Suatu siang di pertengahan April. Pikiranku nge-blank beberapa detik saat membaca chat dari tukang service: “Maaf laptop trouble di mainboard. Saya tidak bisa memperbaiki”. Seketika badanku terasa limbung. Telapak tanganku dingin, meski di luar matahari sedang garang-garangnya. Hari itu, aku seakan dipaksa mengaku, “laptopku benar-benar sudah rusak”.
Sekitar pukul 10, aku memang membawa laptop abu-abu hitam itu ke tokonya. Pagi itu, entah kenapa, laptopku tidak mau menyala saat tombol power ditekan. Padahal, hari sebelumnya masih normal saat kupakai untuk mengedit video. Tiba-tiba saja, "napasnya" berakhir. Laptop yang sudah menemaniku selama delapan tahun itu tumbang, pamit tanpa kata.
Padahal, hari-hari itu adalah waktu krusial. Kurang dari sepekan, kelas webinar yang aku handle di Universitas Terbuka harus digelar. Untuk kali pertama, aku dipercaya menjadi pembimbing proposal penelitian sebanyak 15 mahasiswa.
Mengajar lewat ponsel sebenarnya bukan hal mustahil. Namun, beberapa fitur penting tidak muncul, seperti skor pengecekan AI juga similaritas tulisan mahasiswa. Di layar ponsel, ruang kelas itu terasa sempit dan serba terbatas. Laptop tetap menjadi perangkat yang paling maksimal untuk proses pembimbingan.
Masalahnya, aku tinggal di pelosok Kabupaten Wonogiri. Di desa kecil ini tak ada toko laptop terpercaya. Untuk sampai di pusat kota saja butuh waktu satu jam. Apalagi jika harus beli laptop ke Solo atau Jogja, waktunya bisa habis seharian.
Sementara, kelas kian dekat dan karena alasan pribadi, aku sedang tak punya cukup waktu untuk keluar kota kali ini. Pilihanku pun mengerucut. Meski was-was, tidak ada cara lain, aku harus beli laptop via online.
Klik Banyak Toko Hanya Untuk Mencari Penjual yang Memakai Ekspedisi JNE
Esoknya, aku searching toko laptop di “ijo” dan “orange”. Di pasar daring itu, aku menemukan setidaknya lima hingga tujuh online shop yang menjual laptop dengan spesifikasi dan budget yang aku mau. Toko itu rata-rata ada di Jakarta, Bekasi atau Bandung.
Sebelum beli, aku pastikan mengenai estimasi pengiriman. Karena hari itu Hari Sabtu, aku perlu memastikan apa toko bisa mengirimkan hari itu juga. Agar paling tidak Selasa sore laptop sudah aku setting untuk webinar. Syukurlah, kisaran pukul 09.40-an aku menemukan satu toko yang bisa mengirimkan hari itu juga.
Aku pelajari benar deskripsi yang mereka tuliskan. Ada beberapa hal yang harus aku pastikan, terutama ekspedisinya. Selain karena harga laptop tidak murah, laptop termasuk barang mudah pecah, dan bisa saja rusak atau penyok saat pengiriman.
Untungnya, di deskripsi produk, pihak toko sudah menuliskan info kalau pengiriman memakai JNE. Saat proses checkout-pun aku double check ke adminnya, apakah pilihan pengiriman perlu diubah menjadi JNE, karena biasanya default pengiriman adalah ekspedisi internal e-commerce itu. Syukurlah, si penjual yang ada di Jakarta Utara itu sudah memilih dan mengatur JNE sebagai ekspedisi langganannya.
Bisa dibilang, catatan JNE pada deskripsi laptop itu menjadi salah satu alasan utama mengapa aku membeli laptop di toko ini. Counter #JNE di kecamatanku dekat dari rumah, 4 menit saja. Jadi, kalau nanti sampai di konter sudah sore, dan pengantaran masih dijadwalkan besoknya, aku bisa ambil sendiri ke konter.
Alasan lainnya, karena aku percaya layanan JNE tak pernah mengecewakan selama ini. Aku pernah mengirim satu paket teh ukuran besar (10 box, ukuran 50cmx25cm) ke Surabaya, kursi kerja putar, STNK motor, bahkan juga pasport ke Jogja. Semua sampai tujuan tanpa kendala.
Kepercayaanku pada JNE ini rupanya bukan sekadar perasaan pribadi. Pada 2023, Christina Dewi dan rekan-rekannya meneliti 100 pelanggan JNE di Jakarta. Mereka menyimpulkan jika kualitas layanan, kepercayaan, kepuasan pelanggan berperan membentuk loyalitas pelanggan. Aku mungkin berada di luar sampel penelitian itu, namun pengalamanku mengarah pada kesimpulan yang sama. [lihat jurnal]
JNE TRUCKING: Mengantarkan Laptop Sampai Ke Pelosok
Jika ilmu bisa menjangkau siapa saja lewat ruang-ruang virtual, berbeda dengan laptop yang membutuhkan rantai logistik yang andal. Beberapa saat setelah aku membayar tagihan, nomor resi sudah muncul di layar. Disana tertera JNE Trucking (JTR) sebagai layanan yang akan bergerak membawa calon laptopku dari Jakarta.
Sejak itu, aku rajin membuka halaman pelacakan di web JNE. Entah mengapa, ada rasa cemas yang sulit dijelaskan. Bagaimanapun, laptop termasuk elektronik yang sangat rentan rusak. Apalagi, harus bergerak ratusan kilometer. Sehari sebelum estimasi kedatangan, aku melihat paket sudah sampai di Solo. Rasa khawatirku perlahan menipis. Sistem pelacakan JNE ini membantu hati tetap tenang, karena tahu posisi paket kita.
Benar saja, esoknya, tepat setelah azan Zuhur berkumandang, kurir JNE langgananku tiba di depan rumah. Aku yang sudah menunggu sejak pagi langsung sumringah. Paket berisi laptop itu akhirnya sampai, kurang dari 3 hari.
Belakangan, aku baru tahu kalau JTR itu layanan pengiriman berbasis moda transportasi darat dan laut. Layanan JNE ini dirancang untuk pengiriman antarkota dengan tarif yang lebih ekonomis. Barangkali, karena alasan itulah toko tempatku membeli laptop menjadikan JNE sebagai pilihan pengiriman.
Aku tak tahu apakah si seller itu punya JNE Loyalty Card atau tidak. Namun, melihat JNE dituliskan khusus pada deskripsi barang, aku bisa paham kenapa banyak pelaku usaha yang setia pada ekspedisi yang telah hadir 35 tahun ini. JNE tak hanya menawarkan jasa pengiriman, tapi juga membangun hubungan jangka panjang lewat program loyalitas dan pengalaman layanan yang dapat dipercaya.
Syukurlah, paketku datang dalam kondisi aman. Kardusnya masih rapi, tanpa penyok sedikitpun. Rasanya lega bukan main. Aku lalu minta tolong keponakanku, Manda, untuk merekam proses unboxing paket itu. Dia mengiyakan. Sambil tersenyum ia juga berkata, “Untung pakai JNE, Tan! Kayaknya baru kemarin deh check out-nya, udah sampai aja.”
Aku ikut tersenyum. Kalimat sederhana itu benar adanya. Untuk pakai JNE! Karena, paket yang sampai hari itu bukan sekadar laptop, tetapi kesempatan untuk menggelar ruang kelas daring dan menjaga asa belajar dari berbagai pelosok negeri.
Berkat JNE, Asa Belajar dari Pelosok Tetap Menyala
Untung pakai JNE! Kelas awal penelitian itu bisa dilakukan tepat waktu. Laptop baruku menjadi titik temu bagi para mahasiswa berbagai penjuru negeri. Dari desa di perbatasan Jawa Tengah, aku bisa bertemu-sapa secara virtual dengan mahasiswa dari Samarinda, Kutai Timur, Kotabaru, Lombok, Kupang, Soppeng, hingga Kota Biak Numfor di Papua.
Mereka memang tinggal di wilayah yang berbeda-beda, namun semangat untuk terus belajarnya sama. Mereka berusaha meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan tinggi. Di balik layar, masing-masing membawa asa untuk meraih mimpi yang lebih baik.
Di titik ini, #JNE bukan hanya sekadar mengantarkan laptop. Namun juga bergerak bersama memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Seandainya laptopku datang terlambat, atau mungkin dalam kondisi rusak dan harus melalui proses klaim panjang, kelas kemungkinan tertunda. Proses belajar-mengajar bagi mahasiswa dan tutor menjadi macet. Selain itu, mutu pendidikan yang berpeluang cepat ditingkatkan menjadi lamban. Untungnya itu tidak terjadi. JNE bahkan tetap melangsungkan pengiriman di akhir pekan, saat waktu kerja umumnya rehat.
Mungkin yang diantarkan JNE hanyalah sebuah laptop. Namun, bersama laptop itu turut sampai kesempatan untuk mengajar bagi tutor sepertiku, asa belajar para mahasiswa dari berbagai daerah, dan keyakinan bahwa jarak tidak seharusnya membatasi pendidikan. Di balik perjalanan sebuah paket, ada roda ekonomi yang ikut bergerak, ada logistik yang menghubungkan pusat dan pelosok, dan ada semangat-semangat kecil yang terus dijaga agar tetap menyala. Sebab ketika semangat belajar saling terhubung, yang sesungguhnya sedang bergerak bukan hanya individu-individu di depan layar, melainkan pendidikan dan masa depan Indonesia itu sendiri.



Comments
Post a Comment
Terimakasih sudah komentar. Komentar akan muncul setelah proses moderasi. :)