Monday, May 28, 2018

Selamatkan Lamun Sebelum Manyun!

Lamun di Perairan Indonesia Timur/ Dokumen Pribadi

Pernah mendengar kata lamun? Bukan! Bukan melamun! Tetapi “Lamun”. Salah satu ekosistem yang ada di wilayah pesisir. Satu-satunya tumbuhan berbunga yang bisa hidup di laut. Jangan dibayangkan seperti rumput laut. Lamun bukan rumput laut. Keduanya berbeda. Lamun dikenal dengan seagrass, sedangkan rumput laut dikenal dengan seaweed. Well, harus diakui memang, sebagai ekosistem penting pesisir, lamun mungkin tidak setenar mangrove atau terumbu karang. Tetapi eksistensinya begitu penting bagi kelangsungan hidup ekosistem laut. Plus bagi kita, manusia.

Tentang Lamun

“Lamun: any of various grass like plants that inhabit coastal areas.”
~Kamus Merriem Webster (2003) dalam Booklet Status Lamun 2017

Menilik pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun, lamun didefinisikan sebagai tumbuhan berbunga yang hidup dan tumbuh di laut dangkal. Lamun memiliki akar, rimpang (rhizome), daun, bunga dan buah. Rimpang lamun berupa batang beruas-ruas yang tumbuh terbenam dan menjalar dalam substrat pasir, lumpur atau juga pecahan karang. Lamun berkembang biak secara generatif juga vegetatif. Generatif berarti penyerbukan bunga, sedangkan vegetatif berarti pertumbuhan tunas. Jadi wujudnya benar-benar seperti rumput, namun tumbuh dan hidup di dalam air. Cool, isn’t it?

Lamun-lamun yang membentuk padang lamun/ www.greeners.co
Lamun banyak sekali jenisnya. Di dunia, setidaknya ada 60 jenis lamun dan menempati 0,2% lautan dunia. Indonesia sendiri menjadi rumah bagi 15 jenis lamun dan tersebar di berbagai daerah. Menurut penelitian, di Pulau Talise Sulawesi Utara ada tujuh jenis lamun. Yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, H. uninervis dan Cymodocea rotundata. Penelitian serupa di Perairan Kepulauan Waisai Kabupaten Raja Ampat mendapatkan jenis lamun berupa Enhalus acoroides, Halophila decipiens, H. ovalis, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, dan Syringodium isoetifolium. Di sisi lain, data LIPI mengungkap jenis lamun yang banyak ditemui di Indonesia adalah Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii.

Menariknya, lamun memiliki banyak nama lokal. Dalam Booklet Status Lamun 2017 yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPI nama lokal lamun diungkap lengkap. Seperti di Kepulauan Seribu, lamun disebut ’rumput pama’, ’oseng’, juga ’samo-samo’. Di Pulau Maratua, Kalimantan Timur, lamun jenis Enhalus acoroides dikenal sebagai ’rumput unas’. Berbeda lagi di Kepulauan Riau, sebutan ‘rumput setu’ atau ‘setu laut’ bisa jadi lebih terkenal daripada sebutan lamun.

Lamun memiliki fungsi dan peran yang ujungnya berimbas penting pada kita sebagai manusia. Pertama, mencegah erosi pantai. Rimpang dan akar lamun bisa menahan dan mengikat sedimen. Sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan laut. Bayangkan bila lamun punah, erosi akan semakin tinggi dan menggerogoti daratan. Padahal, lahan kita terbatas. Kedua, menjernihkan air laut. Saat gelombang air mengenai padang lamun, energinya menjadi turun. Sehingga sedimen yang terlarut di air mengendap ke dasar laut. Bayangkan bila kita ingin menghibur diri dengan mendatangi pantai, dan air pantainya keruh. Dan bayangkan pula jika airnya jernih. Bukankah kita memilih bayangan kedua? 😊 Ketiga, menyerap karbodioksida. Tidak hanya pepohonan di darat, tumbuhan laut ini juga menyerap CO2. Lamun dapat mengubah karbondioksida menjadi energi yang sebagian besar memasuki rantai makanan, baik melalui pemangsaan langsung oleh herbivora maupun dekomposisi sebagai serasah.

Keempat, pendaur zat hara. Prinsipnya sama seperti di darat, bila zat hara melimpah, cacing “senang” hidup disana dan tanamanpun menjadi lebih subur. Begitu pula di laut. Laut memerlukan zat hara untuk mendukung keberlangsungan habitat di lautan. Dan habitat di laut saling terkait. Bila zat hara sedikit, “rumah” tidak akan nyaman bagi para penghuni laut. Kalau sudah tak nyaman, mereka akan kemana kalau tidak habis? Punah sudah. :( And the bad news, NO MORE SEAFOOD!

Kelima, masih berkait dengan fungsi lamun keempat, lamun menjadi rumah bagi banyak biota. Hasil penelitian Husain Latuconsina (2011) di perairan pantai Lateri Teluk Ambon Dalam (TAD) menyimpulkan sebanyak 288 individu dari 31 jenis ikan dan 19 famili terdapat di area padang lamun. Padahal, lamun yang terdapat di TAD hanya dua jenis, Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Tumbuh kurang lebih 30 meter dari tepi pantai dengan panjang zonasi lebih dari 100 meter. Dibandingkan dengan luasan lamun di dunia, 100 meter area lamun adalah luasan yang kecil. Namun ternyata mampu menjadi “rumah” bagi 288 ikan. Ini sejalan dengan peran ekosistem lamun yang menjadi tempat mencari makan (feeding ground), memijah (spawning ground), pembesaran (nursery ground), dan tempat berlindung bagi sebagian besar sumberdaya ikan. Dan tak hanya ikan, biota lain seperti kepiting, kerang, udang, bulu babi, bintang laut, teripang, penyu hijau juga duyung.
Duyung di lautan/ wwf.or.id
Bicara soal duyung, masih banyak masyarakat yang menyangka keberadaannya hanya sekedar cerita. Padahal duyung nyata di lautan kita. Jumlahnya tidak banyak. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadikan duyung sebagai salah satu spesies prioritas yang dilindungi. Dan International Union for Conservation of Nature, sebuah lembaga konservasi juga menetapkan duyung sebagai kategori spesies yang rentan punah. Bahkan bila manusia abai, duyung akan benar-benar punah. Padahal, duyung atau juga bisa kita sebut dugong, memiliki peran yang justru bersinggungan langsung dengan lamun. Keduanya memiliki simbiosis mutualisme. Para duyung saling berinteraksi di padang lamun. Duyung juga memakan daun dan rizoma lamun, terutama jenis pionir dari Halophilia dan Halodule. Istilah serunya, “duyungmelamun”. Nah saat berinteraksi dan memakan lamun, duyung akan membuat lamun menjadi subur. Dan bila subur, fungsi lamun bagi kelangsungan hidup penghuni laut bisa berjalan normal. Video kreatif dari youtube DSCP Indonesia ini menjadi salah satu sosialisasi singkat bagaimana lamun dan dugong saling terhubung.

Duyung memiliki ancaman hidup yang tinggi. Secara alami, reproduksinya sangat lambat. Bayangkan, butuh waktu 10 tahun untuk menjadi dewasa dan 14 bulan untuk melahirkan satu individu baru yang intervalnya 2,5 - 5 tahun. Belum lagi ancaman luar seperti tertangkapnya duyung secara tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch). Dan mirisnya, perburuan duyung mengintai setiap saat. Banyak orang tak bertanggung jawab memburu hewan langka ini. Tidak hanya untuk dimanfaatkan dagingnya, namun taring dan air mata duyung disinyalir memiliki nilai ekonomi tinggi. 


Kondisi Lamun Masa Kini.

Video diatas memberikan gambaran bahwa kondisi lamun tidak seluruhnya sehat. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI telah melakukan perhitungan luas lamun tahun 2017 lalu. Penghitungan luasan lamun dilakukan melalui analisis citra satelit LandsatETM+, Landsat 8 OLI, SPOT-5 yang diverifikasi di 22 lokasi monitoring lamun di Indonesia. Selain itu LIPI juga mengumpulkan data luasan lamun yang dihasilkan dari instansi seperti Badan Informasi Geospasial (BIG), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan juga The Nature Concervancy. Dan hasilnya, luasan lamun Indonesia adalah 150.693,16 ha yang tersebar di berbagai daerah. Seperti di peta berikut.
Sebaran Lamun di Indonesia/ Booklet LIPI
Sayangnya, dari luasan tersebut, persentase tutupan lamun di Indonesia hanya 41,79%. Bahkan penelitian LIPI menunjukkan adanya degradasi tutupan lamun, dari 46% di tahun 2015 menjadi 37,58% pada tahun 2016. Jumlah tersebut bila digolongkan berdasarkan Kepmen LH 200 tahun 2004, status padang lamun di Indonesia termasuk dalam kondisi ’kurang sehat”. Mirisnya lagi, satu-satunya status lamun dalam kondisi sehat hanya ada di wilayah Papua.
Status Padang Lamun Indonesia/ Booklet LIPI 
Ancaman berkurangnya lamun juga statusnya masih terus menjadi soal. Angka tutupan lahan masih jauh dari 60%, apalagi 100%. Sementara masih banyak yang tidak tahu bagaimana berharganya lamun di lautan bagi manusia. Degradasi luas padang lamun disebabkan oleh faktor alami juga faktor manusia, terutama di lingkungan pesisir. Faktor alami tersebut antara lain gelombang dan arus yang kuat, badai, gempa bumi, dan tsunami. Faktor alami ini pelak tak dapat dihindari. Lantas bagaimana dengan faktor manusia? Faktor menusia yang mengganggu lamun berupa reklamasi pantai, pembangunan fisik, pengerukan dan penambangan pasir, pencemaran, penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing). Nah, kegiatan manusia yang bersifat merusak lamun inilah yang harus diminimalisir bahkan dihentikan.

Apa yang bisa diupayakan untuk menjaga lamun?

Upaya menjaga lamun sudah diinisiasi pemerintah, khususnya Direktorat Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Laut (KKHL - KKP). Tahun lalu, Pemerintah menyatakan bekerja sama dengan WWF-Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor dalam Siaran Pers No. SP. 2391A/DJPRL.0/XI/2017. Kerjasama dengan membentuk Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP Indonesia) ini tentu harus mendapat dukungan dari pihak lain. Terutama kita sebagai masyarakat.

Pertanyaannya apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menjaga lamun?

Pertama adalah edukasi dan sosialisasi. Poin penting yang banyak diungkapkan dalam pembahasan mengenai lamun adalah KETIDAKTAHUAN masyarakat akan pentingnya lamun. Maka hal pertama yang bisa dilakukan untuk menjaga lamun adalah edukasi dan sosialisasi. Pemerintah memang telah melakukan edukasi dan sosialisasi, tetapi tentu tidak dapat menjangkau semua orang. Maka tugas kita sebagai individu yang mengerti, melakukan edukasi dan sosialisasi. Edukasi bisa dilakukan siapa saja dan melalui media apa saja. Mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sekitar. Edukasi dengan cara langsung, melalui media sosial, semuanya bisa dilakukan. Bila semua masyarakat teredukasi pentingnya lamun, kesadaran diri untuk menjaga lamun akan terbentuk dengan sendirinya.

Kedua terkait pencemaran. Harus diakui, laut kita tercemar. Tumpahan minyak, batubara, limbah industri, plastik, dan banyak faktor lainnya. Beban laut akan pencemaran ini sangat tinggi. Maka sebagai masyarakat awam, membuang sampah pada tempatnya, melakukan daur ulang sampah menjadi langkah kecil yang nyata bagi keselamatan laut. Dan berimbas positif pada kondisi lamun.

Ketiga berhubungan dengan ancaman lamun karena penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing). Selain pemerintah harus terus sosialisasi, memonitoring, melakukan tindakan sesuai kebijakan, juga mengevaluasi kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai masyarakat, terutama yang memiliki ikatan dengan kelompok nelayan atau tinggal di kawasan pesisir, harus ikut melakukan sosialisasi bagaimana menangkap ikan dengan cara yang baik. Bagaimana lamun dan duyung saling terhubung untuk kelangsungan kehidupan laut. Bagaimana ikan akan habis bila lamun dan duyung punah. Dan serba serbi lamun, duyung juga kelangsungan hidup di laut.

Upaya sederhana tersebut sedikit banyak akan membantu laut kita tetap makmur dengan lamun yang subur. Kemudian, untuk yang berkaitan dengan reklamasi pantai, pembangunan fisik, pengerukan dan penambangan pasir harus dikembalikan pada aturan perundangan. Reklamasi misalnya, harus benar-benar mengacu pada Peraturan Presiden no. 122 tahun 2012 tentang Reklamasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil.
***


Perlu kita sadari, peran kita sebagai masyarakat untuk ikut menyelamatkan lamun, duyung juga kelangsungan hidup laut sangat berarti. Maka penting untuk tidak terhenti. Jaga mereka sepenuh hati. Jangan sampai kita menyesal nanti. Yuk selamatkan lamun sebelum manyun!



PS. untuk mengetahui referensi yang saya gunakan, silakan klik disini.



6 comments:

  1. wah ini lengkap banget informasinya. mantap mbak. terima kasih telah berkunjung. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mbaak.. Semoga apa yg kita tulis bermanfaat mbaak.. :)
      Makasih jg sudah mampir hehe

      Delete
  2. Miriss yaa mbaak kalau liat kondisi dugong dan lamun yang kian kritis dan memprihatinkan, . . Yuk sama sama dukung dan aktif memberikan informasi mengenai usaha konservasi kelestarian dugong dan padang lamun di indonesia. Makasih sharingnya mbaak 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, melihat sebaran dan kondisinya yg kurang sehat ini jadi waswas gimana kondisi habitat laut kita.
      Sama sama mbak, thankyou sudah mampir di blog ini.
      Btw mbak Lucky anak ITS? Jurusan apa?

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih mas Affan.. Terimakasih juga sudah mampir. :)

      Delete

Thank you for leaving a comment. Your comment will appear soon.