Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?

Kisah Survivor dan Pendamping Multiple Myeloma

Pernah nggak kepikiran orang orang terdekatmu menderita kanker dan kamu harus jadi pendamping? Jujur, aku nggak pernah mikir sekalipun. Dan aku berharap nggak akan menghadapi situasi seperti itu. Kenapa tiba-tiba aku nulis begini? The reason is.. Kemarin, aku menerima undangan kegiatan yang diselenggarakan Unit Penanganan Kanker di Rumah Sakit Adi Husada Undaan Surabaya. Mendengar kisah dari para survivor dan pendamping kanker Multiple Myeloma.

Komunitas-Multiple-Myeloma
~Together Stronger~

Sekilas Tentang Kanker Multiple Myeloma

Kalau kemarin aku nggak ikut berkumpul dengan komunitas Multiple Myeloma Indonesia (MMI) yang juga turut serta hadir, aku mungkin tak akan pernah tahu kanker Multiple Myeloma. Dari keterangan dr Made, spesialis penyakit dalam di Adi Husada Cancer Center, Multiple Myeloma adalah jenis kanker yang terbentuk oleh sel plasma ganas. Sel plasma tersebut menghasilkan antibodi, yang istilahnya immunoglobulin, yang membantu tubuh menyerang dan membunuh kuman. Nah kanker darah (MM) ini mencegah tubuh untuk memproduksi antibodi secara normal. Imbasnya, tubuh kehilangan sistem kekebalan tubuh. Tubuhpun menjadi lemah dan rentan terhadap infeksi.

Gejala awal Multiple Myeloma bisa jadi terlihat sepele. Nyeri di tulang. Karena Multiple Myeloma umumnya mengenai ginjal dan tulang. Sel Myeloma bisa tumbuh subur pada sumsum tulang dan penderita bisa mengalami nyeri tulang, anemia, patah tulang, imunitas menurun, gejala penyakit hypercalcemia, insufisiensi ginjal dan proteinuria. Untuk aku yang tak tahu ilmu kedokteran sama sekali, hal-hal ini sangatlah asing. Dan mungkin ini yang dirasakan banyak penyitas kanker jenis ini saat pertama kali mengetahui penyakitnya. Banyak yang tidak tahu harus kemana. Menurut dr Made, awalnya mungkin banyak yang akan menuju ke dokter tulang, mengira mereka hanya sakit tulang biasa.

Dan karena kanker jenis ini, Multiple Myeloma, cukup jarang terjadi, keberadaan Multiple Myeloma Indonesia (MMI) sangatlah membantu mereka untuk kuat dan tidak merasa “berjuang” sendiri. MMI menjadi wadah informasi dan pengalaman antar anggota. Multiple Myeloma Indonesia (MMI) ini baru berdiri pada 2016. Dan tujuan dibentuknya komunitas ini sungguh mulia. MMI memberikan informasi akurat tentang pengobatan dan perawatan Multiple Myeloma.

Well, kalian bisa dengan mudah googling seputar kanker Multiple Myeloma juga Multiple Myeloma Indonesia (MMI) lebih lanjut. Or bisa langsung datang ke Rumah Sakit Undaan Unit Cancer Center atau mereka menyebutnya AHCC (Adi Husada Cancer Center). Semakin cepat Multiple Myeloma ditangani, maka akan jauh lebih baik.


Cerita Para Survivor dan Pendamping Kanker Multiple Myeloma

Ini yang kemarin memberikan pelajaran berharga. Bagaimana sikap seseorang yang dinyatakan Multiple Myeloma dan bagaimana seharusnya peran pendamping.

Awalnya, saat aku datang pertama kali. Aku sama sekali tak menyangka kalau para narasumber adalah survivor dan pendamping Multiple Myeloma. Aku pikir semuanya adalah dokter. Ternyata tidak. Hanya dokter Made Putra Sedana SpPD, K-HOM yang memang spesialis Oncology Hematology di AHCC. Iya sih Aku terlambat, jadi tidak mendengar perkenalan mereka. Maafkan..
dokter-spesialis-ongcology-Adi-Husada-Cancer-Center
dr. Made menggunakan baju berwarna biru, baliau adalah spesialis di AHCC
Aku ingat, Pak Putu bercerita. Ketika beliau dinyatakan menderita Multiple Myeloma beliau masih aktif di kantor. Beliau seperti tak merasakan sakit apapun. Namun ada aktivitas aktivitas yang beliau batasi. Seperti, beliau saat masih belum mengetahui sakit, beliau sering kepasar untuk mengambil foto. Beliau suka sekali dengan fotografi. Dan mengabadikan moment-moment di pasar tradisional menjadi kegiatan yang beliau lakoni. “Berdiri di dekat tempat sampah juga nggak masalah”, kata beliau. Tapi setelah beliau tahu, beliau menjadi penyitas kanker Multiple Myeloma, beliau mulai menghindari hal tersebut. Beliau sadar, yang bisa menyembuhkan diri beliau adalah beliau sendiri. Peran dokter “hanya sebagai” dokter. Maksudnya adalah, beliau kemudian rutin membuat catatan-catatan rekam mediknya sendiri. Beliau yang mulai membatasi makanan-makanan, dan aktivitas-aktivitas itu sendiri dengan ketat. Sungguh beliau terlihat begitu tegar.

Kemarin, Pak Putu juga didampingi istrinya, yang istilahnya adalah pendamping. Beberapa pendamping juga tampak hadir. Mereka mengisahkan bagaimana mereka sebagai pendamping yang harus ekstra sabar menghadapi para penyitas kanker Multiple Myeloma. Dan sungguh aku salut pada mereka yang benar-benar ikhlas menjaga para keluarganya. Tidak meninggalkan mereka sendirian. Dan aku rasa, disinilah poin pentingnya.

Ketika kita tahu ada orang disekitar kita adalah penyitas kanker, apapun itu jenisnya, tidak harus Multiple Myeloma, karena jenis kanker itu cukup sekali, kita yang berada disampingnya harus dengan sabar mendampingi mereka. Ikhlas mendampingi mereka. Jangan tinggalkan mereka sendiri. Pendamping para penyitas kanker sangat bermanfaat bagi para penyitas dan demi kesembuhannya.

Termasuk aku juga salut pada Rumah Sakit Adi Husada Undaan Surabaya yang menghadirkan unit pusat kanker terintegrasi Surabaya. AHCC atau lengkapnya Adi Husada Cancer Center mengawal kesembuhan para penyitas kanker dari mulai deteksi dini hingga treatment bahkan juga post care, alias mereka yang sudah pulih namun masih membutuhkan bimbingan. Mereka melayani itu semua. Dan di Indonesia timur, Adi Husada Cancer Center adalah yang terlengkap dan terintegrasi.

Penanganan Kanker Terintegrasi Surabaya

Adi-Husada-Cancer-Center
Ruang Konsultasi di Lantai 2 AHCC
Rumah Sakit Adi Husada Undaan Surabaya. Aku berkali-kali ke rumah sakit ini. Sewaktu kakak iparku dioperasi dan saat kakakku melahirkan, plus ketika harus sesekali datang untuk imunisasi keponakan. Sejak 2015 aku mulai menapakkan kaki disana. Tapi, aku tak pernah sekalipun tahu kalau rumah sakit ini punya unit khusus penanganan kanker. Baru beberapa bulan yang lalu, aku mengetahuinya saat mereka mengadakan acara self healing yoga.

Dan kemarin, lewat undangan seorang yang aku kenal, aku menjejaki lantai demi lantai unit pusat kanker terintegrasi Surabaya itu. Aku banyak membagi fotonya lewat google review. Termasuk ruang-ruangannya yang nyaman. Mereka bilang, “memang dikonsep seperti dirumah sendiri”. See it! Klik review disamping bintang, cari Eta Rahayu, aku menyertakan banyak foto yang aku ambil di AHCC.




Well, semoga informasi ini bermanfaat bagi semua yang membutuhkan. Bagi para penyitas kanker, kalian tidak sendirian. Jangan pernah berfikir kalau kalian sendiri. Dan buat kalian para pendamping, bersabarlah, ikhlas dan tetap menjadi pendamping yang baik bagi mereka yang membutuhkan.


Last but not least, semoga kita semua selalu sehat ya! Dan mari bersyukur. Itu saja. Itu cukup.


Share:

6 comments:

  1. Seru yah kak hadir dan sharing dgn para survivor. Wah, kita harus menjaga tubuh kita nih kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, jadi bener bener bersyukur sama sehat. Kudu jaga pola makan sama aktivitas nih. :)

      Delete
  2. Riset tentang kanker dan cancer center sangat membantu dalam penanganan dan pengobatan cancer...Moga-moga AHCC bsa memberikan kontribusi terhadap penderita penyakit yang menakutkan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Semoga penyitas kanker segera pulih dan bisa ditangani dengan baik ya mba :)

      Delete
  3. Thank you for sharing mbak. Semoga pendamping dan yang didampingi bisa ikhlas dan sabar ya. Salam untuk semua. Kanker mempunyai ceritanya sendiri bagi saya, Mbak. Speechless. Saya terdiam, tak tahu harus berkata apa, dan berusaha menahan air mata tidak jatuh di pipi. Itulah reaksi pertama saya ketika mendengar vonis kanker papa saya. Walau akhirnya air màta menetes juga di pipi.kata papa jika ini jalan untuk kembali kepada-Nya,insya allah akan saya jalani dengan ikhlas. Kami sekeluarga besar support. Kami lakukan yang bisa lakukan selama papa nyaman. Karena faktor nyaman ini sangat penting. Jadi kami tidak memaksa papa harus ini dan itu. Tapi satu pelajaran buat saya dari sakitnya papa yaitu beliau tidak pernah mengeluh dengan sakit yang dirasanya. Semua diterimanya dengan ikhlas. Kata papa ini yang terbaik dari Allah swt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah.. Saya speechless juga ini baca cerita mbak. Tetap tabah dan ikhlas ya mbak, semoga Papa mba Viedyana segera diberi kesembuhan.. Amiin..

      Delete

Terimakasih sudah komentar. Komentar akan muncul setelah proses moderasi. :)

Popular Posts

Labels

Blog Archive