknologi yang disebut teknologi Dow dengan memanfaatkan limbah plastik dan diubah menjadi bahan baku pembuatan jalan. Kementerian PUPR dan perusahaan tersebut harus berkolaborasi dalam pengaplikasiannya. Dan selain itu, teknologi komunitas Get Plastic akan semakin memperkaya teknologi pengolahan sampah menjadi barang yang berguna. Komunitas ini telah menciptakan alat untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM berupa solar, premium dan minyak tanah. Ini adalah kabar gembira. Tidak hanya sampah yang tertangani, renewable energy juga tercipta disini. Bila teknologi-teknologi ini dapat menjadikan sampah di Citarum sebagai bahan baku, maka perlahan sampah-sampah yang mengapung memenuhi badan sungai itu akan habis.

Kemudian penanganan limbah. Limbah banyak jenisnya. Untuk limbah rumah tangga, penggunaan biofilter akan menjadi teknologi yang ramah dan tepat guna dibandingkan harus melakukan pembangunan IPAL. Well, IPAL memang harus disediakan dengan standar tertentu. Namun, perlu diingat bahwa IPAL adalah teknologi yang cukup mahal bila harus disediakan dalam jumlah yang banyak. Mengingat hulu ke hilir cukup panjang. Kecuali, IPAL disediakan untuk kawasan industri. Ini akan lebih berdaya-guna.

Dalam menangani limbah tekstil, Balai Besar Teknologi Pencegahan dan Pencemaran Industri yang berada dalam naungan Kementerian Perindustrian telah merancang reaktor elektrokatalitik pengolah air limbah. Bahkan rancangan ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihannya antara lain mudah dioperasikan, prosesnya cepat dan tidak menghasilkan sludge. Selain itu, tidak membutuhkan ruang yang besar karena berupa unit portabel sehingga mudah diaplikasikan untuk berbagai ukuran skala industri terutama yang dilakukan oleh industri kecil dan menengah (IKM). Teknologi ini sangat efektif untuk pengolahan air limbah dengan karakter polutan utama berasal dari zat warna reaktif, kandungan suspensi rendah, konsentrasi ion hidrogen dari larutan (pH) cenderung asam dan debit tidak besar. Pada kondisi optimal, reaktor ini dapat mereduksi polutan warna hingga 79%. Mungkin teknologi ini tidak akan sepenuhnya menjadikan Citarum bersih dari limbah tekstil. Namun setidaknya dapat mengurangi beban limbah yang cukup tinggi.

Selain teknologi diatas, upaya reward and punishment perlu dilakukan. Misal, memberikan reward ke masyarakat atas jasa-jasa melestarikan kawasan DAS Citarum. Dan memberikan hukuman bagi siapa saja yang terbukti melakukan pelanggaran. Misal pabrik yang membuang limbah ke sungai. Apresiasi kepada pemerintah yang telah menindak 41 perusahaan yang membuang limbah ke DAS Citarum sejak 2016 (CNN, 2018). Semoga memberikan efek jera bagi perusahaan lainnya.


Misi Citarum Harum dan Koordinasi Antar Stakeholder

Kuncinya kolaborasi/ Foto: Wisma Putra/detikcom
Saat banyak makhluk yang menggantungkan hidup dari air permukaannya, Citarum dilanda permasalahan yang tak kunjung habis. Dan akhir tahun ini, tepat 10 tahun predikat sungai terkotor didunia melakat. Lebih dari sewindu, permasalahan tak banyak ditekan. Apakah tidak ada usaha? Ada. Banyak program yang telah dicanangkan. Jauh sebelum milenium, tahun 1980, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggagas Program Kali Bersih (PROKASIH). Kementerian LHK kala itu ingin meningkatkan kualitas air dengan instalasi pengolahan limbah industri dan skema pengelolaan air limbah domestik. Tahun 2007, BAPPENAS telah menyusun Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program. Tahun 2014, giliran Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan Gerakan Citarum Bersih, Indah dan Lestari (BESTARI). Bahkan ROADMAP Citarum juga telah disusun.

Permasalahan yang terjadi pada Citarum tidak hanya menyangkut persoalan personal atau satu lembaga saja. Melainkan permasalahan yang kompleks dan saling terkait antar sektor. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum semoga menjadi langkah awal koordinasi yang mulus antar lembaga. Pelibatan stakeholder lain juga wajib dilakukan. Dengan dukungan instansi, swasta, organisasi juga masyarakat Citarum Harum akan lebih mudah tercapai.

Citarum harum adalah cita-cita bersama. Perbaikan dari berbagai lini harus dilakukan demi tercapainya kelestarian sungai yang menjadi hajat banyak orang. Segudang manfaat dan potensi Citarum tak akan bisa dinikmati anak cucu bila diabaikan. Semoga Citarum Harum bukan hanya sekedar slogan. Bukan hanya sekedar program. Perbaikan tidak akan pernah bisa dilakukan instan. Mari bergerak bersama untuk Citarum Harum!



PS. Untuk mengetahui referensi yang saya gunakan untuk menulis artikel ini, silahkan buka halaman ini.

2 comments:

  1. Baru tahu kalau sudah ada Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 yang mengatur percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan daerah aliran sungai citarum. Semoga citarum harum ini beneran bisa memperbaiki kualitas air. Good job buat feature panjangnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sudah ada, jadi PP ini bahas siapa aja yg terlibat dalam penanganan Citarum biar Harum hehe

      Delete

Thank you for leaving a comment. Your comment will appear soon.